SWAPE UP UNTUK MEMBACA ARTIKEL
1.170 Butir Telur, Kado Natal Untuk Penderita Stunting di Sikka

Iklan

 


Yeremias Yosef Sere
23 Des 2020, 15.24 WIB
News

1.170 Butir Telur, Kado Natal Untuk Penderita Stunting di Sikka

Sekretari Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Vicky da Gomez, menyerahkan bantuan satu papan telur kepada orang tua anak penderita stunting. (Foto : Istimewa)


Sikka, Floreseditorial.com - Para pekerja media di Kabupaten Sikka, yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) menyalurkan bantuan berupa 1.170 butir telur ayam kepada anak-anak penderita mengalami stunting.


Penyaluran bantuan telur ayam untuk 32 anak stunting Itu, berlangsung di Rumah Pemulihan Stunting, yang berlokasi di eks Puskesmas Kopeta di Perumnas, Maumere, pada Selasa (22/12/2020).


Hal ini dilakukan para pekerja media, mengingat kondisi stunting di Kabupaten Sikka yang sudah mencapai angka 4.010 anak. Namun, sejauh ini dalam penanganan stunting, belum ada keberpihakan anggaran, yang bersentuhan langsung seperti pemberian makan tambahan dan pembelian telur ayam, untuk pemenuhan protein anak stunting.


Sekretaris AWAS Sikka, Vicky da Gomez saat menyerahkan bantuan tersebut mengatakan, bantuan ini merupakan gerakan spontanitas dari para wartawan karena merasa peduli dan prihatin atas kecilnya porsi anggaran untuk anak-anak stunting di Kabupaten Sikka.


"Ini kado Natal untuk anak-anak stunting. Dari kekurangan, kami berbagi dengan anak-anak stunting. Semoga mereka tumbuh sehat, kuat, dan cerdas," sebut wartawan suarasikka.com ini.


Ia menjelaskan, bantuan telur ayam kepada anak-anak stunting ini, didorong oleh tingginya jumlah angka stunting di Kabupaten Sikka yang sudah mencapai 4.010 anak. Selain itu, lanjutnya, rendahnya porsi anggaran pengadaan telur ayam untuk anak stunting pada tahun 2021.


"Dari hitungan teknis Dinas Kesehatan, anggaran pengadaan telur ayam senilai Rp.2,1 Milyard. Namun APBD Sikka hanya mengakomodir Rp.100 juta, yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU)," jelasnya.


Maria Falentina Manggo, yang mengikutsertakan anaknya Junero dalam program Pemulihan Stunting sejak Juli 2020 lalu, menangis haru ketika menerima bantuan tersebut dari para wartawan. Ia tak menyangka, para awak media bisa memberikan perhatian serius kepada anak-anak stunting.


Baginya, wartawan hanya bertugas menulis berita saja. Namun, lanjutnya, ternyata wartawan juga peduli dengan kondisi sosial kemanusiaan, seperti anak stunting.


"Terima kasih banyak sudah bisa membantu anak kami," ungkapnya sambil menangis di Rumah Pemulihan Stunting.


Lebih lanjut Ia menambahkan, program pemberian makanan tambahan kepada anak stunting akan berakhir 28 Desember 2020 mendatang. Sehingga, Ia bingung mau melanjutkan program ini di rumah sebab keterbatasan finansial. Karena itu, kata Dia, bantuan telur 1 papan yang diterimanya, akan sangat membantu asupan protein pasca selesainya program ini.


Ia juga mengaku, selama mengikuti program di Rumah Pemulihan Stunting, ada perubahan besar pada diri anaknya yang berusia 1,6 tahun, dimana anaknya semakin banyak makan, yang membuat berat badannya semakin naik, demikian pun juga dengan tinggi badan anaknya. Karena, lanjutnya, anaknya bersama anak-anak stunting lainnya yang mengikuti program ini, mendapatkan asupan gizi yang baik seperti telur, daging serta buah-buahan dan sesekali ada makanan variatif.


Sementara itu, Petrus Herlemus, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka menjelaskan, persoalannya bukan berapa banyak butir telur yang diberikan. Namun, menurutnya, makna yang didalami, para wartawan tergerak hatinya dengan segala keterbatasan yang ada untuk mau membantu anak-anak stunting.


Ditemui di ruang kerjanya, pada Rabu (23/12/2020) Ia mengatakan, pekerjaan untuk membantu memulihkan stunting ini, tak bisa dilakukan oleh satu atau dua pihak saja melainkan harus multi stakeholder sesuai dengan yang disampaikan pemerintah pusat yakni harus konvergensi stunting.


"Bicara konvergensi, berati harus melibatkan seluruh aspek masyarakat untuk membantu anak-anak stunting keluar dari stunting," jelasnya.


Menurutnya, 99% dari 4.010 anak di Kabupaten Sikka yang mengalamai stunting tersebut, berasal dari keluarga yang sederhana. Sehingga, lanjutnya, hal ini menjadi konteks dan mereka membutuhkan uluran tangan dari semua pihak.


Setelah berakhirnya program pemulihan stunting pada tanggal 28 Desember 2020 nantinya, kata Dia, program ini akan dimulai kembali pada tanggal 15 Januari 2021 dengan total 15 anak stunting dan menggunakan dana Rp.100 juta hasil rekomendasi yang sudah ditetapkan oleh DPRD Sikka.


"Saya atas nama Dinkes Sikka, mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman wartawan, karena dalam kondisi keterbatasan, teman-teman bisa datang untuk membantu anak-anak stunting. Mudah-mudahan, pihak yang lainnya juga tergerak hatinya untuk membantu anak stunting keluar dari situasi ini," pungkasnya.


Pantauan floreseditorial.com, lebih dari 20 orang wartawan mendatangi Rumah Stunting, pada Selasa (22/12/2020) sekitar pukul 10.30 Wita dan disambut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan, Martina Pali dan sejumlah pengelola Rumah Stunting. Para orang tua anak stunting juga ikut menyambut kedatangan para wartawan dengan menyerukan yel-yel Salam Sehat.


Tampak mereka begitu semangat sambil menggendong anak mereka masing masing. Setiap anak stunting mendapatkan 1 papan telur ayam. Sementara, ketentuan untuk mengkonsumsi telur ayam tersebut, sesuai petunjuk teknis pengelola Rumah Pemulihan Stunting.