Advertisement

Benediktus Kia Assan
23 Des 2020, 18.36 WIB
News

“Gunung di sana masih erupsi, jo kalau di sini bunyi-bunyi tetap ada, kami takut”

 

Sejumlah pengungsi korban erupsi Gunung Ile Lewotolok (Antara Foto)


Lembata, floreseditorial.com -  Pengungsi Erupsi Gunung Ile Lewotolok, di kabupaten Lembata, mengeluhkan maraknya aktivitas bermain petasan dan meriam di Kota Lewoleba.  Aktivitas yang rutin dilakukan jelang perayaan Natal dan Tahun Baru ini menimbulkan trauma para bagi para pengungsi. 


Beberapa pengungsi bahkan ketakutan mendengarkan dentuman dari petasan dan Meriam yang kerap dimainkan. 


Hendrikus, salah satu  pengungsi korban Erupsi Ile Lewotolok menuturkan, Istrinya sangat ketakutan saat mendengar bunyi ledakan dari petasan dan meriam yang dimainkan warga menjelang perayaan Natal dan tahun baru.


“Saya punya istri takut sekali. Bunyi ledakan itu bikin takut, karena bunyi itu mirip dengan letusan dari gunung. Gunung di sana masih erupsi jo, kalau di sini, bunyi-bunyi tetap ada, kami takut, ” ujar Hendrikus, saat ditemui di salah satu tenda penyintas di posko utama, Eks Kantor Bupati Lembata, Rabu sore (23/12).


Atas keluhan tersebut, Kapolres Lembata AKBP. Yoce Marten menegaskan, pihaknya akan menertibkan para penjual petasan, meriam dan kembang api yang tidak memiliki ijin.


“Kita akan tertibkan penjual petasan yang tidak punya ijin. Untuk langkah awal kita akan  pantau keliling dan memberikan imbauan. Dan yang tidak punya izin, kita tertibkan,” ujar Kapolres Lembata saat ditemui floreseditorial.com di Posko Utama TDB Erupsi Ile Lewotolo, Selasa (22/12). 


Ia meminta dukungan semua pihak terutama keluarga untuk membangun empati dengan para korban Erupsi, dengan tidak bermain petasan yang memicu bunyi-bunyi ledakan yang menimbulkan trauma.


“Kami minta dukungan kita semua agar membangun empati kita dengan sesama  yang lagi mengungsi. Ini bukan suasana jelang nlNatal yang biasa. Di tengah kita, ada banyak sesama yang datang ke sini, karena bencana. Tentu banyak yang trauma,” jelasnya.


Kata Kapolres, jika imbauan tersebut tidak diindahkan, pihaknya akan melakukan penertiban. 


“Kita minta dukungan semua pihak untuk berempati, ” ujar Kapolres Lembata, AKBP. Yoce Marten.


Pantauan floreseditorial.com, aktivitas bermain kembang api, petasan dan meriam terutama meriam kaleng marak dilakukan di Kota Lewoleba. Tidak hanya siang hari, hingga malam hari pun masih terdengar bunyi letusan meriam yang dimainkan.