Advertisement

 


Valerius Isnoho
31 Des 2020, 12.39 WIB
Headline

Helikopter ke Wae Rebo, HPI: Pemkab Manggarai dan BOPLBF Jangan Cuci Tangan

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia - Manggarai, Yohanes Jehabut. (Foto: Ist)


Manggarai, Floreseditorial.com - Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai, mengecam keras tindakan wisatawan yang berkunjung ke Kampung Wisata Wae Rebo tanpa izin, apa lagi menggunakan helikopter.


Ketua HPI Manggarai, Yohanes Jehabut, menjelaskan, kunjungan wisatawan ke Wae Rebo yang menggunakan helikopter, merupakan upaya menghancurkan citra Kampung Wisata Wae Rebo sebagai warisan budaya dunia.


Ia menilai, tindakan tersebut juga merusak citra Pariwisata Flores secara keseluruhan, mengingat mereka juga mengunjungi Daya Tarik Wisata Kelimutu.


"Wisatawan yang berkunjung ini telah secara sengaja melecehkan Kampung Adat Wae Rebo. Dengan demikian, juga melecehkan kesakralan Budaya Manggarai. Ini lebih dari sekadar isu dunia pariwisata, tetapi juga bagaimana wisatawan memandang Budaya Manggarai beserta orang-orang di dalamnya,” kat Yohanes Jehabut, saat dimintai tanggapannya oleh Floreseditorial.com, Kamis (31/12/2020).


Menurutnya, sikap Pemda Manggarai dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF), dua perpanjangan tangan pemerintah dalam bidang pariwisata yang mengaku tidak bertanggung jawab atas masukannya helikopter ke Wae Rebo pada Senin, (28/12/202) lalu, adalah upaya ‘cuci tangan’ atas peristiwa tersebut.


“Seakan-akan bahwa dengan ketidak-tahuan mereka akan perisitiwa itu, maka mereka tidak bertanggung jawab. Ini adalah bukti bahwa baik Pemda maupun BOPLBF hanya ingin mengeruk untung dari dunia pariwisata. Ketika ada persoalan yang mengancam citra pariwisata itu sendiri, mereka lepas tanggung jawab,” tandasnya.


Ia mengatakan, BOPLBF dan Pemda Manggarai sama-sama hadir dalam peresmian Helipad di Wae Rebo beberapa waktu lalu.


“Tentu saja agendanya mereka tahu. Mereka bertanggung jawab mengusut siapa wisatawan dan pihak-pihak yang berperan mendaratkan helikopter di Wae Rebo, untuk kepentingan wisata. Jika tidak disusut dan diumumkan hasilnya, maka prasangka bahwa pemerintah hanya memanen apa yang tidak mereka tanam itu benar adanya,” tegasnya.


Keberadaan Helipad di Wae Rebo, kata Yohanes, telah terbukti disalah gunakan. Maka HPI meminta pemerintah dan BOPLBF selaku pemrakarsa, wajib mengevaluasi kembali urgensi keberadaan Helipad di Wae Rebo. 


“Wae Rebo harus tetap lestari,” tukasnya.


Untuk diketahui, sebuah video perjalanan wisata ke Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggunakan helikopter beredar luas di media sosial beberapa waktu lalu.


Dalam video berdurasi 42 detik tersebut, lima orang anggota keluarga yang berpakaian serba putih, tampak mengunjungi Kampung Adat Wae Rebo menggunakan helikopter. 


Penelusuran Floreseditorial.com, video tersebut diunggah oleh, Firman Syah, fotografer wisatawan tersebut yang berdomisili di Labuan Bajo. Melalui sambungan telepon, Firman, mengaku telah melakukan perjalanan wisata ke Wae Rebo menggunakan helikopter. Jasanya digunakan rombongan wisatawan tersebut untuk dokumentasi perjalanan. 


“Betul, kami lakukan perjalanan wisata ke Wae Rebo pakai helikopter, tadi (28/12/2020),” jawab Firman singkat.


Menurut Firman, wisatawan tersebut merupakan satu anggota keluarga. Mereka melakukan perjalanan Labuan Bajo - Wae Rebo hanya beberapa jam, pergi dan pulang. Namun sayang, Firman, tidak bisa memberitahu identitas lengkap rombongan keluarga tersebut dengan alasan menjaga privasi tamu.