Iklan


 

Benediktus Kia Assan
19 Des 2020, 17.25 WIB
News

Isi Waktu Luang di Pengungsian, Para Mama Gulung Benang

Mama Elisabeth Peni dan sejumlah Mama dari Desa Lamatokan sedang menggulung benang sebagai bahan dasar menenun sarung, di Posko Pengungsian Aula Kantor Camat Nubatukan. (Foto: Ben Kia Assan)


Lembata, Floreseditorial.com
- Untuk mengisi waktu luang selama berada di Posko Pengungsian Erupsi Gunung Ile Lewotolok, para Mama menyibukkan diri dengan menggulung benang sebagai bahan dasar untuk menenun sarung. Mama-mama dari Desa Lamatokan, Kecamatan Ile Ape Timur nampak sibuk menggulung benang di teras Aula Kantor Camat Nubatukan. 


Ide pengadaan logistik benang tersebut diinisiasi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Lembata jelang akhir masa Tanggap Darurat Bencana (TDB) I, pada 12 Desember 2020.


Menurut Ketua FPRB Lembata, Andris Koban, pihaknya mengidentifikasi dan menemukan adanya harapan sejumlah Mama untuk bisa beraktivitas, seperti mengulung benang.


"Mama-mama itu minta benang. Mereka sudah biasa menenun, dan salah satu aktivitas permulaan adalah menyiapkan bahan termasuk menggulung benang. Makanya, kita cari jalan, koordinasi keluar. Dapat respon dari FPRB NTT. Melalui FPRB NTT, kita tahu ada dukungan dari Poltekes Kupang. Kita sangat apresiasi dukungan ini," ujar Andris Koban, saat ditemui floreseditorial.com, Jumat (18/12/2020).


Sebanyak 3.020 pcs benang dari 11 warna dikirim ke Lembata dan didistribusikan Mama-mama di 19 posko.


"Jadi, kita bagi semua benang dari tiap warna itu ke semua posko. Rata-rata dapat sekitar 90-100 gulung. Tim Relawan FPRB yang terlibat mendistribusikan," tambah Andris Koban.


Pantauan floreseditorial.com di Posko Kantor Camat Nubatukan, sebanyak 20 orang Mama dari Desa Lamatokan langsung menggulung benang usai diserahterimakan Relawan FPRB Lembata kepada Petugas Posko.


Para Mama duduk di kursi, sebagian malah bersantai duduk di lantai dan mulai menggulung benang.


Salah satu Mama yakni Elisabeth Peni, menuturkan, dirinya senang dengan bantuan benang tersebut karena hal itu merupakan salah satu aktivitas yang Ia tekuni selama di Kampung Tokojaeng, Desa Lamatokan.


"Saya punya kerja satu ini (gulung benang, red), setelah itu saya tenun. Untuk satu sarung, butuh sekitar 60 benang. Saya juga sudah minta anak saya kalau ke kampung, bisa ambil saya punya peralatan gulung. Supaya kami bisa tetap isi waktu selama di sini," ujar Mama Elisabeth Peni.


Sementara itu, Sekretaris Korlap Posko Aula Kantor Camat Nubatukan, Aristo Adam Ngari, mengaku senang dengan dukungan bagi warga pengungsi.


"Kami sangat apresiasi bantuan seperti ini. Karena untuk kebutuhan harian seperti makan dan minun, sudah cukup maksimal. Kalau yang seperti benang ini sangat baik untuk bantu Mama-mama ini biar tetap sibuk. Paling tidak, secara psikologis mereka juga terhibur. Dan jika dapat banyak benang, maka setelah pulang kampung mereka bisa langsung tenun sarung dan bisa jual. Itu membantu ekonomi merek," papar Aristo, yang ditemui usai membagikan benang-benang kepada para Mama.