Iklan


 

FEC Media
20 Des 2020, 00.09 WIB
Headline

Jalan Buruk di Manggarai Timur, Warga Gotong Orang Sakit Enam Kilometer

Warga Mengge saat menggendong pasien menuju fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. (Foto: Ist)


Manggarai Timur, Floreseditorial.com - Akibat terjatuh saat memikul padi dari sawah, pada Selasa (15/12/2020) lalu, Markus Duna (67), warga Mengge (Ranamasa), Desa Golo Munga, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), menderita sakit dan membutuhkan pertolongan medis.


Namun sayang, untuk mendapatkan pertolongan medis, dirinya harus digotong oleh warga sejauh enam kilometer menuju Fasilitas Kesehatan terdekat di Kampung Laci, Desa Napar Tabang.


Warga Kampung Mengge, Oris Bendy, mengatakan, pasien terjatuh saat memikul padi miliknya ke tempat penggilingan. Sebelum digotong ke Laci untuk mendapat perawatan medis, Markus sempat dirawat oleh pihak keluarga secara mandiri. Namun karena kondisi pasien kian memburuk, pihak keluarga berinisiatif menggotong pasien ke Laci untuk mendapatkan pertolongan medis di Puskesmas Weleng.


Ia menjelaskan, pasien harus digotong oleh warga setempat, karena Kampung Mengge merupakan salah satu kampung di Lamba Leda, Matim yang masih terisolir sejak Indonesia merdeka pada 1945. 


Bahkan sejak Matim terbentuk pada tahun 2007 silam, kampung itu belum tersentuh pembangunan, terutama infrastruktur jalan sebagai akses transportasi.


Sementara jarak dari Kampung Mengge menuju Kampung Laci, sekitar enam kilometer. Untuk mencapai Kampung Laci (kampung dekat jalan raya), harus ditempuh dengan dua jam perjalanan melewati jalan yang cukup curam. 


Oris menambahkan, pasien tersebut berangkat dari Kampung Mengge sekitar pukul 08.00 dan tiba di Kampung Laci sekitar pukul 11.00 waktu setempat.


“Orang yang menggendong pasien harus berjalan secara perlahan, karena kondisi jalan yang sangat licin dan medan yang berat,” tutur Oris kepada Wartawan mengisahkan cara mereka menyelamatkan warga jika mengalami sakit.


Berdasarkan kondisi memprihatinkan itu, masyarakat Mengge, kata Oris, sangat mengharapkan campur tangan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Matim untuk segera membuka akses jalan raya dari Cabang Pangcut menuju kampung terpencil itu. Karena sejauh ini, masyarakat setempat sangat menderita ketika ada yang mengalmi sakit dan membutuhkan perawatan medis.


“Ketika ada yang sakit, secara gotong royong masyarakat menggotong pasien ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan medis,” kata Oris.


Warga Mengge saat menggendong pasien menuju fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. (Foto: Ist)


Menurut Putra kelahiran Mengge itu, Pemda Kabupaten Matim telah gagal menjadi pelayan yang baik untuk masyarakat setempat.


"Pemerintah gagal dalam berbagai sektor, pemerintah gagap dalam membangun daerah," ungkapnya.


Oris menegaskan, predikat kabupaten terbelakang atau daerah tertinggal seharusnya menjadi cambuk untuk bekerja lebih keras membangun daerah.


“Isu infrastruktur jalan menjadi isu seksi ketika mendekati momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Masyarakat akan dilupakan ketika tahta kekuasaan didapuk,” tegasnya.


Oris mengatakan, fakta memprihatinkan di atas merupakan potret penderitaan yang harus dijalani masyarakat Mengge. Bahkan Ia menyindir keras Pemda Kabupaten Matim.


“Kemerdekaan dan kemajuan bukan milik kami. Kami harus menderita di republik yang kami cintai ini. Pemerintah wajib bertanggung jawab atas penderitaan yang dialami masyarakat Mengge. Kami menuntut keadilan,” cetus Oris.


Untuk diketahui, akses jalan raya tersebut masuk dalam kawasan hutan lindung, sehingga harus mengantongi dokumen kerja sama izin pinjam pakai kawasan hutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Meskipun pada 2019 lalu Pemerintah Desa (Pemdes) Golo Munga, dan bahkan pada tahun 2020 ini masyarakat Mengge sendiri telah mengajukan permohonan pinjam pakai kawasan hutan kepada Dinas Kehutanan Provinsi NTT, namun hingga kini belum ada kabar terbaru mengenai progres tersebut.


Menurut Oris, Pemda Kabupaten Matim terkesan masa bodoh dengan kondisi yang dialami masyarakat Mengge. Untuk itu, pihaknya meminta Pemda Kabupaten Matim harus pro aktif dalam menyelsaikan masalah jalan menuju kampung mereka.