Advertisement

Benediktus Kia Assan
16 Des 2020, 11.22 WIB
News

Keuskupan Larantuka Bantu Sorgum Bagi Para Pengungsi

Kepala markas PMI Lembata, Vicky Making, menyerahkan paket Sorgum dari Yaspensel kepada kepala sekolah SMP St.Pius selaku Penanggungjawab Posko pengungsian St.Pius Lewoleba (Foto:Ist)


Lembata, floreseditorial.com - Keuskupan Larantuka, melalui Yayasan Pengembangan Sosial Keuskupan Larantuka (Yaspensel), mendukung penanganan pengungsi erupsi Ile Lewotolok dengan mendistribusikan beras Sorgum yang dilakukan bersama Korps Sukarela (KSR) PMI Lembata. 


Mereka mendistribusikan bahan makanan kaya nutrisi seperti Sorgum, hasil budidaya Yaspensel di sejumlah Desa di wilayah Keuskupan Larantukan yang meliputi Kabupaten Flores Timur dan kabupaten Lembata. 


Hasil sorgum yang sudah disosoh (digiling dan menjadi beras, red), didistribusikan di sejumlah posko hunian pengungsi yang disiapkan pemerintah Kabupaten Lembata untuk pemenuhan gizi para pengungsi terutama bayi balita dan anak-anak. 


“Pertimbangan Yaspensel, masa pertumbuhan anak-anak dan balita tidak boleh terganggu hanya karena bencana. Maka kami memutuskan untuk memberi bantuan pangan sorgum. Karena sorgum memiliki kandungan gizi yang lebih unggul jika dibandingkan dengan makanan instan lainnya.  Untuk identifikasi sasaran, distribusi dan pendampingan, Yaspensel bekerja sama dengan PMI Lembata,” ujar Direktur Yaspensel, Rm.Benyamid Daud,Pr kepada floreseditorial.com, Selasa (15/12).


Romo Benya menambahkan, kondisi panenan sorgum di wilayah kerja Yaspensel mengalami surplus di tahun 2020. Karenanya, pihaknya ingin membantu meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat terutama warga terdampak erupsi Ile Lewotolok dengan menargetkan dukungan pangan sorgum hingga satu ton. 


Sementara itu, Program Manager Yaspensel, Maria Loreta, menjelaskan, kerjasama distribusi dan pendampingan pengolahan sorgum bagi pengungsi dilakukan bersama PMI Lembata.


“Kita putuskan kerja sama dengan teman-teman di PMI Lembata karena mereka terlibat aktif di garda terdepan penanganan darurat Erupsi Ile Lewotolok. Selain itu, sejumlah relawan PMI juga sudah punya pengalaman budidaya dan pendampingan pengolahan sorgum bersama Yaspensel di Kabupaten Lembata,” ungkap Loreta. 


Menurutnya, fokus utama distribusi adalah untuk pemenuhan gizi bayi, balita dan anak-anak. 


“Tetapi untuk orang dewasa boleh menikmatinya. Itu makanan lokal kita yang cocok untuk tingkatkan gizi,” papar Loreta.


Pantauan floreseditorial.com, anggota KSR PMI Lembata mulai berkeliling dan mendistribusikan sorgum bagi para pengungsi di posko-posko. 


Di setiap posko yang dikunjungi, relawan menyerahkan paket 5 kilogram beras sorgum. Selain menyerahkan sorgum, tim relawan juga memberikan arahan untuk pengolahan sorgum.


“Jadi di setiap posko itu kita bagikan sebanyak 5 kilogram. Selain sorgum, ada tambahan juga yakni kacang hijo. Untuk mereka yang belum terbiasa mengolah pangan dari sorgum, kita bantu dampingi,” ujar Bernad Beni, salah satu relawan PMI Lembata.


Target satu ton sorgum yang direncanakan Yaspensel diharapkan bisa mendukung gizi pengungsi, mengingat masa tanggap darurat bencana telah diperpanjang hingga 26 Desember 2020.