Iklan


 

Benediktus Kia Assan
24 Des 2020, 12.25 WIB
Feature

Lahir Saat Ile Lewotolok Meletus, Seorang Bayi Diberi Nama Vulkano

Pasutri Dismas Witak dan Katarina Glala, bersama bayi Vulkano Advento Witak, bayi lelaki yang lahir 6 jam sebelum Erupsi Ile Lewotolok, Minggu(29/11) (Foto: Ben Kia Assan)


Lembata,floreseditorial.com - “Ada lendir di tenggorokannya, dia belum mau menyusui.  Perawat mereka baru habis membersihkannya. Dan saya sedang berusaha membujuknya untuk menyusui. Perawat mendampingi. Dia punya bapak menunggu di teras puskesmas. Tiba-tiba bunyi besar, gemuruh. Kami kaget. Saya toleh ke gunung, asap hitam tebal naik. Saya langsung peluk dia. Bapaknya masuk jemput kami dua dan lari keluar. Semua sudah lari, tinggal kami tiga dengan saya punya mama,” kisah Katarina Glala, ibu muda yang melahirkan bayinya di hari  Erupsi Ile Lewotolok, Minggu 29 November 2020 lalu.


Vulkano Witak, tidur nyenyak di pelukan ibunya, ditemani sang ayah, Dismas Witak. Mereka tinggal sementara di rumah Kepala Puskesmas Lamau, Kristo Werang, di Kelurahan Selandoro Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata, sejak Minggu siang (29/11/2020).


Vulkano lahir pukul 03.15 wita, Minggu dinihari, 29 Desember 2020 di Puskesmas Lamau, Kecamatan Ile Ape Timur. Keluarga muda ini berasal dari Kampung Ebak Desa Aulesa Kecamatan Ile Ape Timur. Aulesa terpaut jarak kurang lebih 2 Km dari Lamau. Kedua desa ini masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III alias Zona Merah terdampak Erupsi Ile Lewotolok.


Floreseditorial.com menyambangi keluarga kecil ini pada 9 Desember 2020. Hari masih pagi. Bayi lelaki yang lahir dengan berat 3,1 kilogram ini, masih pulas dalam dekapan hangat ibunda. Ia tidak menangis.


"Begini sudah dia (bayi, red) waktu kejadian. Saya bote (gendong, red) dia. Kami lari keluar dari puskesmas. Dia tidak menangis atau rewel. Kami lari sampai di jalan raya, bingung mau ke mana. Semua orang berlarian. Bapaknya sempat bilang kami lari ke Lewoleba lewat Tokojaeng. Tapi saya bilang kita pulang dulu ke rumah,” cerita Katarina, sembari menggendong Vulkano kecilnya.


Asap hitam tebal yang adalah abu vulkanik hasil erupsi membumbung tinggi. PVMBG mengeluarkan rilis, ketinggian abu mencapai 4000 meter. Keluarga kecil ini sedang kebingungan ketika adik Dismas Witak, ayah Vulkano datang dengan sepeda motornya.


"Saya punya adik laki-laki datang dari kampung dengan sepeda motor. Awalnya, minta mama mantu yang dibonceng, tapi mama mantu suruh kami lebih dulu, " kenang Dismas Witak. 


Suami istri ini pun menggendong Vulkano dan berdesakan di atas sepeda motor yang dikemudikan adik lelaki Dismas. Mereka kembali ke Ebak, Aulesa. 


"Kami tiba di Aulesa dan langsung masuk gereja. Kami berlindung di situ dan berdoa. Setelah itu, bersama kader posyandu, kami ke berkumpul bersama warga di titik kumpul," jelas Dismas.


Sebagai Tim Siaga, Dismas Masih Kumpulkan Warga


Meski sedang mengurus ‘manusia baru’ buah hatinya, Dismas Witak tak melupakan tanggungjawabnya sebagai Tim Siaga Bencana (TSB) Desa Aulesa.


"Masih banyak warga di rumah masing-masing. Ada di tiga dusun. Jadi saya tinggalkan istri, anak, orang tua dan mertua di titik kumpul  Saya dan beberapa tim siaga ambil pengeras suara dan keliling ke dusun-dusun untuk kumpulkan warga. Kami arahkan mereka ke titik kumpul  Supaya mudah untuk dimobilisasi, " jelas Dismas.


Selain mobilisasi warga, Dismas dan TSB juga membangun komunikasi ke desa lain dan ke Lewoleba. Mereka mencari informasi perihal erupsi dan dampaknya.


"Di desa ini, signal telepon tidak bagus. Jadi kami manfaatkan radio HT. Tapi tidak bisa langsung ke Lewoleba. Terganggu. Jadi kami dapat info lanjutan dari radio di Desa Waimatan dan Lamagute. Dari situ kami tahu bahwa semua diminta ke Lewoleba. Kami juga tahu bahwa hujan abu vulkanik terbang ke arah barat. " terang Dismas.


Dismas bersyukur atas peringatan istrinya untuk tidak langsung ke Lewoleba.


"Jadi saya bilang ke dia  supaya ke kampung dulu. Kita lihat dulu. Karena ke Lewoleba ada dua jalur. Jangan sampai kita ketemu abu atau reruntuhan di jalan, " kenang Katarina.


Dismas Witak bersama keluarga termasuk Si  Vulkano kecil pun berkumpul. Sejumlah mobil dari Lewoleba tiba dan membawa mereka ke luar dari zona merah Erupsi Ile Lewotolok.


Katarina Glala dan Si Kecil Vulkano menumpang mobil ambulance yang disediakan pemerintah.


Meski, kini ketiganya aman di Lewoleba, Si Kecil Vulkano jarang bertemu ayahnya. Dismas Witak, tak bisa lepas dari dua tanggungjawab sosialnya. Selain anggota TSB, pria kelahiran 23 Maret 1997 ini juga menjabat Kepala Seksi Pemerintahan Desa Aulesa.

Saban hari selama masa tanggap darurat bencana Erupsi Ile Lewotolok, Dismas Witak sudah keluar sejak pagi. Ia ikut membantu pemerintah desa mengurus warga yang mengungsi. 


"Abang, nanti habis ini saya numpang ke Posko. Saya bantu di Posko SMP Don Bosco," pinta Dismas pada awak media ini.


Si Kecil Vulkano Advento Witak, masih lelap dalam dekapan ibunya. Nama Vulkano untuk mengenang hari lahirnya yang bersamaan dengan bencana Erupsi yang mengakibatkan gelombang pengungsian hingga sekitar 19 ribu jiwa. Dan Advento? “Karena dia lahir pas di Minggu I Adven, minggu penantian kelahiran Yesus Kristus, yang diimani Dismas dan keluarganya, sebagai umat beragama Katholik,” bisik Dismas pada awak media ini, sebelum melaju menuju Posko Utama.