Advertisement

Yeremias Yosef Sere
27 Des 2020, 23.36 WIB
News

Taman Baca Restorasi, Ruang Literasi Masyarakat

 

Taman Baca Restoran yang didesain semenarik mungkin untuk meningkatkan minat berkunjung dan membaca bagi masyarakat sekitar. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Sikka, Floreseditorial.com - Taman baca merupakan sebuah taman yang dapat memberikan informasi dan sangat berperan penting menciptakan masyarakat dalam berliterasi, karena berfungsi sebagai sumber informasi ilmu dan pengetahuan, teknologi dan kebudayaan, demi mencerdaskan kehidupan bangsa.


Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Nusa Tenggara Timur (NTT), Polikarpus Do, usai meresmikan Taman Baca Restorasi di Patisomba, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, mengatakan, literasi merupakan sebuah gerakan bersama, sehingga sudah tanggung jawab kita semua untuk membangun literasi tersebut. Budaya literasi tersebut, lanjutnya, bukan semata-mata tugas FBTM, Dinas Perpustakan, Dinas Pendidikan ataupun Pegiat Literasi, namun literasi itu untuk semua dan semua untuk literasi.


Ia menjelaskan, selama ini pihaknya keliling Provinsi NTT untuk membantu membangun rumah baca dan bekerja sama dengan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga, kata Dia, Taman Baca Restorasi merupakan bantuan Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program Rintisan Taman Baca Masyarakat (TBM)


"Jadi ada program namanya Rintisan TBM, itu dari dana APBN. Dananya memang kecil saja, tetapi mudah-mudahan bermanfaat untuk TBM ini. Untuk seluruh Indonesia, NTT mendapatkan bantuan terbanyak program ini, selama tahun 2020. Karena kita ingin ketertinggalan kita saat ini, harus segera kita selesaikan dengan menghadirkan aksesbilitas TBM," sebut Ketua Dewan Pembina Ikatan Media Online (IMO) NTT itu.


Ia mengatakan, konsep yang ditawarkan TBM bukan merupakan konsep buku menumpuk, tetapi ruang literasi untuk semua masyarakat demi mengakses informasi, pengetahuan, skill, serta penumbuhan dan pengembangan sikap.


"Ini tuga kita, dan mudah-mudahan kita terus bergerak. Walaupun dibatasi oleh covid-19, namun semangat kita harus terus menyala," ungkapnya.


Ia menyebutkan, ada enam literasi dahsyat yang minimal harus dikuasai oleh masyarakat, yakni literasi membaca dan menulis, numerik (numerasi), sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan. Sementara itu, dengan adanya perkembangan teknologi yang begitu pesat, sudah menjadi tugas kita untuk memperkuat beberapa komponen, yakni melalui literasi keluarga, mendekatkan lingkungan buku dengan anak-anak di rumah, sehingga bisa memperkuat lagi Sumber Daya Manusia (SDM).


Menurutnya, NTT merupakan provinsi dengan buta aksara tertinggi dan masuk zona merah buta aksara urutan ketiga di Indonesia, sehingga hal ini sangat memprihatinkan. Diakuinya, buta aksara tersebut terjadi pada usia 15 hingga 59 tahun dan belum bisa dituntaskan karena literasi di sekolah formal tidak kuat.


"Hasil penelusuran kami, banyak anak-anak SMP yang belum lancar membaca, sehingga menjadi tugas semua, termasuk sekolah untuk membuat literasi sekolah. Perpustakaan Sekolah sejauh ini juga belum mampu menjadi rumah literasi, karena hanya dijadikan tempat menyimpan barang bekas. Perpustakaan bukan berada di belakang namun harus berada di depan (front office) sebuah lembaga pendidikan sehingga mudah untuk diakses," terangnya.


Senada, Penasihat Taman Baca Restorasi, Fransiskus Laka, menyampaikan rasa bangganya karena Patisomba akhirnya mampu mengukir sejarah baru dengan memiliki sebuah taman baca. Di mana, lanjutnya, Patisomba adalah sebuah daerah pemukiman penduduk yang kebanyakan masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani sayur.


"Ketika masyarakat di sini kebanyakan menanam sayur dan ketika adanya sebuah taman baca di sini, itu sangat luar biasa. Selama 48 tahun saya hidup di Kabupaten Sikka, ini hal baru menurut saya. Dan hal ini, harus terus dikembangkan," terang Dirut Perumda Wair Pu'an Kabupaten Sikka itu.


Ia menyampaikan, untuk kedepannya, pihak Pengelolah Taman Baca Restorasi harus bisa mengembangkan cara membaca secara online. Sehingga para pembaca bukan tidak hanya membaca buku saja, tetapi bisa membaca melalui aplikasi. Selain itu, lanjutnya, Ia berharap adanya sumbangan berbagai jenis buku dari pihak lain, agar menjadi bahan referensi buat Taman Baca Restorasi dan juga untuk para pembaca nantinya.


"Saya berharap agar masyarakat Patisomba bisa memanfaatkan kesempatan dan fasilitas yang ada di Taman Baca Restorasi untuk memperkaya ilmu pengetahuan," tuturnya.


Sementara itu, Pengelolah Taman Baca Restorasi, Remigius Nong, mengaku, pihaknya akan menerapkan literasi membaca dan menulis untuk anak-anak, di mana pihaknya akan melatih anak-anak tersebut menulis sesuai dengan pengalaman dan kehidupan mereka sehari-hari.


"Misalnya kalau mereka membantu orang tuanya untuk menanam sayur, maka kita melatih mereka untuk menulis bagaimana prosesnya menanam sayur dan pengolahannya," ungkapnya.


Ia mengatakan, demi mengembangkan literasi membaca dan menulis pada anak-anak, pihaknya akan berusaha membuat anak-anak lebih mencintai pendidikan melalui baca tulis, dengan cara terus belajar demi mengembangkan pengetahuan mereka. Sehingga, lanjutnya, waktu-waktu tertentu yang mereka gunakan untuk bermain bersama ataupun menonton sinetron akan dikurangi.


"Sebagai gantinya, kita akan buat literasi digital. Kita akan mendampingi anak-anak untuk menonton film-film, yang dapat memberikan nilai edukasi buat mereka," tandasnya.


Selain itu, kata Dia, pihaknya juga akan menjalankan literasi ekologi (ekosistem) kepada masyarakat Patisomba untuk lebih mencintai lingkungan dan menjaga kebersihan, dengan mengajarkan kepada mereka cara pengolahan sampah di sekitar rumah masing-masing, agar dapat menjadi sumber pendapatan demi memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, pihaknya juga akan menyiapkan buku-buku bacaan tentang pertanian, demi mendukung usaha para petani sayur di daerah tersebut.