Iklan

Redaksi Flores Editorial
7 Jan 2021, 17.50 WIB
Headline

Miris, Warga Matim NTT Gotong Peti Jenazah Rikardus Menembus Sungai Deras

 

Sejumlah warga menggotong peti Jenazah Rikardus Gama. (Foto: Louis)

Manggarai Timur, Floreseditorial.com - Pemandangan mengharukan sekaligus menegangkan terlihat di Sungai Wae Musur, Desa Lidi, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (7/1/2021) siang.


Terpantau sejumlah warga menggotong peti jenazah, Rikardus Gama (43), warga Nanga Lanang yang meninggal di Rumah Sakit (RS) St. Rafael Cancar, pada Kamis (7/1/2021), melewati sungai dengan arus deras sedalam 1,5 meter, karena jembatan penghubung Desa Lidi dan Desa Compang Ndejing tak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Matim.


"Lumayan deras, meski tidak begitu dalam," ujar Louis, salah seorang warga, Kamis (7/1/2021).


Ia menjelaskan, Rikardus, meninggal di RS St. Rafael Cancar pada Kamis (7/1/2021) pagi. Jenazah tiba di Desa Compang Ndejing pada Kamis siang. Karena arus di Sungai Wae Musur cukup deras, kendaraan tidak bisa melintas. 


“Jenazah harus digotong warga, menyeberang Sungai Wae Musur menuju rumah duka,” kata Louis.


Ia mengatakan, sudah puluhan tahun warga yang bermukim di sebelah Sungai Wae Musur menderita, karena tak ada jembatan penghubung.


"Kalau angkat jenazah lewat kali, bagi kami sudah terbiasa. Kalau tidak lewat kali, mau lewat mana lagi, Pak. Terpaksa dipikul, karena kendaraan roda dua maupun roda empat tidak bisa lewat. Karena air sungainya deras dan dalam, apa lagi kali ini adalah jalan satu-satunya menujung kampung Nanga Lanang," ujarnya.


Ia menceritakan, warga Desa Lidi apabila ada yang sakit atau meninggal, semua warga berhenti bekerja karena harus bergotong royong mengangkat pasien atau orang meninggal menyeberang kali.


Ia berharap, Pemda Kabupaten Matim segera membangun jembatan, sehingga akses transportasi masyarakat cepat terhubung.