Advertisement

Redaksi Flores Editorial
1 Jan 2021, 22.33 WIB
News

Diduga Asal Jadi, Warga Keluhkan Kualitas Crossway di Wae Ghera Matim

 

Warga mengeluhkan kualitas pengerjaan crossway di Kali Wae Ghera, yang baru selesai dikerjakan pada bulan Desember 2020 lalu. (Foto: Gabrin Anggur)

Manggarai Timur, Floreseditorial.com - Warga Desa Golonderu, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), mengeluhkan kualitas pengerjaan crossway di Kali Wae Ghera, yang baru selesai dikerjakan pada bulan Desember 2020 lalu.


Pasalnya, hingga saat ini, crossway tersebut hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Sedangkan untuk kendaraan jenis dump truck dan bis kayu belum bisa melintas. Akibatnya, arus tranportasi menuju Desa Golonderu dan  sebagian desa di Kecamatan Elar Selatan, menjadi terhambat.


Berdasarkan informasi yang diterima Floreseditorial.com dari berbagai sumber, menyebutkan, penyebab utama terhambatnya kendaraan roda empat melintas dikarenakan kondisi tanah yang sangat licin dan berlumpur, dari ujung timur dan barat crossway.


Salah satu warga setempat, Wenslaus, kepada media ini, Jumat (1/1/2020), menjelaskan, sebelumnya para pekerja crossway menimbun tanah di ujung crossway tersebut, dengan tujuan menyamakan tinggi antara crossway dengan badan jalan.


"Seharusnya di bagian dasarnya diisi dengan batu, kemudian diikuti dengan pasir. Apalagi ini musim hujan, sangat tidak baik kalau hanya diisi dengan tanah," ungkap.


Ia menambahkan, karena sering diguyur hujan, tanah tersebut berubah menjadi lampisan lumpur dan sangat licin, sehingga membuat kendaraan jenis dump truck dan mobil penumpang tidak bisa melintasi crossway tersebut.


"Ban mobil pasti tenggelam ke dalam tanah, meskipun dengan bantuan dedak. Mobil itu kan berat, jadi lebih baik tidak usah lewat dari pada nanti mogok di sini," tukasnya.


Sementara itu, Desi, salah seorang warga asal Desa Golowuas, Kecamatan Elar Selatan, juga menyampaikan keluhannya terkait pengerjaan crossway yang diduga dikerjakan asal jadi tersebut.


Ia mengatakan, sudah hampir sebulan lebih, kendaraan roda empat asal Desa Golonderu dan Desa Golowuas tidak bisa melewati jalut tersebut, semenjak crossway di Kali Wae Ghera dibangun. Bagi warga yang yang hendak berpergian ke Kota Borong maupun ke Kota Ruteng, terpaksa harus menggunakan jasa ojek untuk sampai ke pangkalan mobil angkutan yang hanya sampai di Rana Mbeling.


"Mobil angkutan umum tunggu penumpang di Rana Mbeling. Penumpang harus membayar ojek agar sampai ke sana, begitupun kalau pulang pasti dijemput oleh ojek," jelas Desi.


Ia berharap, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Matim, dalam hal ini Dinas PUPR, agar menanggapi segala keluhan yang disampaikan oleh masyarakat terkait persoalan crossway tersebut.


"Saya berharap agar Pemda Matim turun tangan menyelesaikan persoalan ini. Kami tidak ingin pembangunan crossway ini hanya  mau menambah penderitaan kami," tegasnya.


Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas PUPR Matim yang dihubungi floreseditorial.com belum memberikan respon. (gab)