SWAPE UP UNTUK MEMBACA ARTIKEL
Disdukcapil Ende Serahkan Akta Kematian Korban Sriwijaya Air SJ 182

Iklan

Rian Laka
23 Jan 2021, 13.09 WIB
News

Disdukcapil Ende Serahkan Akta Kematian Korban Sriwijaya Air SJ 182

 
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Kabupaten Ende, Lambertus Sigasare, menyerahkan Akta Kematian dan Kartu Keluarga kepada, Ibunda Demetria Ledefita Eta, di Rumah Duka, Desa Pora, Dusun Pora, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende. (Foto: Rian Laka)

Ende, Floreseditorial.com - Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Ende melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), telah menyerahkan Akta Kematian, Teofilus Lau Ura Dari, warga Desa Pora, Kecamatan Wolojita, korban kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ 182.


Disaksikan media ini, Akta Kematian tersebut diserahkan langsung oleh Kadis Dukcapil Ende, Lambertus Sigasare, kepada Ibunda Teofilus, Dementria Ledifita Eta, di rumah duka di Desa Pora, Dusun Pora, Kecamatan Wolojita, Jumat (22/1/2021).


Selain Akta Kematian, Lambertus, menyerahkan Kartu Keluarga (KK) terbaru kepada, Dementria Ledefita Eta, karena nama almarhum tidak lagi tercantum dalam KK baru tersebut. 


Kepala Disdukcapil Kabupaten Ende, Lambertus Sigasare, saat ditemui di rumah duka Desa Pora, Jumat (21/1/2021), mengatakan, setelah pihaknya menerima informasi terkait masalah identitas kedua korban, Ia langsung merespon guna melacak biodata kedua orang tua korban. Pasca di cross check, ditemukan bahwa kedua korban benar adalah warga asal Kabupaten Ende.


Ia menceritakan, ketika mendengar bahwa dua warga Ende menjadi korban dalam kecelakaan tersebut, pihak Disdukcapil langsung mengambil langkah cepat untuk mencari tahu data orang tua dari kedua korban.


“Kebetulan, saya komunikasikan dengan Kadis Kesbangpol Ende, yang terlebih dahulu sudah menghubungi keluarga untuk memperoleh identitas dari orang tua. Dari situ, kita melihat status dari almarhum ini dalam KK, dan memang terbukti bahwa almarhum ini terdata sebagai anak dalam KK tersebut,” terangnya.


Selain korban atas nama, Shelfi Daro, untuk nama, Theofilus Lau Ura Dari, sesuai KK orang tua, tercatat sebagai anak pertama dari empat bersaudara. Pasca ditemukan, pihaknya langsung menyerahkan print out biodata almarhum kepada Bupati Ende.


“Setelah di-cross check data lebih lanjut, memang almarhum atas nama, Theofilus Lau Ura Dari, soal biodata tidak ada masalah. Karena almarhum memiliki Akt Kelahiran dan Ijazah,” tambahnya.


Ia menjelaskan, secara UU Admindup, ketika ditemukan ada dokumen yang dikeluarkan oleh lembaga hukum, tentunya tetap akan dijadikan sebagai rujukan, hanya berbeda di TEU dan TEO. 


“Maka atas izin Bapak Direktur dan Ibu Dirjen, kami langsung menyesuaikan KK-nya. Setelah itu, langsung mencetak Akta Kematian. Karena urusan selanjutnya dengan maskapai berkaitan dengan asuransi, maka sejumlah akta akan sangat dibutuhkan. Kehadiran kami sebagai bentuk dukungan dari Pemerintah Daerah. Karena mengingat peristiwa ini masuk dalam Bencana Nasional. Maka ketika kami mengetahui bahwa jenazah almarhum sudah sampai di kampung, kami lantas bergegas mengantar Akta Kematian dan KK terbaru kepada keluarga almarhum,” terangnya.


Menurutnya, apabila pihak maskapai membutuhkan data-data almarhum, terkait urusan santunan asuransi, pihak Pemda Kabupaten Ende siap memberikan data tersebut, dan bila perlu Pemda Kabupaten Ende akan membuat pernyataan ke pihak maskapai terkait para korban, sehingga hak-haknya bisa dipenuhi. 


Benediktus Beke, mewakili keluarga, mengucap terima kasih kepada Pemda Kabupaten Ende yang telah hadir melalui Disdukcapil Ende, karena telah sigap merespon terkait pendataan kedua korban.


“Yang begini jarang dilakukan. Biasanya kita yang datang ke kantor dalam konteks pelayanan. Tapi ini datang ke tempat ini, sesuatu yang luar biasa,” kata Benediktus.


Menurut Benediktus, berkas-berkas tersebut tentu sangat dibutuhkan. Apabila pihak Sriwijaya membutukan berkas-berkas tersebut, dalam kaitan dengan santunan, maka akan ditunjukkan.


“Saya ini perpanjangan tangan dari pihak keluarga. berkas-berkas ini tetap disimpan di rumah orang tua. Apabila dibutuhkan dalam berdasarkan kapasitas yang didelegasikan, saya akan ambil dan ke sana, selanjutnya kembalikan ke orang tua, karena ini terus dibutuhkan,” ungkapnya.


Ia mengatakan, problem identitas, Theofilus dan Selfi, hendaknya menjadi pelajaran bagi masyarakat Kabupaten Ende, terutama bagi yang ingin merantau. 


Sebagaimana diketahui, Theofilus dan Shelfi, saat dari Jakarta menuju Pontianak, menggunakan KTP orang lain, sehingga nama yang tertera di manifes penumpang pun adalah nama orang lain.