Iklan

 


Ignasius Tulus
22 Jan 2021, 21.50 WIB
News

Fakta Baru Terkait Meninggalnya Bayi di Poskesdes Watu Mori

 

Ilustrasi (Net)

Manggarai Timur, Floreseditorial.com - Keluarga dari bayi yang meninggal usai dilahirkan di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Watu Mori, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mengungkapkan fakta-fakta baru terkait peristiwa tersebut.


Kakek sang bayi, Marselinus Manggu, mengungkapkan, saat berada di Poskesdes Watu Mori, anak mantunya yakni, Merlin (Ibu sang bayi), mendapatkan perlakuan tidak baik dari pihak Poskesdes.


"Masa untuk mengetahui keadaan bayi hanya dengan pakai tangan. Benar atau salah secara medis itu?,” ujar Marselus kepada floreseditorial.com beberapa waktu lalu.


Ia mengaku, saat berada di Poskesdes Watu Mori, Merlin, tidak dipasangi infus. Padahal, kondisi anak mantunya saat itu sudah dalam keadaan lemas.


"Mereka (Petugas Medis, red) memaksakan pasien untuk jalan sambil loncat-loncat. Mereka beralasan, supaya bayinya cepat lahir," tambahnya lagi.


Melihat hal itu, lanjut Marselus, dirinya sempat menanyakan Petugas Medis terkait tindakan itu. Namun saat itu, katanya, Petugas Medis enggan menjawab.


"Secara medis, benar atau tidak seperti ini," tanyanya lagi.


Sedihnya lagi, lanjut Marselus, sesaat sesudah dilahirkan, lendir yang terdapat pada tubuh bayi itu tidak dihiraukan oleh Petugas Medis.


Terpisah, Kepala Poskesdes Watu Mori, melalui Kepala Puskesmas Sita, Aventinus Jamin, membenarkan perihal, Merlin, diminta untuk berjalan oleh Petugas Medis di Poskesdes Watu Mori, agar mempercepat kontraksi.


"Kalau untuk loncat itu tidak. Kalau suruh jalan, iya, karena untuk mempercepat proses kelahiran bayi," ujarnya. 


Berdasarkan keterangan pihak Poskesdes Watu Mori yang disampaikan kepadanya, lanjut Aventinus, saat itu keadaan Ibu dari bayi itu baik-baik saja. Ia menegaskan, keterangan yang disampaikan pihak keluarga tidaklah benar. Pihaknya juga membantah laporan keluarga, terkait tidak dihiraukannya lendir pada tubuh bayi itu.


"Ada alat penghisap lendir secara manual. Makanya setelah dilahirkan di Poskesdes, dibawa ke Puskesmas karena denyut jantung bayi melemah," tambahnya.


Setelah dilahirkan, kata Aventinus, bayi itu mengalami sianosis atau kekurangan oksigen.


Ketika ditanya terkait ketersediaan infus di Poskesdes itu, Avenetinus, meminta floreseditorial.com agar meminta klarifikasi di Dinas Kesehatan (Dinkes) Matim.


"Tanya ke Dinas saja. Laporan yang disampaikan pihak Poskesdes ke saya sudah sesuai SOP," tukas Aventinus.



Diberitakan media ini sebelumnya, diduga karena buruknya pelayanan di Poskesdes Watu Mori, sepasang suami istri (pasutri), Gonsa dan Merli, terpaksa harus kehilangan seorang anak kesayangan mereka.


Saudara kandung Merlin, Rikardus Theo Pantar, kepada floreseditorial.com, mengisahkan, Merlin, berada di Poskesdes Watu Mori selama tiga malam untuk menjalani persalinan.

Pada malam kedua, kata Rikardus, pihak keluarga meminta agar, Merlin, segera dirujuk ke RSUD Ben Mboi Ruteng.


"Malam kedua, saya lihat saya punya saudari tidak bisa buat apa-apa lagi. Melihat hal itu, saya minta Petugas Medis membuat surat rujukan ke Ruteng. Tapi mereka bilang, tunggu perubahan," ujar Rikardus.


Mendengar jawaban tersebut, pihak keluarga pun terpaksa memilih menunggu.

Namun setelah sekian lama menunggu, tidak ada perubahan yang terjadi pada, Merlin.


"Kemarin (Kamis, 7/1/2021) jam 18.00, saya minta agar dirujuk lagi. Mereka tetap tidak mau. Tadi pagi juga (Jumat, 8/1/2021), saya minta agar dirujuk lagi. Mereka jawab belum saatnya," bebernya.