Advertisement

Rian Laka
11 Jan 2021, 12.15 WIB
Headline

Gunakan Identitas Orang Lain, Sepasang Kekasih Korban Pesawat Sriwijaya Asal Ende Tidak Tercatat Dalam Data Manifes

 

Sepasang kekasih asal kabupaten Ende, yang menjadi korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ182. (Foto: Ist)

Ende, Floreseditorial.com - Kedua korban kecelakaan jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182 asal Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) di Perairan Kepulauan seribu, dengan rute penerbangan Jakarta – Pontianak, bernama Theofilus Lau Ura Dari (20) atau akrab disapa Olusb dan istrinya yakni, Shefi Lio, asal Desa Pora, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Flores, NTT, ternyata tidak tercatat dalam data manifestasi penumpang. 


Pada Senin (11/1/2021) saat dihubung media ini melalui telpon seluler, keluarga Olus bernama Benediktus, mengatakan, pihak keluarga sempat panik mendengar informasi tersebut.


"Awalnya keluarga sempat merasa panik pasca mendengar informasi bahwa saudara kami Olus, merupakan salah satu korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air. Namun, namanya tidak tercatat dalam data Manifestasi Penumpang,” terangnya.


Ia mengatakan, benar secara fisik, Olus berangkat. Tetapi identitas nama dalam data Manifes Penumpang Sriwijaya Air merupakan identitas keluarga yang berada di Jakarta, bernama Feliks Wenggo.


“Ya, faktor pemicu adalah saudara Olus berangkat dari kampung menuju Jakarta tidak membawa KTP. Mungkin dari segi pelayanan birokrasi yang sulit untuk mengurus KTP, menyebabkan dari kampung, saudara Olus tidak membawa sertakan KTP, tetapi mungkin hanya identitas sementara saja,” jelasnya.


Baca Juga: Dua Warga Ende Jadi Korban Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182


Sementara itu, di Jakarta sedang dalam persiapan untuk PSBB. Makanya, mungkin saja dengan kondisi itu, Olus merasa sulit mendapatkan pekerjaan. Sehingga dirinya bersama istri bersepakat untuk berangkat mencari pekerjaan di Pontianak.


“Mungkin saja mereka berupaya untuk berkomunikasi dengan keluarga atau mungkin mengambil KTP tanpa sepengetahuan keluarga, lalu di foto copy, untuk dijadikan sarana mendapatkan tiket, kami pun tidak tahu persis,” ujarnya.


Benediktus mengaharapkan, tiket yang mereka berdua kantongi menuju Pontianak menggunakan identitas orang lain. 


"Tetapi mengapa mereka diizinkan berangkat oleh maskapai. Ini aneh," katanya.


Ia menjelaskan, pada umumnya, syarat pembelian tiket ataupun pemeriksaan kesehatan harus menggunakan KTP asli.


"Tetapi mengapa saudara kami berdua dengan mengantongi identitas orang lain tetapi dilayani tiket. Lantas mengapa dilayani. Karena sampai saat ini, nama yang tercatat dalam Manifestasi Penumpang itu berbeda dengan nama yang berangkat. Anehnya lagi, setelah berangkat itu tepatnya di bording akan dapat dicek KTP aslinya. Kalau KTP aslinya tidak ada, lalu mengapa maskapai penerbangan membiarkan mereka berangkat," paparnya.


Keluarga berkesimpulan, timbulnya persoalan ini adalah hubungan sebab akibat. Sebabnya, karena maskapai membiarkan mereka berangkat dengan menggunakan identitas orang lain. Akibatnya, terkuaklah persoalan tersebut.


“Kalau pesawatnya tidak jatuh, pasti persoalan ini kita tidak tahu. Tetapi karena pesawat jatuh, makanya kita tahu,” ucap Benediktus.


Namun, keluarga berharap, identitas yang dipergunakan atas nama orang lain itu bukan merupakan persoalan administrasi secara De Jure, tetapi secara De Fakto. Faktanya adalah jenazah Olus dan istrinya tidak tercatat dalam Manifestasi Penumpang.


“Tadi pagi, kami di telpon oleh Pak Bupati Ende, kami minta supaya ada semacam suport dukungan berkomunikasi dengan asuransi, agar saudara kami Olus bisa mendapatkan asuransi,” terangnya.



Sementara itu, keluarga Shelfi Lio, belum bisa dihubungi oleh floreseditorial.com. Namun beredar di media sosial, para sahabat Shelfi Lio, mengunggah postingan ucapan belasungkawa.