Iklan

FEC Media | Verified Writer
26 Jan 2021, 18.31 WIB
News

Jumlah Anak Terlantar di Kota Kupang Meningkat

 

Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Kupang, Lodywik Djungu Lape. (Foto: Ist)

Kupang, Floreseditorial.com – Meningkatnya jumlah anak terlantar di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang.


Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Kupang, Lodywik Djungu Lape, mengatakan, Kota Kupang membutuhkan rumah singgah untuk menampung anak-anak terlantar, agar dapat dibina sebelum dipulangkan ke keluarga.


"Banyak dari anak terlantar tersebut merupakan anak-anak yang bukan dari warga kota.


Untuk mengatasi masalah anak jalanan dan anak terlantar di Kota Kupang, diperlukan solusi dan anggaran yang cukup. Sementara saat ini, belum ada anggaran khusus untuk penanganan anak jalanan, hanya untuk operasi saja," ungkap Lape.


Ia mengatakan, Dinas Sosial (Dinsos) belum melakukan operasi secara rutin. Sebelumnya, operasi rutin dilakukan satu kali dalam sebulan untuk menertibkan anak-anak terlantar yang ada di jalan-jalan utama di Kota Kupang. Lanjutnya, setelah diamankan, anak-anak tersebut dibawa ke kantor Dinsos dan dipanggilkan orang tuanya, untuk kemudian diberikan arahan dan edukasi agar tidak lagi membawa anak-anak ke jalanan untuk bekerja.


"Penanganan masalah anak jalanan juga merupakan tugas lintas sektor, seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya," terangnya.


Ia menyampaikan, Dinsos memiliki data anak terlantar yang ada di Kota Kupang. Tetapi, yang menjadi permasalahan, banyak dari anak-anak tersebut yang bukan berasal dari Kota Kupang.


“Oleh karena itu, kami juga melakukan koordinasi dengan kabupaten lain, untuk ikut memberikan bimbingan dan mencarikan solusi bersama,” terangnya.


Lanjutnya, bagi warga Kota Kupang yang membawa anak-anak mereka bekerja di jalan, akan langsung didata oleh Dinsos dan dimasukkan dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), agar bisa menerima bantuan.


"Alasan mereka adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi kami menjelaskan agar jangan membawa anak-anak. Agar tidak mengganggu anak untuk belajar maupun membahayakan keselamatan anak-anak, karena turun ke jalan tanpa pengawasan,” tukasnya.