Iklan

Valerius Isnoho
8 Jan 2021, 11.37 WIB
News

Jumlah Kematian Babi di Kabupaten Manggarai Mencapai 484 Ekor

 

Foto: Ilustrasi ternak babi (Ist/DetikNews)

Manggarai, Floreseditorial.com - Jumlah kasus kematian ternak babi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini terus meningkat.


Berdasarkan data yang diperoleh Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai, hingga saat ini, jumlah kasus kematian ternak babi di Manggarai mencapai 484 ekor.


Hal ini disampaikan Kepala Dinas (Kadis) Peternakan Kabupaten Manggarai, Kostantinus Dan, di ruang kerjanya pada Kamis (7/1/2021).


"Kematian ternak babi di Kabupaten Manggarai bukan hanya karena African Swine Fever (ASF), tetapi juga disebabkan bakteri streptococcus," katanya.


Ia mengatakan, ada pula penyebab lain kematian ternak babi seperti kesehatan babi yang kurang terawat, dan bakteri lain yang menyerang ternak babi. Menurutnya, Dinas Peternakan sudah beberapa kali melakukan uji lab dari daging ternak babi yang mati, dan hasilnya ada yang positif terkena ASF dan ada juga yang tidak.


“Kami sudah melakukan uji lab daging babi mati di Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, dan memang hasilnya ada yang postif ASF, tetapi ada juga yang negatif. Jadi, kematian ternak babi di Manggarai bukan hanya karena (ASF), tetapi ada juga penyebab lain seperti kena bakteri streptococcus,” jelas Kadis Dan.


Ia menambahkan, saat ini pihaknya fokus melakukan penyemprotan disinfektan pada kandang babi milik warga di 12 wilayah kecamatan. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipatif mencegah bertambahnya kasus kematian babi.


“Sebagai langkah antisipatif, kami sudah lakukan penyemprotan disinfektan pada kandang babi milik warga, untuk mencegah penularan penyakit ini, dan diharapkan kepada masyarakat tidak membeli babi dari luar,” tegasnya.