Iklan

 


Rian Laka
26 Jan 2021, 22.43 WIB
News

Kubur Pasien Probable Covid-19 Malam Hari, Warga Nilai Pemda Ende Tidak Beretika

 

Salah seorang warga Kelurahan Paupire, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, Karman Sadokaki. (Foto: Rian Laka)

Ende, Floreseditorial.com - Terkait pemakaman salah satu pasien probable covid-19 asal Nagekeo, di Pekuburan Onekore Ae Mbambu, warga Kelurahan Paupire menilai, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Ende melalui Satuan Gugus Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di Kabupaten Ende, ngawur tanpa etika. 


Pasalnya, pemakaman yang berlangsung pada Senin (25/1/2021) malam itu, dianggap asal serobot tanpa adanya penyampaian dan sosialisasi dari Pemda Kabupaten Ende kepada warga di Kelurahan Paupire, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende.


Hal ini disampaikan salah seorang warga Ae Mbambu, Karman Sado Kaki, saat diwawancara media ini via telepon seluler, Selasa (26/1/2021).


Ia mengatakan, sebagai pemilik akses jalan masuk menuju area pemakaman, dirinya merasa sangat kesal dengan tindakan Pemda Kabupaten Ende, yang tidak pernah melakukan sosialisasi sebelumnya.


Menurutnya, warga tidak menolak almarhum untuk dimakamkan di Pekuburan Onekore Ae mbambu. Tetapi setidaknya, pemerintah harus punya etika, apalagi akses masuk menuju lokasi pemakaman harus melewati lokasi jalan masuk milik, Karman Sado Kaki.


“Kami bukan tolak. Tetapi sebagai warga, tolong kami dihargai. Ini jalan masuk kami hibahkan ke pihak Gereja Onekore dan bukan ke Pemda. Jadi tolong jangan anggap kami ini orang bodoh. Saya juga siap hibahkan lahan untuk pemakaman umum. Tapi kalau cara pemerintah seperti ini, kami sangat kecewa,” ujar Karman.


Ia berharap, untuk menghindari kepanikan di tengah masyarakat tentang pemakaman pasien probable, Satgas Covid-19 diharapkan intensif memberikan sosialisasi kepada masyarakat.


Sementara itu, Jubir Satgas Penangangan Covid-19 Kabupaten Ende, Abraham Badu, melalui telepon seluler, pihaknya mengakui hal tersebut. Ia mengatakan, pihaknya menyadari bahwa penguburan tersebut tidak dikomunikasikan terlebih dahulu dan belum melakukan sosialisasi. 


"Karena ini benar-benar mendadak dan pertimbangan kemanusiaan, maka kami bergegas cepat untuk memakamkan jenazah di Pekuburan Onekore.


Memang ada sedikit tarik ulur soal pemakaman, apakah di Nangaroro dan Ende. Tetapi dari hasil koordinasi, kita ambil langkah untuk kuburkan di Ende,” terang Abraham.


Ia menyampaikan, pihaknya telah berkoordinasi dengan camat dan lurah setempat, bahwa kedepannya akan dilakukan sosialisasi. 


"Ya, ini miskomunikasi saja. Jadi akan kita koordinasikan dengan camat dan lurah,” tutupnya.