SWAPE UP UNTUK MEMBACA ARTIKEL
Memantik Semangat Jurnalis Perempuan

Iklan

Rian Laka
29 Jan 2021, 21.20 WIB
Feature

Memantik Semangat Jurnalis Perempuan

Veronika Raymond, gadis blasteran Indonesia - Canada yang bercita-cita menjadi Jurnalis Traveling. (Foto: Rian Laka)


Di tengah minimnya kader perempuan yang terlibat dalam dunia jurnalis di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyebabkan ada begitu banyak benih karya jurnalis itu mati, tidak subur, dan tak bertunas di rahim Pers.


Namun, di zaman milenal seperti sekarang, dari sekian banyak kaum hawa, masih ada perempuan mileneal yang memiliki cita-cita memakai alat peraga jurnalis, guna melukiskan jejak petualangan hidupnya, berkarya di dunia jurnalis. 


Adalah Veronika Raymond (16), gadis blasteran Indonesia - Canada, kelahiran Bajawa. Ia merupakan anak ke empat, dari pasangan suami istri (pasutri), Gilles Raymond dan Aty Raymond. Vero, adalah Siswi Kelas XI Jurusan IPS di SMAK Syuradikara, Ende. Vero, juga seorang pecinta alam yang memiliki hobi mendaki gunung.


Dalam kesempatan diskusi bersama, Vero, pada Rabu (27/1/2021), Ia mengungkapkan kesungguhannya untuk meraih mimpi yang di cita-citakan, menjadi Jurnalis Taveling.


“Saya bercita-cita ingin menjadi Jurnalis Traveling. Sebab, apalah arti sebuah kehidupan, jika perjuangan kita tidak bermakna untuk orang lain. Sama halnya dengan apalah arti, si Vero, kalau perjuangan, Vero, yang dibenihkan sejak dulu dalam diri tidak bermanfaat untuk orang lain. Maka itu, saya ingin jadi Jurnalis Traveling,” tutur Veronika.


Menurutnya, menjadi jurnalis merupakan poin prestasi tambahan yang harus Ia tuai. Sebab, dengan memilih berkarir sebagai jurnalis, dirinya mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat baik untuk banyak orang.


Namun di sisi lain, sebagai anak sekolah yang gemar membaca, Vero, sangat menyayangkan bahwa selama ini tampak di sejumlah bilik dinding informasi, banyak berita hoax yang beredar.


"Ketika kita turun langsung untuk melihat lebih dekat kondisi itu, ternyata ada begitu banyak fakta aktual yang bisa kita simpulkan, bahwa kenyataannya tidak sesuai dengan informasi hoax yang beredar," katanya.


Karenanya, Vero, ingin menjadi jurnalis. Menurutnya, hanya jurnalis yang mampu memberikan informasi yang pasti dan akurat kepada dunia. Vero mencontohkan, fakta-fakta lapangan dengan meliput, jurnalis tentu mengantongi hasil wawancara narasumber, foto, video visual, peristiwa yang akan menjadi data pendukung, yang harus digenggam jurnalis. Tentu saja, seluruh pemberitaan yang dipublikasikan oleh setiap jurnalis, bisa dipercaya dan pastinya otentik, serta dapat dipertanggung jawabkan kepada publik.


Selain itu, Ia menuturkan, dirinya tidak bisa hidup normatif, seperti menjadi pekerja di perusahan atau kantor dengan penghasilan fantastis, namun tanpa ada hal positif yang akan bermanfaat untuk orang lain. Karena baginya, meski dengan berpenghasilan besar, tidak banyak yang mau dikenang. 


"Kalau menjadi jurnalis, meskipun dengan penghasilan serba berkecukupan, tetapi karya tulis positif kita akan selalu dikenang sepanjang masa. Ya, meskipun nanti gaji pas-pasan, tetapi karya tulis saya pasti akan dikenang sepanjang masa oleh banyak orang-orang yang membaca karya saya," ungkap Veronika.


Realita itu yang membuat, Veronika Raymond, ingin mengabdikan kesungguhan secara total di dunia jurnalis. Karena menurutnya, dengan menjadi seorang jurnalis, Ia mampu menciptakan banyak karya yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.


“Kira-kira saya hidup bisa menghasilkan apa untuk orang lain. Ketika saya sudah tidak ada, kira-kira saya dikenang sebagai apa. Apakah sebagai, Vero, yang pekerja keras, yang malas-malasan, ataukah yang hanya fokus dengan dirinya sendiri, atau yang mau berbagi untuk banyak orang,” katanya.


Selian itu, Ia juga ingin mengabadikan perjalanan hidupnya untuk mengenal keberagaman budaya dan potensi pariwisata di daerah lain. Semua itu, yang memantik, Veronika, ingin menjadi Jurnalis Traveling. Karena dengan begitu, ketika dirinya berangkat ke suatu tempat, yang harus diwujud nyatakan adalah membawa perubahan di tempat itu.


Ia bercerita, dirinya mempunyai kegemaran yang sama seperti Ayahnya, Gilles Raymond. Karena dulu, sewaktu masih di Canada, Ayahnya adalah seorang jurnalis. Namun karena mimpinya ingin bertualang ke Pulau Flores, Indonesia, Ayahnya meninggalkan pekerjaan itu.


“Ayah saya dulu adalah seorang jurnalis di Canada. Ayah saya suka menulis dan karena kegemaran kami sama, saya ingin ikut seperti Ayah untuk melanjutkan karyanya dalam dunia jurnalis,” ungkap Vero penuh haru.


Ia berharap, kelak setelah menjadi jurnalis, Ia dapat melanglang buana, meliput seluruh proses adat istiadat dan budaya, dari Sabang sampai Marauke. Karena, ada begitu banyak mimpi yang harus Ia nyatakan selama berkarir sebagai seorang Jurnalis Traveling sejati. 


Vero Si Aktivis Pendaki Gunung


Vero mengatakan, mencintai dunia petualangan sebagai seorang pendaki gunung, merupakan hobi yang sudah mendarah daging.


Sejak Ia menginjakkan kedua telapak kakinya mengenyam pendidikan di Kota Pancasila, Vero, juga aktif terlibat dalam komunitas pendaki gunung bernama Komunitas Para Pendaki Tampan (PAPETA).


Ia menceritakan, dirinya aktif di dunia petualangan sebagai pendaki gunung, awalnya memang karena gemar jalan-jalan. Namun kian hari, dirinya makin mencintai dunia petualangan itu, sebab ada begitu banyak hal positif yang Ia timba.


Menutunya, alam adalah maha guru terhebat yang telah mengajarkan dirinya banyak hal, salah satunya tentang keramahan. Gunung adalah rumah belajar untuk dirinya mengumpulkan puing-puing mimpi, mendesainkan cita-cita menjadi harapan yang harus diraih, salah satunya adalah menjadi jurnalis.


“Selama pendakian, saya belajar membaca alam dari ketinggian, saya belajar meliput keramahan alam dari dekat, saya belajar bernarasi tentang alam, saya belajar bertanggung jawab, dan saya belajar keberanian. Ternyata, semua itu adalah etape proses yang harus saya lalui. Pokoknya, selama pendakian saya mendapatkan banyak hal baru dan positif. Saya senang sekali," tuturnya bersemangat.


Ia mengisahkan, bagaimana dalam kondisi sangat lelah, para pendaki harus melaksanakan aksi balas budi kepada alam, salah satunya dengan mengumpulkan sampah yang dibuang sembarangan untuk dibawa pulang. Menurutnya, hal itu adalah ucapan terima kasih mereka Komunitas PAPETA kepada alam.


Pengalaman petuangan itulah yang memantik, Vero, untuk menjawabi segala mimpi yang telah didesain menjadi cita-citanya selama dalam pendakian. Tentunya, ekspektasinya akan menjawabi impiannya, agar apa yang Ia torehkan dalam perjuangan hidupnya itu bermanfaat untuk orang lain.


Veronika mengatakan, setelah tamat sekolah, Ia bertekad melanjutkan ke jenjang universitas dan akan berkuliah mengambil Jurusan Komunikasi. Menurutnya, jurusan itulah yang akan menjembataninya menjadi seorang jurnalis.


“Sekarang saya berada di bangku Kelas XI Jurusan IPS SMAK Syuradika Ende. Saya bertekad, setelah selesai sekolah, saya akan lanjut kuliah ambil Jurusan Komunikasi. Kemarin saya sudah sampaikan niat saya kepada orang tua, dan orang tua merestui niat saya," terangnya.


Menjadi Jurnalis Harus Berani


Secara terpisah, salah seorang Wartawati RRI di Kabupaten Ende, Natalia Desianti, kepada media ini, Rabu (13/1/2021) lalu, mengatakan, kepada siapapun yang ingin menjadi jurnalis, harus mempunyai panggilan jiwa, kemauan dan tekad, serta keberanian. Menurutnya, pahit dan manisnya tantangan yang dihadapi setiap jurnalis, merupakan konsekuensi logis dari sebuah profesi jurnalis. 


"Namun, segala yang kita alami dan rasakan, akan bermakna positif jika kita mampu mengatur semua itu dengan baik," katanya.


Natalia mengatakan, ada begitu banyak hal manis yang dapat ditimba sebagai jurnalis. Salah satunya, bisa mengenal orang banyak. Baginya, salah satu hal berkesan selama Ia menjadi jurnalis, adalah mewawancarai, Paus Fransiskus. 


"Kita bisa menciptakan banyak karya jurnalis, yang tentu akan dikenang oleh kebanyakan orang. Ada begitu banyak hal yang membuat saya tetap mencintai dunia jurnalis. Dengan menjadi jurnalis, kita bisa mengenal banyak orang, kita bisa bertemu banyak orang, kita bisa bertemu dan berbincang dengan orang penting,” ungkapnya.


Ia menyadari, jika dirinya bukan seorang jurnalis, tentunya Ia tidak akan bertemu, berkenalan dan berbincang-bincang dengan banyak orang, apalagi orang-orang penting.


"Dalam dunia jurnalis, kita tidak kaya uang. Tetapi kita kaya jaringan, pertemanan dan lebih dari itu adalah kita kaya akan karya. Sementara untuk hal pahit, tentu ketika kita berada dalam tantangan yang paling menantang, adalah kita harus tetap objektif dalam meliput suatu peristiwa ataupun masalah. Entah itu keluarga ataupun teman karib, kita tetap harus profesional dalam mengemban tugas sebagai jurnalis," paparnya.


Ia mencontohkan, ketika dihadapkan dengan sebuah kasus, sementara secara keterlibatan dalam kasus itu adalah keluarga ataupun teman akrab, seorang jurnalis tetap wajib dan harus meliput kasus tersebut, karena itu tuntutan profesi sebagai pewarta.


“Saya harus mengorbankan sisi pertemanan dengan mengedepankan profesional dan objektifitas sebagai jurnalis. Walaupun seutuhnya bukan untuk berkorban. Namun pasti ada yang berubah, ketika saya meliput dan mengangkat kasus untuk diberitakan," Ujar Desi


Menurutnya, hal itu menjadi tantangan paling berat, terutama yang bertugas di daerah, di mana semua orang adalah kerabat. Jadi ketika mengulas sebuah kasus yang terlibat adalah teman sendiri, seorang jurnalis harus mengorbankan pertemanan. Itu yang sering terjadi. 


"Hal itu jadi tantangan paling menantang. Saya beberapa kali berada dalam lingkungan yang awlanya baik, tiba-tiba menjadi tidak baik, karena kita sudah mengupas tuntas kasusnya. Itu yang membuat ingkungan pertemanan saya menjadi tidak baik. Ya, mau tidak mau kita harus korbankan pertemanan dengan profesionalitas kita sebagai jurnalis,” tuturnya.


Dari pengalaman itu, Ia mengisahka, sekalipun hubungan pertemanan menjadi tidak baik, namun dirinya tidak pernah ingin merubah kenyataan itu. Menurutnya, perlahan dengan sendirinya, lingkungannya akan menyadari bahwa dirinya berada dalam tuntutan profesi sebagai seorang jurnalis, demi kebaikan orang banyak.


Beruntung Jadi Jurnalis Perempuan


Natalia Desianti, yang juga pernah menjadi salah satu utusan dari RRI Nasional untuk menjalani tugas peliputan perayaan Natal dan Tahun Baru di Roma, Italia, mengaku sangat bersyukur menjadi jurnalis perempuan.


Baginya, ada begitu banyak kesempatan yang Ia dapatkan ketika menjadi jurnalis perempuan. Salah satu contoh, ketika berada dalam antrian peliputan, perempuan selalu diutamakan untuk mewawancarai narasumber. 


“Jadi kalau soal diskriminasi, hampir tidak pernah ada. Karena memang menjadi jurnalis perempuan adalah keberuntungan,” tambah Natalia Desianti.


Ia mengungkapkan, untuk memantik generasi muda mencintai dunia jurnalis, dirinya harus mampu menjadi sosok idola, khususnya bagi kaum perempuan.


“Mungkin saja, disebabkan oleh cerita tentang kesulitan menjadi seorang jurnalis perempuan, makanya profesi jurnalis tidak menjadi urutan pertama dari pilihan pekerjaan bagi kaum perempuan,” ungkapnya.


Namun, Ia meyakini, jika seorang jurnalis banyak mewartakan soal kemudahan menjadi jurnalis perempuan, maka akan banyak juga perempuan yang tertarik dan bercita-cita menjadi jurnalis.


Ia menerangkan, untuk memotivasi kaum perempuan mencintai dunia jurnalis, para jurnalis perempuan harus banyak menciptakan prestasi karya jurnalis. Sehingga dari prestasi karya itu, dapan mengajak kaum perempuan lainnya untuk terlibat dalam dunia jurnalis.


Meski demikian, Ia menyadari, menjadi jurnalis perempuan tentu kembali kepada panggilan jiwa seseorang. Jika seseorang memang menggemari dunia jurnalis, pasti akan terlibat dan mengambil jalan seperti itu.


"Jika tidak menjiwai dunia jurnalis, ya solusinya itu tadi, harus banyak menciptakan prestasi yang mampu memompa semangat perempuan untuk menjadi jurnalis," tukasnya.