Iklan

Ignasius Tulus
9 Jan 2021, 09.55 WIB
Headline

Nakes Lalai, Nyawa Seorang Bayi di Matim Tidak Tertolong

 

Ilustrasi. (Foto: Net)

Manggarai Timur, Floreseditorial.com — Diduga karena kelalaian para tenaga kesehatan (Nakes) dan  buruknya standar operasional pelayanan (SOP) di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Watu Mori, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), sepasang suami istri, Gonsa dan Merlin, terpaksa harus kehilangan seorang anak kesayangan mereka.


Saudara kandung Merlin, Rikardus Theo Pantar, kepada floreseditorial.com mengisahkan, Merlin berada di poskesdes watu mori selama tiga malam untuk menjalani proses persalinan.


Pada malam kedua, Kata Rikardus, pihak keluarga meminta agar Merlin segera dirujuk ke RSUD Ben Mboi Ruteng.


“Malam kedua, saya liat saya punya saudari tidak bisa buat apa-apa lagi. Melihat hal itu, saya minta petugas kesehatan membuat surat rujukan ke Ruteng. Tapi mereka bilang, tunggu perubahan,” ujar Rikardus.


Mendengar jawaban dari tenaga kesehatan (Nekes) itu, Kata Rikardus, pihak keluarga pun terpaksa harus memilih menunggu.


Namun setelah sekian lama menunggu, lanjut Rikardus, tidak ada perubahan yang terjadi pada Merlin.


“Kemarin (Kamis, 7/1/2021) jam 7 sore, saya minta agar dirujuk lagi. Mereka tetap tidak mau. Tadi pagi juga (Jumat, 8/1/2021) saya minta agar dirujuk lagi. Mereka jawab belum saatnya,” katanya lagi.


Sesaat setelah permintaan itu, Lanjut Rikardus, bayi itupun dilahirkan. Namun, meski sudah dilahirkan, Petugas kesehatan di Poskesdes Watu Mori, akhirnya membuat rujukan ke Puskesmas Sita.


“Memang bayi tidak menangis setelah dilahirkan. Mereka bilang bayi harus diantar ke Puskesmas Sita. Sampai di Puskesmas sita, mereka pasang oksigen. Saat itu saya tanya kondisi bayi, petugas bilang denyut nadinya masih ada,” kata Rikardus.


Namun, tak lama setelah itu, Lanjut Rikardus, Petugas kesehatan di Puskesmas Sita menyarankan agar bayi tersebut harus segera di larikan ke Rumah Sakit Ben Mboi Ruteng.


“Tadi saya tidak ikut ke Ruteng. Saya telefon keatas, bayi masih di rawat di ruang UGD. Lima menit setelah itu, keluarga yang ikut ke RSUD telefon saya bilang bayi sudah meninggal,” katanya lagi.


Atas lambatnya respon dari petugas puskesmas di Poskesdes Watu Mori, Rikardus mengaku dirinya sangat kecewa.


“Kenapa tidak mau dirujuk dari awal sejak kami sebagai keluarga meminta agak pasien segera dirujuk. Sehingga nyawa anak kami bisa diselamatkan,” katanya.


Selain itu, Rikardus juga sangat menyayangkan fasilitas di Poskesdes tersebut yang tidak memadai. 


Katanya, saat berada di Poskesdes selama tiga malam, pihak keluarga hanya diterangi lampu cas.


“Tiga malam kami di poskesdes, tiga malam kami hanya diterangi lampu cas,” tutupnya.