Advertisement

Robert Nong Soni
3 Jan 2021, 22.32 WIB
Headline

Pelayanan Buruk, Anggota DPRD Provinsi NTT Marah - marah di RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka

 

Keluarga Pasien bersama Anggota DPRD Provinsi NTT, Syaiful Sengaji, saat berada di RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka. (Foto: Robert Nong Soni)

Flores Timur, Floreseditorial.com - Sejumlah keluarga pasien yang sedang dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, kecewa dengan lambannya penanganan pasien oleh Tenaga Kesehatan (Nakes) di rumah sakit tersebut.


Hal ini disampaikan keluarga pasien ketika ditemui media ini di ruang IGD RSUD dr. Herman Fernandez Larantuka, Minggu (3/1/2021).


Salah satu pasien yang masuk IGD sejak Sabtu (2/1/2021), Siti Hawa (70), bersama beberapa pasien lansia lainnya harus mengantri di IGD, karena belum dilakukan rapid test.


“Terhadap, Siti Hawa, pihak rumah sakit menjanjikan bahwa pada Minggu (3/1/2021), petugas akan segera rapid test dan selanjutnya pasien akan dipindahkan ke ruangan rawat nginap,” kata selah seorang keluarga Siti Hawa.


Namun, hingga Minggu siang, para pasien tersebut belum juga dilakukan rapid test, dengan alasan stok di rumah sakit sedang kosong, sehingga pasien diarahkan melakukan rapid test sendiri di luar rumah sakit.


“Ingin dirawat di rumah sakit, tapi kita harus pergi rapid test di luar rumah sakit, lalu kembali ke rumah sakit, pelayanan rumah sakit macam apa ini,” katanya. 


Atas penanganan yang lamban itu, pihak keluarga pasien melakukan protes langsung ke Direktur RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, dr. Sanny.

 

“Saya sudah bangun koordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes), tetapi belum ada respon. Dinas yang salah, karena tidak segera merespon kebutuhan rumah sakit,” kata

dr. Sanny, saat dihubungi keluarga melalui telepon selulernya. 


Sementara itu, Anggota DPR Provinsi NTT, Syaiful Sengaji, yang saat itu ada di rumah sakit tersebut, berupaya menghubungi sejumlah pihak perihal buruknya pelayanan di RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka.


Ia pun marah, dengan jawaban Direktur rumah sakit yang terkesan tidak bertanggung jawab.


"Kalau tidak mampu jadi Direktur di RSUD ini, sebaiknya mengundurkan diri saja. Jawaban Ibu Direktur bodoh sekali. Kenapa harus mempersalahkan pihak Dinas Kesehatan?  Kalau management model ini, RSUD ini bisa tambah hancur kedepannya,” katanya.


Menurutnya, tanggung jawab utama seharusnya ada di pihak rumah sakit, dalam hal ini Direktur RSUD dr. Hendrikus Fernandez sebagian pemimpin utama di rumah sakit tersebut.


“Ibu Direktur malah melempar tanggung jawab ini ke Dinkes. Saya akan jadikan ini sebagai temuan dan laporan ke Bupati,” ungkap Syaiful kesal.