Iklan

 


Redaksi Flores Editorial
30 Jan 2021, 14.51 WIB
Feature

"Saya Diperkosa Sejak Sekolah Dasar"

ME (13), Warga Asal Kecamatan Elar Selatan yang menjadi Korban Pemerkosaan sejak ia Masih duduk di Bangku Sekolah Dasar. (Foto: AJO Matim)


ME (13), duduk menepi saat mendatangi Kantor Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Manggarai Timur (Matim), pada Jumat (29/1/2020). Ia tak banyak bicara. Tatapan matanya Kosong. Terkadang, Ia melirik ke arah petugas berseragam cokelat yang tengah sibuk melayani aduan masyarakat. Sesekali, ME, menggerakkan tangannya untuk mengusir kegelisahan yang tengah Ia rasakan. 


ME, mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh, SP, sejak tahun 2019 silam. Saat mendapat perlakuan yang merenggut masa depannya itu, ME, masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia masih sangat belia. 


"Saya diperkosa sejak Sekolah Dasar" kata ME, saat ditemui Floreseditorial.com di Kantor Polres Matim.


ME, merupakan warga Kecamatan  Elar Selatan, Kabupaten Matim, Nusa Tenggara Timur (NTT).


“Dia (SP) warga satu kampung. Kejadian pertama terjadi pada 1 Februari 2019, dan waktu itu saya masih di Sekolah Dasar. Saat itu, saya baru pulang dari kebun," kisah ME menguraikan cerita pahit yang Ia alami sejak tiga tahun silam itu.


Tak kuat melanjutkan ceritanya, ME, menitikan air mata. Sesekali, Ia melirik ke arah Wartawan yang ingin memperoleh informasi tentang peristiwa tersebut.


"Dia (SP) sudah tunggu saya di jalan yang sepi,” ujarnya sambil menahan tangis.


ME mengaku, pada saat itu, SP, memaksanya memakan kue, sebelum melakukan tindakan bejatnya itu. Usai memakan kue itu, ME, menjadi hilang ingatan sesaat.


"Dia (SP) peluk saya dari belakang, sambil menutup mulut saya. Dia bawa pisau, parang, permen dan kue. Dia paksa saya makan kue, dan setelah saya makan itu kue, saya seperti hilang ingatan, sehingga saya tidak dapat meminta pertolongan. Setelah diperkosa, Dia juga foto saya yang dalam keadaan telanjang," kisah ME.


ME menyampaikan, setelah kejadian itu, pelaku selalu mengawasi aktifitas keseharian, ME. Bahkan, tindakan bejat pelaku itu tidak hanya dilakukan sekali saja.


“Hampir setiap hari Dia (SP) mengikuti saya. Bahkan, saya diperkosa lagi, tetapi usai kejadian itu saya seperti lupa ingatan, sehingga tidak bisa cerita ke Oma. Terakhir kali, Dia perkosa saya pada 1 Juni 2020. Kini, saya tengah mengandung, dan usia kandungan saya sudah tujuh bulan,” jelasnya.


Sementara itu, Ibu kandung korban, Adelia Irma Daul, yang selama ini tinggal di Kabupaten Ngada, mengaku, dirinya baru mengetahui kejadian itu sewaktu Ibundanya (Nenek korban) sedang sakit.


“Saya sendiri tinggal di Kabupaten Ngada dengan suami.  Waktu itu, pas Mama lagi sekarat, ME, mengaku kalau dirinya telah diperkosa berulang kali dan sudah hamil empat bulan berdasarkan tes kehamilan waktu itu,” tutur Adelia.


Ia menyampaikan, setelah mengetahui kejadian itu, pihaknya melakukan beberapa upaya agar pelaku bisa dihukum sesuai dengan perbuatannya.


“Pasca kematian Mama, saya pernah mengadu ke Polres Ngada di bagian Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). Setelah itu, saya ke Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Anak dan Perempuan (P3A) Kabupaten Ngada,” lanjutnya.


Pada saat itu, Kepala Bidang P3A Kabupaten Matim, Mikael Hamid Dohu, mengaku, mengetahui kejadian tersebut ketika memperoleh informasi dari Kabid P3A Kabupaten Ngada.


“Kami memperoleh informasi dari Kabid P3A Kabupaten Ngada. Langkah selanjutnya, kami datang ke Polres Matim untuk mendampingi korban bersama Ibunya, guna membuat Laporan Polisi (LP), supaya pelaku bisa diproses,” tukasnya.