Iklan

 


Rian Laka
26 Jan 2021, 11.30 WIB
Feature

Sejumput Asa di Bibir Pantura

 

Mama Pelixia, sedang duduk di depan gubuk sederhana miliknya. (Foto: Rian Laka)

Ende, Floreseditorial.com – Gelombang laut Pantai Utara (Pantura) di Kabupaten Ende, bukan penghalang bagi, Mama Pelixia (69), untuk menyambung hidup. Hujan dan angin kencang, bukan pula hambatan sulit baginya. Bertaruh nyawa, hidup di dalam gubuk reot berukuran 3x2 meter yang hanya berjarak tiga meter dari bibir Pantai Aewora, sudah Ia lakoni selama 39 tahun.


39 Tahun lamanya, Mama Pelixia, tinggal dan menetap di gubuk reot yang terletak di Pantai Utara, Desa Aewora, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Mama Pelixia, berasal dari Maumere. Ia merantau ke Desa Aewora dan memilih tinggal dan menetap sejak tahun 1982 silam.


Sudah biasa baginya, berjibaku dengan hujan dan angin kencang, atau tidur bersama gulungan ombak pantai utara saat air laut sedang pasang. Bahkan kadang-kadang, separuh gubuk tuanya tertimbun pasir laut. 


Rumah berukuran 3x2 meter itu, beratapkan daun kelapa dan berdinding pelupu, serta berlantai pasir, sangat jauh dari kata layak huni.


Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Mama Pelixia, harus berkuli batu kerikil. Keriput kulit di kedua telapak tangannya, tidak Ia hiraukan. Pekerjaan itulah yang menopang hidupnya selama 39 tahun belakangan.


Memikul dan memecahkan batu menjadi kerikil, sudah menjadi profesi yang harus digeluti perempuan malang itu, agar tetap bisa menyambung hidup.



“Kerikil yang sudah dipecahkan, saya isi di karung dan saya jual per karung Rp 10 ribu, kepada para pembeli yang membutuhkan,” ucap Mama Pelixia, sembari tersenyum penuh haru.



Senyum sebatang kara, tersungging dari sudut bibirnya yang sudah keriput.


“Seperti ini sudah kondisi saya di sini. Sudah cukup lama saya tinggal disini. Saya sudah terbiasa dengan ombak,” kata Mama Pelixia, sambil menunjuk ke arah tumpukan kerikil yang sudah Ia hancurkan.



Tanpa Perhatian Pemerintah


Rumah gubuk mungil milik, Mama Pelisia, berjarak hanya tiga meter dari bibir pantai. (Foto: Rian Laka)



Sejak, Mama Pelixia, ditinggalkan suaminya pada tahun 1997 silam, perempuan malang itu hidup menjanda dengan tiga orang buah hati. 


Malang nian nasibnya, meski sudah puluhan tahun hidup menjanda, Mama Pelixia, selalu luput dari perhatian pemerintah setempat. 
 

Kepala Desa Aewora, Yulius Mangu, saat diwawancarai floreseditorial.com via telepon seluler, Senin (25/1/2021) malam, membenarkan perihal perihnya kehidupan, Mama Pelixia, yang tinggal hanya berjarak tiga meter dari bibir Pantai Aewora itu. 
 

Menurut Yulius, kondisi kehidupan, Mama Pelixia, sungguh sangat memprihatinkan. Katanya, Pemerintah Desa (Pemdes) Aewora sudah berupaya mengajukan bantuan untuk, Mama Pelixia, di Musyawarah Rencana Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam) untuk melakukan pemeringkatan prioritas usulan kecamatan. Namun, pengajuan itu, tidak direspon.

“Kami dari Pemerintah Desa sudah mengajukan dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan sebelum pandemi corona, kami sudah mengajukan berkali-kali dalam Musrenbangcam. Tetapi sampai saat ini, tidak pernah direspon,” terangnya.

Ia berharap, kiranya melalui tulisan rekan-rekan Wartawan, dapat menggugah nurani setiap orang untuk membantu, Mama Pelixia.