Iklan


 

FEC Media
26 Jan 2021, 18.57 WIB
Floreseditorial Plus

Tarian Vera: Narasi Kehidupan Etnik Rongga




Cikal bakal lahirnya tarian ini bermula dari ratapan satu keluarga pasangan suami-istri (pasutri) atas kehilangan anak lelaki mereka. Anak semata wayang itu hilang ketika orang tuanya pergi men-cari lauk di sungai. Pada saat itu, konon manusia cebol berpayudara raksasa bernama ‘Embu Ngiu’ menculik anak itu. Caranya, menukar anak itu dengan anaknya Embu Ngiu yang penuh bulu.


Mereka tahu anak itu telah diculik dan ditu-kar Embu Ngiu, ketika mereka kembali ke rumah karena merasa terganggu oleh suara lolongan se-ekor anjing yang terus menerus menggonggong di sekitar rumah. Saat tiba di rumah, pasutri itu tidak menemukan anak mereka. Malah, pasutri itu mendapatkan seorang anak penuh bulu dan berbau sedang berbaring persis di tempat anaknya dibaringkan sebelum mereka pergi mencari lauk di sungai.


Menyaksikan kondisi itu, pasutri itu panik, bingung dan heran. Lalu pasutri itu memutuskan untuk mencari anak mereka dengan menelusuri hutan rimba, namun tidak ditemukan. Konon, dalam pencarian itu, Sang Ibu terus meratap. Ra-tapan yang mengandung harapan, seruan agar anaknya segera ditemukan.


Namun, pencarian tersebut tidak membawa hasil apa-apa. Mereka tetap terus saja mencari dengan harapan suatu saat nanti anaknya bisa di-temukan dalam keadaan selamat. Harapan itu sia-sia. Sebab pencarian mereka selalu berujung pa-da hal yang sama; anak itu tidak ditemukan.


Beberapa tahun kemudian, pasutri itu ber-mimpi. Dalam mimpi, mereka berdua dituntun Embu Ngiu. Ternyata saat mereka sedang ber-mimpi itu, Embu Ngiu datang membawa anak ya-ng diculiknya itu. Tetapi apesnya, anak yang dikembalikan Embu Ngiu tersebut sudah dalam kondisi tak bernyawa. Sontak saja, keluarga ini meratap dan terus meratap. Ratapan pasutri itu diikuti anjingnya. Bahkan lolongan anjing amat panjang.


Duka nestapa dan ratapan keluarga itu ber-sama anjingnya kemudian ditutur ulang, ditafsir sesuai konteks kehidupan. Agar tetap abadi, ceri-ta itu diinterpretasi dalam bentuk tarian dan sy-air-syair. Hasil tafsiran itulah kemudian mewaris dan menjelma menjadi tarian peradaban budaya orang Rongga yakni, ’Vera’.


Ini Merupakan Konten Premium

Jadilah Pelanggan Floreseditorial+ Untuk Mendapatkan Akses Puluhan Berita Setiap Bulannya


LANGGANAN SEKARANG