Iklan

 




FEC Media
22 Jan 2021, 16.10 WIB
News

Tarik Menarik Aset SPBU Reok

 

SPBU Reok (Foto:Ist)

Manggarai, Floreseditorial.com -
Penutupan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berlokasi di Kedutu, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terhitung sejak November 2020 hingga Januari 2021, menuai banyak tanggapan publik.


Salah satu Pengacara Ahli Waris Aset SPBU Reo, Asis Deornay, kepada media ini, Kamis (21/1/2021), menyampaikan, konflik yang terjadi itu adalah sebuah konflik kepemilikan saham dan aset.


"Konflik itu diduga karena ditemukan penerbitan dua akta yang berbeda oleh parah ahli waris lainnya. Sehingga, pihak ahli waris mengambil langkah persuasif untuk melakukan penutupan operasional SPBU tersebut," ungkap Asis.


Ia menjelaskan, pada penerbitan akta tahun 2011, mencantumkan nama Komisarisnya yakni, Markus Kumpul, sebagai Pemilik Aset Usaha. Dalam akta tersebut, lanjutannya, menyebutkan adanya Perjanjian Kerja Sama Saham antara, Markus Kumpul dengan Eduardus Sianata, dalam mengelola SPBU.


"Markus mengajak Eduardus, untuk bekerja sama lantaran, Markus, membutuhkan modal tambahan untuk operasional SPBU. Pada saat itu, Markus Kumpul, sudah membangun infrastrukturnya dan sudah memberi nama perusahaannya waktu itu yakni, PT. Kumpul Bersama Saudara, saat Eduardus Sianatan baru bergabung," terangnya.


Asis menambahkan, dalam nama PT tersebut, memuat beberapa nama anak dari, Markus Kumpul, bahkan terlibat dalam menyumbangkan modal untuk perusahaan tersebut.


"Pada penerbitan Akta tahun 2015, yang mana para Ahli Waris yang lain baru mengetahuinya di bulan November 2020. Dalam akta tersebut, nama Markus Kumpul, tidak ada dan diganti nama anaknya yakni, Kristian Kumpul, sebagai Pemilik Perusahaan tanpa mengubah nama PT-nya," jelasnya.


Menurut Asis, penerbitan Akta tahun 2015 itu yang menjadi puncak konflik internal tersebut. Para Ahli Waris yang lain merasa dirugikan dan tidak adil, atas perbuatan dari, Kristian Kumpul.


“Modus dibalik perbuatan, Kristian Kumpul dan Eduardus Sianatan, ini adalah sebuah problem keegoan, di mana Kristian Kumpul tidak mau membagikan dengan saudaranya yang lain,” ungkap Asis dalam keterangannya.


Penutupan SPBU juga, menurut Asis, karena adanya praktik-praktik nakal dalam penjualan minyak dan sering tidak mengikuti SOP dari Pertamina. Sehingga, para Ahli Waris dari, Markus Kumpul, memutuskan untuk mengambil alih SPBU Reo. (Kordianus Lado)