Iklan

Ignasius Tulus
15 Jan 2021, 18.24 WIB
Hukrim

Terlibat Tindak Pidana Perdagangan Orang, Pria di NTT Divonis Tujuh Tahun Penjara

  

Terpidana Tindak Pidana Perdagangan Orang, Stevan Agustinus. (Foto: Ignas Tulus)

Kupang, Floreseditorial.com - Terlibat dalam kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Stevan Agustinus, dijerat hukuman tujuh tahun penjara atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari tuntutan awal sepuluh tahun penjara.


Demikian disampaikan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Nusa Tenggara Timur (NTT), Yulianto, saat Konferensi Pers di Kantor Kejati NTT, Jumat (15/1/2021) pagi.


Yulianto menjelaskan, Stevan Agustinus, selama ini sudah menjadi buronan Intelejen Kejati NTT, karena menjadi aktor dalam TTPO.


“Dengan membentuk Tim Tangkap Buron (Tabur) bekerja sama dengan Kejati Sumatera Utara, untuk melakukan penangkapan terhadap terpidana Stevan,” tutur Yulianto.


Ia mengatakan, Stevan, dalam melakukan aksi perdagangan orang ke luar negeri, bekerja sama dengan, Yusak Gunanto, yang sudah ditangkap pihak Kejati beberapa waktu lalu di daerah Semarang. 


Ia menambahkan, modus yang dilakukan oleh para terpidana kasus perdagangan orang itu, adalah dengan memalsukan dokumen.


“Anak-anak kita yang di NTT ini, ditampung oleh yang bersangkutan (terpidana, red) untuk dikirim sebagai tenaga kerja, dengan menggunakan dokumen palsu, baik password maupun KTP,” tambahnya.


Ia menjelaskan, pada 11 Agustus 2016, Stevan, membawa sebanyak tiga orang anak-anak dari NTT dan berhasil sampai ke Malaysia.


“Anak-anak kita itu bernama, Megana Farida Bureni, Fedolina Usbata dan saksi, Anik Mariani,” jelasnya.


Namun saat itu, karena adanya prosedur yang tidak dipenuhi di Imigrasi Malaysia, ketiga anak tersebut dipulangkan ke Indonesia.


Ia melanjutkan, saat pulang ke Indonesia pada 12 Agustus 2016, terpidana Stevan bersama anak-anak dari NTT itu, berhasil diringkus Tim Bareskrim Mabes Polri. Saat itu, kata Yulianto, perkara tersebut diserahkan ke Kejaksaan untuk dilakukan penuntutan. Namun setelah diperiksa, Stevan, berhasil kabur.


“Di luar perkara korupsi, pasti yang saya kejar pertama kali adalah tindak pidana perdagangan orang. Saya tidak ingin diperlakukan/dipekerjakan tapi keuntungannya untuk mereka-mereka ini,” tegasnya.


Yulianto menjelaskan, pihaknya masih mengejar satu buronan lagi yang diketahui bernama, Rahmawati, yang saat ini berada di Malaysia.


“Kita harus ada kerja sama yang erat dengan Malaysia. Yang bernama, Rahmawati, itu ada di Malaysia. Itu deteksi kami,” ungkapnya.


Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Kupang, Odermax Sombu, mengatakan, selain Rahmawati, terdapat juga terdakwa lain yang masih menjadi buronan.


“Ada terdakwa lain itu bernama, Kamarudin Rahap,” tukasnya.