Iklan

Benediktus Kia Assan
28 Feb 2021, 22.36 WIB
News

Akibat Flu Babi, Masyarakat Lembata Alami Kerugian Rp 30 Miliar

Sejumlah ternak babi di Kabupaten Lembata yang mati akibat flu babi, siap dikuburkan. (Foto: Ben Kia)

Lembata, Floreseditorial.com - Hanya dalam kurun waktu tiga bulan, masyarakat Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) kehilangan pendapatan mencapai Rp 30 miliar lebih, akibat kematian ternak babi, sejak Desember 2020 hingga akhir Februari 2021, yang jumlahnya lebih dari 8.000 ekor.


Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, penyakit African Swine Fever (ASF) atau flu babi yang mulai muncul pada Desember 2020 itu, mengakibatkan kematian pada sejumlah ternak babi, terhitung sejak 22 Desember 2020. 


Hingga 28 Februari 2021, kematian ternak babi di kabupaten tersebut mencapai 8.766 ekor, yang tersebar di sembilan kecamatan.


Jumlah tersebut jika dikonversi, mencapai Rp 30 miliar lebih, dengan rataan harga satuan ternak babi Rp 3.500.000.


Meski kehilangan pendapatan cukup tinggi, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lembata optimis untuk langkah pemulihan ekonomi dari sektor peternakan khususnya ternak babi. 


Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Kanis Tuaq, menegaskan, pihaknya optimis peternakan babi di Lembata akan kembali bangkit, karena populasi ternak babi di Lembata mencapai lebih dari 65 ribu ekor.


“Total populasi ternak babi di Lembata itu sekitar 65 ribu ekor. Yang mati ada 8.766, sampai hari ini (Minggu, 28/2/2021). Kita optimis akan pulih dan bangkit lagi," ungkap Kanis Tuaq, menjawab floreseditorial.com via telepon, Minggu (28/2/2021).


Ia menjelaskan, dari data pemerintah, diketahui ternak babi yang terdampak ASF sekitar 13 persen dari total populasi. Karena itu, pemerintah optimis bisa mengembalikan geliat ekonomi masyarakat di bidang peternakan babi. Apalagi menurut Kanis, hasil identifikasi di lapangan menunjukkan banyak ternak babi di Kota Lewoleba yang menjadi wilayah awal penyebaran virus ASF, masih selamat dan bertahan hidup.


“Dari hasil kunjungan dan identifikasi tim, ditemukan bahwa banyak ternak babi di Lewoleba yang masih hidup. Rata-rata usia di bawah satu tahun. Dan yang kita temukan, rata-rata babi yang selamat itu, yang ada dalam kandang kayu dan berbentuk panggung. Pemiliknya juga rutin membersihkan kandang pagi dan sore hari. Ini contoh yang baik. Saya berharap praktik baik ini nanti bisa diikuti oleh peternak lain, setelah keadaan kembali pulih," terangnya.


Terkait langkah pemulihan, pemerintah mulai menyiapkan skema pengembangbiakan ternak babi, untuk menjaga stok bibit. 


“Kita sudah mulai identifikasi lagi ternak yang masih aman, khususnya pejantan dan induk. Pemerintah nanti akan mulai pembibitan, dan nanti didistribusikan ke masyarakat. Namun, masyarakat juga harus pro aktif dengan mulai menerapkan pola peternakan yang berkualitas. Baik pakan maupun kandang, harus jadi perhatian serius," tambahnya.


Merugi, Peternak Babi Beralih Profesi


Meski pemerintah masih optimis terkait peternakan babi, sejumlah peternak babi di Lembata malah mulai beralih profesi. Di antaranya adalah, Bonefasius Kia dan Beatrix Wotan.


Dua peternak babi di Kota Lewoleba itu, mengaku terpaksa beralih profesi sejak semua ternak babinya mati terserang flu babi. 


Saat ini, Bonefasius, tengah menekuni ternak ayam kampung. Sedangkan Beatrix, membuka kios kecil di rumahnya.


“Saya sudah berharap banyak di usaha ternak babi. Tapi babi tiga ekor mati semua. Padahal sudah besar. Jadi saya istirahat dulu. Untuk sementara, saya urus kios kecil-kecil di rumah," terang Beatrix saat ditemui floreseditorial.com, Sabtu (27/2/2021). 


Sementara itu, Bonefasius Kia, terpaksa meninggalkan usaha ternak babi setelah semua babi peliharaanya juga mati terserang flu babi. Diketahui, Ia mengembangkan ternak babi langsung di kebunnya. Namun flu babi telah merenggut usahanya. Pria dengan kondisi disabilitas fisik itu pun, kini banting setir menekuni ternak ayam kampung.


“Babi sudah mati semua. Jadi sekarang saya lebih baik urus ayam kampung. Ayam sudah menetas dan saya mau urus itu saja,” jelasnya.