Iklan

 


Ignasius Tulus
18 Feb 2021, 21.20 WIB
Hukrim

Ali Antonius Ditetapkan Jadi Tersangka, Peradi NTT: Ini Bukti Matinya Keadilan

Fransisco Bernado Bessi, Kuasa Hukum tersangka, Ali Antonius. (Foto: Ist)




Kupang, Floreseditorial.com - Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT), menyebutkan bahwa telah terjadi kematian proses keadilan secara hukum.


Hal itu disampaikan Peradi NTT, menyusul sesaat setelah ditetapkannya Wakil Ketua Peradi NTT, Ali Antonius, sebagai tersangka di balik keterangan palsu yang diberikan, Harum Fransiskus (HF) dan Zulkarnain Djuje (ZD), dalam Sidang Praperadilan terhadap Mantan Bupati Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Agustinus Ch. Dula, beberapa waktu lalu.


"Ini bukti matinya proses keadilan secara hukum. Tidak ada nurani bagi penegak hukum. Karena menurut kami, Beliau (Ali Antonius, red) menjalankan profesi Advokat," ujar Fransisco Bernado Bessi, selaku Kuasa Hukum tersangka, Ali Antonius, saat memberikan Keterangan Pers kepada awak media di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, Kamis (18/2/2021) sore.


Ia menambahkan, dalam waktu dekat, pihaknya akan mengirimkan surat kepada pihak Penyidik Kejati NTT.


"Proses dari teman-teman Penyidik kami hargai dan hormati. Tetapi kami tentu punya pendapat dan pandangan yang berbeda," ungkap Fransisco.


Ia menjelaskan, sebagai Advokat di NTT, pihaknya tetap mendukung dan membantu, Ali Antonius, sampai proses hukum yang sedang berjalan tuntas. 


Diberitakan media ini sebelumnya, Ali Antonius, yang sebelumnya ditetapkan sebagai saksi dalam keterangan palsu yang diberikan, Harum Fransiskus dan Zulkarnain Djuje, dalam Sidang Praperadilan terhadap, Gusti Dula, resmi ditetapkan sebagai tersangka.


Hal itu dibenarkan Kasie Penkum Kejati NTT, Abdul Hakim, ketika diwawancarai floreseditorial.com, Kamis (18/2/2021) sore.


"Ditetapkan sebagai tersangka karena didukung oleh keterangan saksi dan hasil rekonstruksi tadi," ujar Abdul Hakim.


Ia menjelaskan, Ali Antonius, ditetapkan sebagai tersangka aktor intelektual di balik keterangan palsu yang diberikan, Harum Fransiskus dan Zulkarnain Djuje, pekan lalu.


"Pak Anton, ditahan sementara di Rutan Polda NTT," katanya.


Abdul menjelaskan, Ali Antonius, disangkakan melanggar Pasal 22 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara.

Pengacara kondang itu, kata Abdul, diduga kuat telah mengarahkan, Harum Fransiskus dan Zulkarnain Djuje, untuk bersaksi palsu dalam Sidang Praperadilan Penetapan Tersangka Mantan Bupati Kabupaten Mabar, Agustinus Ch. Dula, beberapa waktu lalu.


“Ancaman pidana penjara minimal tiga tahun, maksimalnya 12 tahun. Ia ditetapkan sebagai tersangka karena didukung oleh keterangan saksi dan hasil rekonstruksi tadi," tukasnya.