Iklan

 


Ignasius Tulus
13 Feb 2021, 12.07 WIB
Hukrim

Kejati NTT Tetapkan Harum Fransiskus dan Zulkarnain Djuje Jadi Tersangka

 
Kasipenkum Kejati NTT, Abdul Hakim (Ist)

Kupang, Floreseditorial.com - Dinilai memberikan keterangan palsu, dua warga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, Kamis (11/2/2021) malam.


Kedua orang tersangka baru itu masing-masing bernama, Harum Fransiuskus (HF) dan Zulkarnain Djuje (ZD). Keduanya ditetapkan sebagai tersangka usai menjalani serangkaian pemeriksaan.


Kepala Seksi (Kasie) Penerangan Hukum (Penkum) Kejati NTT, Abdul Hakim, kepada Wartawan mengatakan, HF dan ZD, langsung ditahan di Rutan Kelas II B Kupang, usai menjalani pemeriksaan.


Abdul Hakim, menjelaskan, HF dan ZD, diduga telah dengan sengaja menghalangi, mencegah, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung proses penyidikan atau penuntutan dan pemeriksaan di Pengadilan, terhadap tersangka dan terdakwa ataupun saksi-saksi lainnya, dalam perkara tindak pidana korupsi pengalihan aset negara di Labuan Bajo.


“Iya, pokoknya ada dugaan Penyidik dengan keterangan seperti itu, yang diberikan di sidang praperadilan bisa menghalangi penyelidikan,” ujarnya.


Sebelumnya, kepada Wartawan di Kupang, Abdul, menjelaskan, HF dan ZD, ditangkap pihak Penyidik Kejati NTT di rumah, Ali Antonius, yang berlokasi di TDM. Diketahui, Ali Antonius, merupakan Kuasa Hukum dari Bupati Mabar, Agustinus Ch. Dula.


Abdul mengatakan, saat Penyidik melakukan penangkapan, HF dan ZD, belum ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya ditangkap di rumah, Antonius Ali, pada Kamis (11/2/2021) sore.


HF dan ZD, ditangkap usai memberikan keterangan dalam Sidang Praperadilan Bupati Mabar, Agustinus Ch. Dula, di Pengadilan Negeri (PN) Kupang, Kamis (11/2/2021).


Informasi yang dihimpun media ini, kedua orang itu ditangkap lantaran diduga memberikan keterangan palsu saat menjalani Sidang Praperadilan Bupati Mabar, Agustinus Ch. Dula.


Untuk diketahui, kasus jual beli aset negara di Labuan Bajo itu telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 1,3 Triliun. Sejauh ini, Kejati NTT sudah menahan sekitar belasan orang tersangka.