Iklan

 


Rian Laka
6 Feb 2021, 18.32 WIB
HeadlineNews

Tak Ada Jembatan, Warga Nangapanda Terobos Derasnya Sungai Ndetufeo Dengan Seutas Tali

 
Warga Kecamatan Nangapanda, kabupaten Ende saat menyeberangi Sungai Ndetufeo menggunakan seutas tali nilon, karena tak ada jembatan penghubung. (Foto: Screenshot Video)



Ende, Floreseditorial.com - Melawan amukan arus banjir Sungai Ndetufeo, merupakan perkara tahunan yang amat pelik baga warga yang tersebar di empat desa di wilayah Barat, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Saat musim hujan tiba, masyarakat Desa Kerirea, Desa Sanggaroro, Desa Jemburea, dan Desa Timbazia, di Kecamatan Nangapanda, harus 'menelan lumpur' di wilayah mereka sendiri.


Akibat terhalang banjir, warga di empat desa tersebut harus berjibaku melawan derasnya arus Sungai Ndetufeo sejauh 40 meter, dengan bermodalkan seutas tali nilon.


Kepala Desa Kerirea, Ambrosius B. Karo, saat dihubungi floreseditorial.com via telepon, Sabtu (6/2/2021), mengatakan, letak Sungai Ndetufeo tepat berada di wilayah Desa Kerirea, merupakan satu-satunya poros tengah atau jalur tunggal yang menghubungkan empat desa di wilayah Barat, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.


Ia mengakui, ketiadaan jembatan penghubung, menyebabkan warga harus nekat menerjang banjir serta derasnya arus Sungai Ndetufeo, menggunakan seutas tali nilon agar bisa sampai ke kampung halaman masing-masing. 


Menurut Ambros, tingkat risiko yang dihadapi masyarakat sangat tinggi, bahkan jika salah pijak, dapat menelan korban jiwa. Meski demikian, tak ada pilihan lain, mereka tetap harus menaklukkan Sungai Ndetufeo, karena itu merupakan satu-satunya jalur tunggal untuk menjalankan aktivitas perekonomian dan pendidikan di empat desa tersebut.


"Sudah bertahun-tahun, ketika musim penghujan tiba, kami seluruh masyarakat di empat desa yang berada di wilayah Barat, Kecamatan Nangapanda, harus mengalami kesulitan seperti ini. Karena setiap kali banjir, kami harus menggunakan seutas tali untuk menyeberang deras arus banjir Sungai Ndetufeo,” ujar Ambrosius.


Meski demikian, menyadari tingginya kebutuhan dan permintaan masyarakat terhadap perekonomian keluarga, maka meski dengan tantangan kondisi alam yang berisiko, mereka tetap berusaha dan berjuang memikul barang dagangan, barang komoditi dan hasil bumi lainnya untuk dijual ke pasar. 


Warga Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende saat menyeberangi Sungai Ndetufeo menggunakan seutas tali nilon, karena tak ada jembatan penghubung. (Foto: Screenshot Video)


Pengajuan Jembatan Tak Kunjung Direstui


Ambrosius B. Karo, mengatakan, sudah bertahun-tahun, pihaknya mengusulkan pembangunan jembatan, baik melalui pemerintah kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan pemerintah pusat, namun tak sekalipun mendapatkan restu.


Sementara, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Ende, tak menyadari bahwa pembangunan jembatan di Sungai Ndetufeo sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat yang menetap di empat desa di wilayah Barat, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.


"Soal pembangunan, kami merasa seperti dianak tirikan dari perhatian Pemda Kabupaten Ende,” terangnya.


Pihaknya berharap, Pemda Kabupaten Ende dapat merestui usulan masyarakat, menyangkut pembangunan Jembatan Sungai Ndetufeo. Karena usulan jembatan merupakan poros tunggal untuk melancarkan akses perekonomian, transportasi, maupun pendidikan masyarakat di empat desa di wilayah Barat, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.


“Berkaitan dengan fasilitas umum jembatan, semoga dapat segera dibangun. Jika tidak, maka peristiwa ini akan terus terulang. Karena saat musim hujan, semua akses akan macet total," tukasnya.

Berikut, detik-detik saat warga di Kecamatan Nagapanda menerobos derasnya arus Sungai Ndetufeo.