Iklan


 

Ephianus Yudhivan Aris| <br>Penulis<br>
7 Feb 2021, 13.14 WIB
Wisata

Tari Caci, Ajang Pembuktian Kejantanan Pria Manggarai

Tarian Tradisional Caci (Ist)


Manggarai, Floreseditorial.com-Dianggap sebagai aset vital budaya dan merupakan salah satu pertunjukan budaya yang khas, eksistensi tarian tradisional harus tetap dijaga, karena dinilai memiliki pesona yang sanggup memuaskan keinginan umat manusia masa kini, untuk kembali menyaksikan kebiasaan lama di tengah merebaknya godaan modernisasi.


Bicara tentang tarian tradisional, di bagian barat Pulau Flores terdapat sebuah tarian yang begitu melegenda, berasal dari kebudayaan Suku Manggarai. 


Adalah Tarian Caci. Tarian yang dilakoni sepasang kaum pria ini sangatlah menarik untuk disaksikan dan ditilik sejarahnya.


Sejarah Tarian Caci


Menurut sumber sejarah yang ada, Tari Caci ini bermula dari tradisi masyarakat Manggarai, di mana para laki-laki saling bertarung satu lawan satu untuk menguji keberanian dan ketangkasan mereka dalam bertarung. Tarian ini kemudian berkembang menjadi sebuah kesenian, di mana terdapat gerak tari, lagu dan musik pengiring untuk memeriahkan acara. 


Secara etimologi, Tarian Caci berasal dari dua kata yakni 'ca' yang artinya satu dan 'ci' yang artinya uji. Jadi secara harafiah, Caci dapat diartikan sebagai uji ketangkasan satu lawan satu antara sepasang penari pria. Wowww!


Aturan Permainan Caci


Atraksi tarian Caci. (Foto:Ist)


Layaknya tarian pada umumnya, Tarian Caci juga memiliki aturan atau tata cara dalam pementasannya.


Caci digelar di halaman rumah adat kelompok tuan rumah (ata one) dengan mengundang kelompok pendatang dari desa lain (ata pe’ang atau meka landang) sebagai penantang.


Kedua penari pria bertarung dalam wujud tarian menggunakan larik (cambuk) dan ngiling (perisai), dengan diiringi alunan musik tradisional dari gong dan gendang, serta nyanyian (nenggo atau dere) para pendukung. 


Kedua penari ini, akan bergantian peran, sebagai pihak penyerang dan pihak bertahan. Pihak penyerang akan menggunakan larik, sedangkan penagkis atau pihak bertahan akan menggunakan ngiling.


Penari Caci tidak hanya menari dan mencambuki pihak lawan, akan tetapi mereka juga berpantun dan meneriakkan julukan bagi dirinya (paci) lalu kemudian bernyanyi. 


Bagian tubuh yang menjadi sasaran cambuk adalah kepala hingga perut. Sementara bagian tubuh seperti pinggang, paha hingga kaki yang ditutupi pakaian bukanlah sasaran cambuk dalam tarian ini


Bila pukulan lawan dapat ditangkis, itu berarti cambukan tersebut tidak mengenai badan. Begitu pun sebaliknya, badan akan terkena cambukan dan menderita luka apabila tidak dapat menangkis cambukan lawan. 


Penentu menang dan kalah dalam tarian ini, apabila cambukan mengenai mata. Kalau hal itu terjadi, maka pemain itu langsung dinyatakan kalah (beke), dan kedua pemain segera diganti.


Atribut Tarian Caci


Atraksi tarian Caci. (Foto:Ist)

Adapun atribut yang dipakai penari dalam melakoni tarian ini adalah sebagai berikut:


Pemain tidak memakai baju alias telanjang dada dan memakai celana kain putih panjang dengan balutan kain tenun daerah (songke) hingga selutut. Dilengkapi dengan pecut/cambuk (larik), perisai (nggiling), penangkis (agang), di tangan dan panggal (penutup kepala). Di pinggang belakang dipasang untaian giring-giring (nggorong) yang berbunyi mengikuti gerakan pemain.


Topeng atau hiasan kepala (panggal) dibuat dari kulit kerbau yang keras berlapis kain berwarna-warni. Hiasan kepala yang berbentuk seperti tanduk kerbau ini dipakai untuk melindungi wajah dari cambukan. Wajah ditutupi kain destar sehingga mata masih bisa melihat arah gerakan dan pukulan lawan.


Untuk diketahui, Tarian Caci juga merupakan ajang pembuktian kekuatan bagi seorang laki-laki Manggarai. Luka-luka akibat cambukan pun dikagumi sebagai lambang maskulinitas. Wowww keren!


Jadi, jika kamu sedang berada di Pulau Flores, menyaksikan Caci adalah hal yang wajib kamu lakukan. Jangan lewatkan kekhasan budaya yang satu ini ya... Selamat menikmati Tarian Caci.