Iklan

 


Redaksi Flores Editorial
1 Feb 2021, 17.30 WIB
HeadlineNews

Terjangkit ASF, 1.000 Lebih Ternak Babi di Lembata Mati

 
penguburan 1.000 Lebih ternak babi di Lembata yang mati akibat wabah ASF. (Foto: Ist)


Lembata, Floreseditorial.com – Sebanyak 1.000 ekor lebih ternak babi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) mati akibat African Swine Fever (ASF) atau flu babi. 


Hal tersebut disampaikan Koordinator Penguburan Massal Ternak, Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Irenius Ola Samun, Minggu (31/1/2021). Menurutnya Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lembata menetapkan estimasi kerugian akibat wabah ASF tersebut di angka Rp 3,5 Juta per ekor. 


"Sejak 14 Januari 2021, diperkirakan lebih dari 1.000 babi mati akibat virus ASF.

Ada babi seharga Rp 9 Juta. Ada pula yang berkisar antara Rp 3 Juta sampai Rp 4 Juta per ekor. Dengan demikian, kami menetapkan estimasi kerugian materi di angka Rp 3,5 Juta rupiah per ekor,” ungkap Irenius.



Ia menyampaikan, angka tersebut dinilai realistis, guna mengukur kerugian berbagai jenis dan ukuran ternak babi yang mati akibat wabah ASF.


Menurutnya, sejak 14 Januari 2021, sebanyak 706 ekor babi telah dikuburkan di lokasi penguburan massal. Ada juga 300 ekor babi yang dikubur di lokasi panti asuhan, dan 400-an ekor yang dikubur sendiri oleh kemudian dilaporkan ke Dinas Peternakan.


Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Lembata, populasi ternak babi di Kecamatan Nubatukan sebanyak 3.000 ekor, dan sudah mati sekitar 1.000 ekor lebih.

 

“Virus ASF menyerang sampai 100 persen populasi babi, sehingga sepanjang masih ada ternak babi, virus ini masih ada. Kami tidak tahu sampai kapan ini akan berakhir," terangnya.


Irenius mengimbau, para peternak babi agar ternak yang masih hidup harus dirawat dengan baik dan diisolasi dari babi yang sakit. 


"Kalau mau kubur sendiri ternak yang mati, warga harus menggali kubur sedalam 1 sampai 1,5 meter," tukasnya.