Iklan

Redaksi Flores Editorial
3 Mar 2021, 22.22 WIB
Ekbis

Atasi Kelangkaan Pupuk, Pemuda Dampek Gelar Pelatihan Pembuatan Kompos Organik

Pelatihan pembuatan Kompos organik. (Foto:Ist)




Manggarai Timur, Floreseditorial.com - Kelompok Pemuda Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai berinovasi untuk mengatasi kelangkaan pupuk bersubsidi dari pabrik. 


Para pemuda isi desa tersebut berinisiatif melakukan pemberdayaan masyarakat, berupa transfer teknologi tentang pembuatan kompos organik. Kegiatan itu merupakan salah satu upaya para pemuda desa setempat, untuk memanfaatkan potensi lingkungan sekitar berupa sisa sampah organik.


Kegiatan yang dilaksanakan Kelompok Pemuda Desa Satar Kampas tersebut berupa pelatihan membuat pupuk kompos (pupuk organik), yang diikuti 20 peserta yang berprofesi sebagai Petani dan Peternakan, bertempat di Maki, Dampek, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, beberapa waktu lalu.


Koordinator Kegiatan Penyuluhan Pembuatan Pupuk Kompos, Fedi Jamin, mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menampilkan cara-cara baru dengan sedikit menggunakan sentuhan teknologi. Pemberdayaan melalui kegiatan penyuluhan, menurut Fedi, diperlukan untuk mengubah pola pikir, sikap dan prilaku masyarakat, guna membangun kehidupan dan penghidupan para petani yang lebih baik secara berkelanjutan.


"Dalam kegiatan penyuluhan swadaya ini, tujuan kami adalah untuk meningkatkan keterampilan, kemampuan dan pengetahuan para petani, membuat kompos dari kotoran ternak, melalui proses fermentasi," ujarnya kepada Wartawan via pesan WhatsApp, Rabu (3/3/2021).


Ia menjelaskan, pupuk kompos sangat berperan dalam peningkatan produksi pertanian, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Pupuk kompos, kata Fedi, banyak mengandung mikroorganisme. Dengan masuknya kompos ke dalam tanah, akan memacu perkembangan mikroorganisme, sehingga tanah menjadi subur.


Menurut Fedi, selama ini masyarakat belum terlalu paham dengan manfaat pupuk kompos. Padahal, kompos memiliki manfaat antara lain, memperbaiki struktur tanah lempung sehingga menjadi ringan, memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai, bahkan menambah daya ikat tanah terhadap air dan unsur-unsur hara tanah.


Ia menambahkan, penggunaan pupuk kompos juga dapat memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah, mengandung unsur hara yang lengkap, memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikroba dan menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan.


"Bahan untuk pembuatan pupuk kompos sangat mudah diperoleh karena tersedia di sekitar kita, dan cara pembuatanya pun sangat mudah. Semua orang bisa membuatnya, baik dalam skala besar maupun kecil. Kami melihat juga beberapa para petani mengeluh karena sulit mendapatkan pupuk subsidi, apalagi di tengah pandemi covid-19 saat ini," ungkap Fedi.


Fedi, mengajak para petani untuk sama-sama belajar agar meningkatkan keterampilan dalam membuat pupuk kompos, dan juga membuat pakan ternak babi dengan proses fermentasi. Ia berharap, kegiatan tersebut bisa menjadi solusi untuk tidak lagi mengharapkan pupuk buatan pabrik.


"Coba kita manfaat kotoran ternak, limbah/sampah oganik yang banyak di sekitar kita," ajak Fedi.


Ia menyampaikan, selama ini banyak kotoran hewan seperti kotoran sapi, kerbau, dan kambing di sekitar lokasi itu, tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pupuk kompos untuk menggatikan pupuk buatan. Pada kegiatan penyuluhan tersebut, dirinya memperkenalkan dan mempraktikkan cara-cara baru melalui teknologi fermentasi.


"Fermentasi pakan ternak merupakan salah satu proses pengolahan bahan pakan yang dapat dilakukan untuk mengubah senyawa kompleks dari bahan pakan menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan mikroba. Dengan adanya sentuhan teknologi, dengan tujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas," jelas Fedi.


Sementara itu, Lukas, seorang Warga Desa Satar Kampas, merasa kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi karena tidak sesuai dengan harapan mereka sebagai Petani yang ada di desa. Bahkan menurutnya, harga pupuk cendrung mengalami kenaikan serta tidak menentu, sehingga para Petani di Pantai Utara Manggarai Timur itu merasa kecewa.


"Hanya dapat pupuk 6 kg/org yang tidak sesuai lahan sawah yang kami miliki, dan apa itu bisa mencukupi lahan sawah 1 petak atau tidak. Sementara lahan yang kami miliki ada yang 1 petak ada yang 2 petak bahkan 1 hektare. Dan kami minta dengan hormat kepada pemerintah, untuk memperhatikan masyarakat Petani yang ada di Desa Satar Kampas dan Satar Padut," ujarnya.


Para petani di Desa Satar Kampas dan Satar Padut berharap, kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Matim untuk segera membenahi tata kelola pupuk bersubsidi. 


"Kami para Petani sangat berterima kasih karena para pemuda telah mengggelar kegiatan penyuluh swadaya, dan memperkenalkan atau mempraktikkan cara membuat pupuk kompos (pupuk organik) dari bahan dasar kotoran ternak sapi, melalui suatu pengolahan yang sangat sederhana dengan sentuhan teknologi," paparnya.