Iklan

Valerius Isnoho
11 Mar 2021, 14.16 WIB
Ekbis

Harga Tenun Rendah, Dekranasda Manggarai Akan Buat Pelatihan

 

Ketua Dekranasda Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur. (Foto: Ist)




Manggarai, Floreseditorial.com - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Manggarai mengunjungi sejumlah kelompok tenun di Kelurahan Pagal, Desa Golo, Desa Perak dan Desa Bea Mese, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu (10/3/2021).


Ketua Dekranasda Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur, didamping perwakilan Dinas Perdagangan Kabupaten Manggarai, melihat langsung proses tenun dan menanyakan sejumlah kendala yang dihadapi penenun selama ini.


Salah satu penenun asal Wune, Desa Golo, Rosalia Mida, mengungkapkan, tenun sudah menjadi mata pencaharian warga di desa itu, khusunya kaum Ibu-ibu. Namun dalam perjalanan, masih mengalami sejumlah kendala, mulai dari proses sampai pada pemasaran yang berdampak pada harga jual rendah.


“Kami selama ini kendala benang. Kadang kami tidak punya uang lagi untuk beli. Apalagi selama situasi pandemi covid-19 ini, banyak kebutuhan dalam keluarga, tapi harga songke (kain tenun khas Manggarai, red) menurun terus,” bebernya.


Karenanya, Ia meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai agar memberikan bantuan berupa benang atau bantuan lainnya, kepada semua penenun di wilayah itu.


Rosalia juga mengeluh, terkait cara pemasaran hasil tenun, Ia berharap agar Pemda Kabupaten Manggarai melalui Dekranasda dapat melakukan pendampingan kedepannya.


Hal senada diungkapkan penenun asal Tungku, Desa Golo, Mersiana Meti. Ia sangat berharap perhatian Pemda Kabupaten Manggarai, agar membantu meningkatkan penghasilan mereka melalui tenun.


Menurutnya, selama ini keuntungan yang diperoleh hanya sedikit, bahkan tidak sesuai dengan kerja keras mereka saat menenun, apalagi di situasi pandemi covid-19 seperti saat ini.


“Kami hanya berharap kepada pemerintah, bagaimana caranya supaya penghasilan kami bisa lebih baik. Kalau bisa buat pelatihan, baik tentang motif maupun cara menjual agar harga stabil,” pintanya.


Menanggapi hal itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur, mengungkapkan, penenun yang Ia kunjungi itu sebagian besar sudah mahir. Namun yang perlu diperbaiki adalah teknik, motif dan sejarah atau histori dari tenunan. Sehingga kedepannya, Dekranasda Manggarai akan lakukan pendampingan dan pelatihan.


Hal itu menurut Meldyanti, sesuai visi Dekranasda Manggarai yakni kesejahteraan penenun Manggarai. Selain itu, targetnya hasil tenunan Manggarai bisa tampil di pentas nasional maupun internasional.


“Saya melihat keahlian penenun kita tidak diragukan lagi. Dari sisi keahlian, penenun kita ini ada yang masih pemula, menengah, dan mahir. Kita akan klasifikasikan para penenun, supaya mereka bisa menenun sesuai dengan keahlian mereka. Karena semakin rumit tenunan, harapan kita harganya juga mengikut," ungkapnya.


Ia menambahkan, motif tenunan harus memiliki makna dan cerita yang menggambarkan ciri khas budaya Manggarai. Seperti lonto leok yang bermakna hubungan keluarga yang harmonis, saling menjaga dan saling menghormati, maupun budaya Manggarai lainnya. Hal itu harua diceritakan dalam tenunan.


Pendampingan yang akan dilakukan, jelas Meldyanti, terkait manajemen rencana usaha, branding, dan keanekaragaman produk yang menyesuaikan dengan kebutuhan pasar, serta yang paling penting adalah pelatihan digital marketing.


“Tadi kita sudah melihat, untuk mengetahui apa kekurangan dan kelebihan tenunan kita, kedepannya akan kita lakukan pendampingan," ujarnya.


Ia menyampaikan, Dekranasda Manggarai akan mengumpulkan para ahli tenun, guna merumuskan konsep, agar tenunan Manggarai dapat diproduksi dengan satu konsep yang sama, serta kepuasan pembeli harus dijamin.


“Contohnya, kalau ada anak kita mau menikah, Dia harus memakai tenun seperti apa, bagaimana motif tenunan pada saat caci, motif tenunan seperti apa yang dipakai saat acara roko molas poco, penti, dll. Tentu saja hal itu sesuai dengan histori dari motif tenunan kita. Kekayaan tenunan kita yang akan terus digali untuk meningkagkan daya jual," paparnya.


Sementar itu, Pjs. Kepala Desa Bea Mese, Angelus Mon, menilai kehadiran Dekranasda Kabupaten Manggarai membawa angin segar untuk penenun di Desa Bea Mese.


Ia berharap, pendampingan Dekranasda kedepannya akan membantu para penenun. Apalagi menurut Angelis, hampir semua Ibu Rumah Tangga di Desa Bea Mese selain pegawai, mata pencahariannya adalah menenun.


“Ini angin segar untuk penenun di Bea Mese, karena kendala selama ini nilai jual hasil tenunan itu sangat rendah dan pemasarannya belum jelas. Mungkin karena motifnya juga atau tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Semoga dengan pendampingan kedepannya, akan menjadi lebih baik," harapnya.