Iklan

Redaksi Flores Editorial
19 Mar 2021, 13.34 WIB
News

Irigasi Aesesa Picu Konflik Antar Petani

 

Pintu Air KM 1 Irigasi teknis persawahan Mbay, kecamatan Assesa Kabupaten Nagekeo (Foto: FEC Media/Peter)


Nagekeo, Floreseditorial.com - Wacana penutupan air di Irigasi Mbay, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan pola sepuluh hari tutup dan tujuh hari buka, menuai sorotan dari para Petani sawah di lokasi tersebut.


Para Petani yang lahan persawahanya berada jauh dari pusat air, menilai kebijakan tersebut tidak efektif dan dapat memicu konflik sosial antar Petani. Sebab menurut mereka, ada sawah yang berada persis dekat bibir parit, sementara sawah lainya yang jauh dari saluran parit utama akan kesulitan air.


"Kebijakan begini hanya bikin susah masyarakat. Sama halnya pemerintah kasih pisau dengan parang kepada para petani. Ini nasib baik mereka yang dekat mulut air, kita yang jauh dari mulut air ini bagaimana? Kalau sudah buntu dan tidak saling mengerti, kita bisa saling bunuh tegal air. Masalahnya kita bela hidup, demi perut dan anak istri," ujar Matias Ora, salah seorang Petani sawah kepada Wartawan, Kamis (18/3/2021) siang. 


Meski demikian, kata Matias, terkait program dari Balai Wilayah Sungai (BWS) wilayah Nusa Tenggara II untuk perbaikan saluran, tetap disambut baik. Namun, pengawasan program serta pengaturan manajemen air untuk masyarakat harus dilakukan dengan baik.


Matias berpendapat, upaya yang perlu dilakukan pemerintah adalah berkoordinasi dengan pengurus kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), agar mengawasi dan membagi air secara baik berdasarkan kebutuhan tanaman padi para Petani. Selain itu, pada saat jadwal buka air, pegawai pengairan perlu mengatur debit air, dengan cara meningkatkan debit air di sekunder dua.


"Pemerintah juga mesti memberi sanksi tegas kepada para Petani yang tidak menaati kalender tanam, misalnya melakukan pengolahan tanah di luar jadwal yang talah ditetapkan, karena akan sangat berpengaruh terhadap efesiensi pemakaian air bagi Petani lainnya," ujarnya.


Ia meyakini, jika langkah-langkah tersebut dilakukan, maka kemungkinan terjadi konflik antar Petani, akibat sistem pembagian air sangat kecil terjadi.


"Kalau mereka atur seperti itu, saya yakin tidak ada masalah. Kalau tidak, nanti kita lihat pasti ada yang saling bunuh tegal air, karena ada yang jadi penguasa air nantinya," bebernya.


Sementara itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Nagekeo, melaui Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Kabupaten Nagekeo, Oliva Monika Mogi, berharap agar para Petani bisa menyambut program tersebut secara baik.


Menurutnya, program yang dicanangkan itu sangat berdampak positif bagi para Petani sawah di Irigasi Mbay kedepannya. Selain asas manfaat terkait saluran irigasi yang lebih baik, kebijakan penutupan air tersebut dinilai dapat mengembalikan kesuburan tanah, yakni meningkatnya unsur hara tanah yang berpengaruh pada peningkatan produktivitas hasil pertanian.


"Saya berharap agar para Petani kita menerima dan beradaptasi dengan program ini. Apapun alasannya, dampak positifnya akan dirasakan para Petani itu sendiri. Selain kita menikmati infrakstruktur yang lebih baik, masa istirahat tanah yang panjang dapat menghilangkan racun-racun tanah. Selain itu, meningkatkan unsur hara tanah dapat memutuskan mata rantai hama dan penyakit, sehingga ketika masuk bulan Januari nanti, para Petani dapat menikamati hasil yang lebih baik dengan hasil produksi yang lebih meningkat," jelas Mogi.


Terkait potensi konflik sosial yang akan terjadi antar Petani, menurut Mogi, kebijakan sepuluh hari tutup dan tujuh hari buka itu telah diperhitungkan secara matang dengan pertimbangan akan kebutuhan air bagi tanaman Petani.


Ia berpendapat, padi adalah tanaman yang tidak terlalu membutuhkan air dan hanya pada fase-fase tertentu saja akan membutuhkan air. Misalnya, pada masa pertumbuhan generatif dan vegetatif.


"Saya berharap kita tidak usah ribut soal pisau dan parang lagi. Keberhasilan program ini atas dukungan semua pihak. Keputusan yang kita buat melibatkan semua pihak. Ada pmPemerintah Desa dan Pengurus P3A, dengan pertimbangan akan kebutuhan para petani. Kita harus melihat dampak yang lebih besar untuk kita kedepannya. Anggaran begini jarang kita dapat, maka mari kita manfaatkan secara baik," tukasnya.