Iklan

Benediktus Kia Assan
10 Mar 2021, 14.43 WIB
News

Pasca Erupsi Gunung Ile Lewotolok, Air Sumur di Aulesa Terasa Asin

 
Warga Desa Tagawiti, Lembata sedang menimba air di salah satu sumur. (Foto: kupang.tribunnews.com)



Lembata, Floreseditorial.com - Warga Desa Aulesa, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) kesulitan mendapatkan air bersih, lantaran air dari sembilan sumur di desa tersebut semakin terasa asin dan tidak bisa digunakan. 


Peningkatan rasa asin pada air di sumur-sumur itu dirasakan warga pasca kembali dari lokasi pengungsian, pada awal Januari 2021 lalu. Saat ini, warga Aulesa mengandalkan air hujan yang ditampung dalam Bak Penampung Air Hujan (PAH). Pilihan itu pun berisiko, mengingat sebagian besar bak tercemar abu vulkanik erupsi Gunung Ile Lewotolok.


Diketahui, sebanyak 596 jiwa penduduk Desa Aulesa, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, sebelumnya mengungsi ke Kota Lewoleba, sejak erupsi Gunung Ile Lewotolok pada Minggu, 29 November 2020 lalu. Saat kembali ke desa pada 3 Januari 2021, warga mendapati air sumur yang rasanya semakin asin. Padahal, air sumur tersebut masih bisa dikonsumsi sebelum erupsi, meski airnya sedikit asin.


Salah satu warga Desa Aulesa, Dismas Witak, kepada media ini via pesan WhatsApp, Rabu (10/3/2021), menuturkan, dirinya mengetahui bahwa air sumur sudah semakin asin saat Ia menimba air pada 10 Januari 2021 lalu.


“Setelah kami pulang ke sini, masih ada stok air dari pemerintah, jadi kami pakai. Tapi pas tanggal 10 kemarin, saya mau timba air, air sudah sangat asin. Sebelum erupsi memang agak asin. Tapi sedikit saja, jadi kami biasa pakai untuk masak dan mandi. Tapi sekarang makin asin,” beber Dismas.


Ia menyampaikan, banyak warga yang tidak berani mengonsumsi air sumur karena rasanya terlalu asin. Padahal, sebanyak 201 Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut sangat terbantu dengan air dari sembilan sumur yang ada di desa tersebut. 


Ia menambahkan, saat ini, para warga lebih banyak menggunakan air hujan yang ditampung dalam bak-bak PAH. Terdapat 69 wadah penampung air hujan, yakni 44 unit Bak PAH berbahan beton dan 25 tandon air berbahan fiber, yang tersebar di empat dusun di desa tersebut. 


“Kami terpaksa pakai air hujan dari Bak PAH dan fiber. Kebetulan Bak PAH dan fiber cukup banyak, tersebar di empat dusun ini. Ada 44 blBak PAH dan 25 fiber. Kami pakai airnya untuk masak dan mandi,” terang Dismas. 


Alternatif sumber air hujan dari Bak PAH, menurut Dismas, juga terpaksa digunakan karena ketiadaan sumber air lainnya. Ia mengaku, hujan abu vulkanik akibat erupsi mencemari air hujan dalam bak-bak tersebut.


Menurutnya, setelah kembali ke kampung, semua warga bergoyang-royong membersihkan bak-bak air tersebut, agar bisa digunakan menampung air hujan yang tidak tercemar. Namun, eruspi Ile Lewotolok masih sering terjadi, termasuk adanya hujan abu vulkanik yang kembali mencemari bak-bak tersebut.


“Saat kembali, salah satu yang kami lakukan adalah membersihkan Bak-bak PAH, karena banyak abu dari gunung. Maksudnya, supaya kalau ada hujan lagi, kami bisa tampung lagi dari atap ke dalam bak. Namun setelah dibersihkan, masih ada abu. Jadi air kotor lagi. Mau pakai tapi khawatir juga soal kesehatan. Jadi kami benar-benar kesulitan. Air sumur makin asin, air hujan dalam bak juga tercemar," tukasnya.


Untuk diketahui, Desa Aulesa terletak di Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Desa ini merupakan salah satu desa yang terdampak erupsi Gunung Ile Lewotolok dan masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, dan sebagian wilayahnya masuk dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi Gunung Ile Lewotolok.