Iklan

Benediktus Kia Assan
13 Mar 2021, 20.06 WIB
News

PMI Lembata Distribusikan Bantuan Bagi Kelompok Rentan Penyintas Erupsi Ile Lewotolok

 
Seorang nenek di Desa Napasabok menerima paket kebersihan diri dari Tim Respon Erupsi Ile Lewotolok PMI, Natalia Bisik. (Foto: Ben Kia Assan)

Lembata, Floreseditorial.com - Warga terdampak erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mendapat dukungan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lembata, berupa ratusan paket kebersihan keluarga (hygen kit) untuk warga di empat desa di Kecamatan Ile Ape, pada Sabtu (13/3/2021).


Pengurus PMI Lembata, Benyamin Reha, yang memimpin kegiatan pendistribusian bantuan tersebut, menjelaskan, paket bantuan itu secara khusus menyasar kelompok rentan seperti perempuan kepala keluarga, ibu hamil dan menyusui, bayi-balita, disabilitas dan lansia. 


"Hari ini Relawan PMI mengunjungi Napasabok, salah satu desa di Kecamatan Ile Ape yang terdampak erupsi Ile Lewotolok pada November 2020 silam. Kunjungan ini sekaligus merealisasikan bantuan hygen kit sesuai hasil assement yang sudah dilakukan sebelumnya. Sebanyak 27 paket hygen kit diserahkan pada 27 Kepala Keluarga (KK) yang memiliki faktor kerentanan," jelas Reha.


Ia menyampaikan, pendistribusian hygen kit di Napasabok sekaligus menandai kelanjutan respon PMI bagi warga terdampak erupsi Ile Lewotolok, yang akan digelar hingga April 2021 mendatang. Menurutnya, dukungan PMI itu akan menyasar 15 desa di seputar lereng Ile Lewotolok yang masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Erupsi Ile Lewotolok.

  

“Sudah dua hari kita distribusi hygen kit. Kemarin di Lamawara dan Tanjung Batu. Hari ini di Napasabok. Nanti lagi di Waowala. PMI juga berikan layanan kebutuhan air, media cuci tangan dan layanan kesehatan. Tidak hanya distribusi, tapi juga edukasi, promosi dan kampanye. Termasuk juga kampanye pengurangan risiko bencana erupsi. Fokus pada 15 desa yang masuk KRB III," paparnya.


Pantauan media ini di lokasi, sebelum menyerahkan hygen kit, sejumlah Relawan PMI Lembata memvalidasi data warga penerima. Menurut Benyamin Reha, validasi data dimaksudkan untuk memastikan kelompok rentan menjadi prioritas layanan.


“Kita membantu Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lembata. Namun bantuan kita terbatas. Makanya kita harus cek datanya agar bisa prioritas untuk kelompok rentan. Oleh karena itu, tidak semua KK menerima ini. Fokus pada kelompok rentan," jelasnya.


PMI merupakan salah satu lembaga yang terlibat dalam respon tanggap daruat bencana erupsi Ile Lewotolok, sejak erupsi besar pada Minggu, 29 November 2020 lalu. Setelah warga dipulangkan ke desa masing-masing pada 3 Januari 2021, PMI kembali melakukan assessment untuk mengidentifikasi kondisi warga pasca pemulangan dari posko pengungsi. Masalah kesehatan, kebutuhan air, kebersihan dan kesehatan menjadi sejumlah persoalan yang masih dibutuhkan warga. 


“Sejak Januari 2021, semua pengungsi kembali ke desa. Relawan PMI turun lagi untuik assessment. Dan kita temukan bahwa masih banyak hal yang dibutuhkan. Makanya kita terlibat lagi. Kita bantu Pemda Lembata untuk urus warga yang terdampak. Dan kita berterima kasih kepada PMI NTT, PMI Pusat dan IFRC yang sudah bantu kita soal ini," tandas Reha.


Untuk diketahui, layanan yang sedang dijalankan PMI Lembata merupakan dukungan dana dari Disaster Relief Emergency Fund (DREF) IFRC. IFRC adalah Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Hingga April 2021, layanan PMI Lembata akan menyasar 15 desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Ile Ape Timur antara lain Desa Todanara, Desa Jontona, Desa Lamawolo, Desa Lamatokan, Desa Baolaliduli, Desa Lamaau, Desa Aulesa, Desa Waimatan dan Desa Lamagute. Di Kecamatan Ile Ape, layanan akan dilaksanakan di Desa Waowala, Desa Tanjung Batu, Desa Amakaka, Desa Lamawara, Desa Bunga Muda dan Desa Napasabok.