Iklan

Redaksi Flores Editorial
4 Mar 2021, 00.23 WIB
HeadlineHukrim

Saksi Kunci Tanah Keranga Diperiksa JPU

Suasana pemeriksaan saksi kunci tanah Keranga, Frans Paju Leok, oleh pihak Jaksa Penuntut Umum di Kupang, Rabu (3/3/2021). (Foto: Ist)





Kupang, Floreseditorial.com - Frans Paju Leok, salah satu saksi kunci dalam kasus jual beli aset negara di Keranga, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), diperiksa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kupang, pada Rabu (3/3/2021).


Frans Paju Leok, diperiksa oleh JPU, Hendrik Tip, untuk menanyakan status kepemilikan tanah milik, Gories Mere, serta mantan Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) NTT, Jhoini Asadoma, yang berlokasi di Keranga, Labuan Bajo.


Dalam pemeriksaan itu, Hendirik Tip, berulang kali menanyakan kepada, Frans Paju Leok, terkait tanah di Mabar yang kini bermasalah itu.


“Apakah tahu ada pihak lain yang memiliki tanah itu? Dalam hal ini atas nama, Gories Mere dan Jhoini Asadoma, yang punya tanah di situ?,” tanya JPU.


Menjawab pertanyaan itu, Frans Paju Leok, menyebutkan, dirinya tidak mengetahui hal itu. Namun, kata Frans, berdasarkan informasi yang Ia dapatkan, Goris Mere dan Jhoini Asadoma, memiliki tanah di Keranga.


"Tetapi yang mana, saya tidak tahu,” jawab Frans.


Ia mengakui, dirinya memang pernah mendatangi lokasi tersebut pada tahun 1997 silam. Saat itu, lanjut Frans, Ia mendatangi lokasi itu berdasarkan perintah Bupati Manggarai Periode 1989-1999, Gaspar Parang Ehok, untuk mengukur tanah yang akan diserahkan oleh Fungsionaris Adat Nggorang kepada Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai saat itu.


"Dalam rencana, di atas lahan itu akan dibangunkan Sekolah Perikanan," ujar Frans.


Menurutnya, jawaban Pemerintah Pusat saat itu, lahan untuk membangun sekolah perikanan tersebut harus disiapkan oleh Pemda setempat.


"Lalu, Kabag Sosial waktu itu, memilih beberapa lokasi yang kira-kira dimungkinkan untuk membangun Sekolah Perikanan. Ada di Pota, Reo, Borong dan Labuan Bajo,” beber Frans.


Ia menjelaskan, dari beberapa lokasi tersebut, lokasi yang memungkinkan adalah Labuan Bajo. Sehingga, pada April 1997, Frans, kembali ditunjuk oleh, Bupati Gaspar, untuk bertemu Fungsionaris Adat setempat.


Usai bertemu Fungsionaris Adat setempat, lanjut Frans, pihaknya langsung mendatangi tanah yang berlokasi di Kerangan tersebut.


"Adam Djuje, yang antar kami ke lokasi. Kami diantar ke sana. Dengan perahu motor waktu itu. Jalan darat belum ada,” ujarnya.


Ia menambahkan, kemudian pada Mei 1997 tahan tersebut diukur, sekaligus memastikan lokasi tanah tersebut yang diberikan oleh Fungsionaris Adat kepada Pemda Manggarai.


Untuk diketahui, Frans Paju Leok, bertugas di Manggarai pada tahun 1992 sampai 2010. Ia pernah menjabat Asisten I di Kabupaten Manggarai dan berhenti pada tahun 2000.