Iklan

Redaksi Flores Editorial
22 Mar 2021, 17.03 WIB
News

Wabup Jaghur Tinjau Lokasi Longsor di Wae Laku

Wabup Matim, Jaghur Stefanus, beserta rombongan saat meninjau lokasi longsor di Bendungan Wae Laku, Senin (22/3/2021). (Foto: Prokopim Matim)


Manggarai Timur, Floreseditorial.com - 
Bertempat dengan Hari Air Sedunia yang jatuh pada 20 Maret, Wakil Bupati (Wabup) Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), Jaghur Stefanus, meninjau langsung lokasi longsor di Bendungan Wae Laku, di Desa Compang Kantar, Kecamatan Borong, pada Senin (22/3/2021).


Longsor yang terjadi beberapa waktu lalu itu, berlokasi di dua titik di sepanjang jalan dan saluran irigasi menuju Bendung Wae Laku. Longsor pertama sepanjang sekitar 70 meter menutup akses jalan, sehingga perjalanan menuju Bendungan Wae Laku harus ditempuh dengan berjalan kaki. Timbunan material longsor juga ditemukan di atas saluran irigasi dan menutupi sebagain badan jalan.


Diketahui, longsor tersebut terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Matim beberapa waktu lalu. Selain timbunan material yang menutupi akses jalan menuju bendungan, timbunan sedimen berupa pasir dan bebatuan juga memenuhi saluran irigasi utama. Selain itu, terjadi penggerusan pinggir kali oleh air, yang menyebabkan pengurangan badan jalan, semakin melebarnya Sungai Wae Laku, serta menyempitnya jalan menuju bangunan utama Bendungan Wae Laku. 


Wabup Matim, Jaghur Stefanus, pada kesempatan itu, menyampaikan keresahan dan keprihatinannya terkait longsor tersebut.


“Saya turut prihatin dengan kondisi ini. Kondisi seperti ini tentu sangat menyulitkan masyarakat kita, terutama yang mengandalkan irigasi Wae Laku untuk pertanian dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari," ungkap Wabup Jaghur.


Ia menambahkan, pihaknya juga mengapresiasi langkah taktis yang diambil oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Matim, yang berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mengatasi longsor yang terjadi. 


“Terima kasih kepada rekan-rekan dari BPBD dan Dinas PUPR yang sudah bergerak cepat turun ke lokasi dan mengambil langkah-langkah taktis untuk penanganan bencana ini. Kita akan tetap berkoordinasi dengan provinsi untuk penanganan lebih lanjut. Saya harap masyarakat juga ikut aktif membantu teman-teman dari dinas, supaya masalah ini cepat teratas," jelasnya.


Sementara itu, Kepala Dinas (Kadis) PUPR Kabupaten Matim, Yoseph Marto, menyampaikan, Dinas PU dan BPBD sudah melakukan langkah-langkah teknis untuk penanganan awal bencana longsor itu, seperti membersihkan saluraan utama dari material batu dan pasir.


“Kita tetap berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II), untuk penangan lebih lanjut. Kerusakan yang terjadi cukup besar dan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga. Untuk itu, Pemerintah Daerah (Pemda) akan tetap membangun komunikasi dan koordinasi ke BWS NT II yang ada di Kupang. Selain pembersihan saluran utama dari sedimen pasir dan batu, beberapa titik longsor yang menutupi jalan juga sudah dibersihkan," papar Yos Marto.


Untuk diketahui, Bendungan Wae Laku merupakan salah satu bendungan terbesar di Kabupaten Matim, merupakan Daerah Irigasi kewenangan pusat dengan Sub DI Wae Dingin dan dibangun pada tahun 2017. Bangunan utama Bendungan Wae Laku berlokasi di Desa Compang Kantar, Kecamatan Ranamese, di mana salurannya mengalir serta mengairi areal persawahan tiga desa di Kecamatan Borong yakni, Desa Bangka Kantar, Desa Golo Kantar dan Desa Nanga Labang.


Turut serta dalam peninjauan lokasi longsor tersebut, Kapolres Matim, Kadis PUPR, Plt. Kepala BPBD, Kadis Pol PP dan sejumlah Staf Teknis Bidang SDA dan Bina Marga Dinas PUPR.