SWAPE UP UNTUK MEMBACA ARTIKEL
Terdampak Banjir Bandang, Petani Sorgum Lembata Gagal Panen

Iklan

 


Benediktus Kia Assan
21 Apr 2021, 04.19 WIB
Headline

Terdampak Banjir Bandang, Petani Sorgum Lembata Gagal Panen

Manager Program Yaspensel Larantuka, Maria Loreta (tengah), bersama Petani Sorgum asal Desa Bunga Muda Lembata, Kans Manuk dan istrinya, saat meninjau kebun sorgum yang tak layak panen akiibat Badai Siklon Seroja dan banjir bandang. (Foto: Ben Kia Assan)



Lembata, Floreseditorial.com - Puluhan Petani Sorgum di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ikut terdampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut, pada Minggu (4/4/2021) lalu.


Sebanyak 40 Kepala Keluarga (KK) Petani Sorgum asal Desa Bunga Muda, Kecamatan Ile Ape, gagal panen lantaran tanaman sorgum mereka rusak akibat hujan berkepanjangan. Waktu memanen yang pas telah terlewatkan, lantaran mereka diterpa banjir bandang dan harus meninggalkan kampung dan mengungsi ke Kota Lewoleba.


"Malai-malai sorgum masih tegak berdiri di kebun, dengan biji-biji sorgum yang sudah kusam menghitam dan rusak. Hitungan kami, pada awal April itu pas untuk panen. Bulirnya sudah tua, keras, dan warna putih terang. Kami baru sempat panen sedikit dan harus berhenti karena bencana banjir ini. Dalam kampung memang tidak banyak kerusakan, tapi semua takut dan disuruh mengungsi. Kami tinggal di pengungsian dan saat ke sini, keadaannya sudah begini," tutur Kans Manuk, Petani Sorgum Bunga Nula Gere dari Desa Bunga Muda, kepada floreseditorial.com, Selasa (20/4/2021).


Kans menyampaikan, kebun sorgum milik kelompoknya seluas dua hektar, ditambah kebun pribadi setiap anggota yang totalnya mencapai hampir 10 hektar. Dari total itu, sebagian besar sorgum tidak bisa dipanen, lantaran biji sorgum terlanjur menghitam karena diguyur hujan lebat pada masa panen. Bersama istrinya, Kans Manuk, berupaya memilih malai-malai yang masih bisa diselamatkan untuk dikonsumsi. Namun sebagian besarnya tak bisa diselamatkan, dan akan dipetik untuk jadi pakan ternak. 


Petani Sorgum di Lembata yang terdampak banjir bandang, mendapat dukungan kebutuhan dasar dari Yayasan KEHATI dan CIMB Niaga, yang diserahkan oleh Program Manager Yaspensel Keuskupan Larantuka, Maria Loreta, Selasa (20/4/2021). (Foto: Ben Kia Assan)



Petani Sorgum Bunga Nulan Gere lainnya, Mikael Paokuma, mengatakan, musim tanam 2021 sangat menggembirakan dirinya. Jumlah hari hujan yang bagus memicu pertumbuhan batang sorgum yang bagus. Sayangnya, bencana banjir bandang memaksa mereka meninggalkan kebun persis di masa panen. Alhasil, seminggu setelah mengungsi, tersisa bulir sorgum dengan biji sorgum yang hitam dan berjamur, serta tak layak dikonsumsi.


“Sudah tiga tahun kami kembangkan sorgum ini. Tahun ini bagi saya tahun yang bagus. Hujan cukup bagus dan itu kabar baik untuk kami di Ile Ape ini. Batang sorgum subur-subur. Dan kami hitung panenan bagus. Tapi pas mau panen, terjadi banjir bandang ini. Kami semua mengungsi ke Lewoleba. Akibatnya tidak rutin datang kebun. Pas mau panen, ternyata sudah rusak begini,” papar Mikael Paokuma.


Menanggapi hal itu, Yayasan Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Larantuka (Yaspensel) turun tangan memberikan dukungan. Bersama Yayasan KEHATI dan didukung oleh CIMB Niaga, Yaspensel memberikan bantuan kebutuhan dasar bagi para petani terdampak.


Manager Program Yaspensel Larantuka, Maria Loreta, mengatakan, pihaknya bersama Yayasan KEHATI dan CIMB Niaga sangat prihatin dengan petaka yang dialami para Petani Sorgum di Lembata.


“Tahun ini sebenarnya tahun yang baik bagi Petani Sorgum. Tapi bencana ini mengakibatkan mereka gagal panen. Padahal hujan sangat mendukung. Jadi kita sampaikan bantuan dari KEHATI dan CIMB Niaga ini. Semoga bisa penuhi kebutuhan dasar terutama selama di pengungsian,“ jelas Maria Loreta, saat ditemui floreseditorial.com disela-sela kunjungannya ke Petani Sorgum yang terdampak banjir bandang, Selasa (20/4/2021). 


Ia menyampaikan, puluhan Petani Sorgum yang terdampak banjir, kini tinggal tersebar di sejumlah lokasi pengungsian di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata. Mayoritasnya tinggal di rumah kerabat yang tersebar mulai dari Waijarang sampai Lamahora, Kecamatan Nubatukan. 


Saat mengunjungi kebun sorgum yang terpaksa gagal panen karena banjir bandang, Maria Loreta, ingatkan para Petani untuk tetap kuat dan fokus mengembangkan ratun tanaman sorgum, untuk bisa mendapat panenan kedua. 


“Saat keliling, terlihat bahwa sebagian besarnya gagal. Tidak bisa dipanen lagi untuk kebutuhan manusia. Bulirnya besar-besar, tapi terkena hujan terlalu banyak dan terlambat dipanen. Akibatnya berwana hitam dan sudah tumbuh. Kalau sudah tumbuh di pohon seperti ini, tidak bisa dimakan. Sebaiknya dipanen untuk jadi pakan ternak. Namun harus optimis. Kita masih bisa dapat hasil dari hasil ratun. Ratun ini, tunas baru dan batang sorgum setelah dipangkas. Nah, dari ratun itu juga tetap dapat hasilnya. Keunggulan sorgum kan salah satunya itu. Bisa tunas lagi dari batang itu dan bisa dipanen,” terang Maria Loreta kepada Mikael Paokuma dan semua Petani Sorgum.


Untuk diketahui, Yaspensel Keusukupan Larantuka merupakan lembaga yang memperkenalkan dan mendampingi para Petani Sorgum. Karenanya, lembaga ini pun ikut terlibat saat para Petani Sorgum terdampak banjir dan kehilangan hasil panenan sorgumnya.


Selain dari Desa Bunga Muda, Petani Sorgum yang terdampak badai siklon juga berasal dari Desa Tapobali, Kecamatan Nagawutung.