Iklan

 




Pankrasius Y. Gandung| <br>Penulis<br>
17 Mei 2021, 20.49 WIB
HeadlineNews

Kisruh Hingga Ke MA, Para Tu’a Golo Beberkan Fakta Tanah Ragok

Kawasan Ragok, lokasi yang akan dijadikan kawasan pemakaman Pasien Covid-19. (Foto:Net)


Borong, Floreseditorial.com - Ragok dahulunya merupakan sebuah perkampungan dan bagian dari wilayah ulayat Gendang Kantar. Fakta sejarah membuktikan, wilayah ulayat Kantar meliputi wilayah Nao Wara Likang Telu Len (batas utara dengan wilayah ulayat Gendang Teber), Nanga Labang Comong Wan (batas selatan dengan Laut Sawu), Wae Reca Comong Awon (Sungai Wae Reca batas timur), dan Wae Laku Comong Salen (batas barat dengan Sungai Wae Laku). Fakta batas sejarah ini diungkapkan Tu'a Golo Kampung Longko, Bernadus Alung.


Kepadatan penduduk yang menghuni wilayah Gendang Kantar saat itu, memaksa sebagian masyarakat memilih tanah Ragok sebagai tempat tinggal mereka. 


Dalam istilah setempat, Ragok merupakan Satar Mamba, Bea Hela, (tanah yang belum diolah oleh masyarakat Gendang Kantar) saat itu.


Cerita yang sama juga diungkapkan Tu’a Golo Kampung Lodos, Herman Pius, yang merupakan keturunan Gendang Ase Suku Kantar, Wunis. 


Menurutnya, sebelum dijadikan perkampungan oleh masyarakat, tanah Ragok dahulunya merupakan tempat masyarakat Kantar berburu hewan liar, atau dalam istilah setempat disebut Ute Muntek Toro Po’ong.


Setelah tanah Ragok didiami olah masyarakat Gendang Kantar, maka dengan sendirinya masyarakat melakukan aktifitas di atas tanah Ragok, yakni bercocok tanam demi memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari. 


Seiring perkembangan zaman, sekitar tahun 1940-an, terjadi serangan wabah penyakit yang sangat dahsyat, disebut Nemba.


Saat itu, belasan orang meninggal dunia tanpa sebab, dan hal itu terjadi setiap harinya.


“Maka masyarakat saat itu bersepakat menetapkan sebagian wilayah Ragok menjadi tempat kuburan umum. Sebagian warga yang meninggal karena wabah itu dikuburkan di sana,” kata Tu’a Golo Kampung Lodos, Herman Pius, saat ditemui floreseditorial.com, Sabtu (15/5/2021) lalu.


Akibat Nemba itulah, masyarakat yang mendiami wilayah Ragok memilih meninggalkan Kampung Ragok, dan menyebar ke empat anak kampung yaitu Kampung Lodos, Mondo, Longko, dan Jengok. 


Saat ini, yang menjadi Tu’a Golo di empat anak kampung tersebut adalah turunan orang-orang pertama yang mendiami Kampung Lodos, Mondo, Longko, dan Jengok.


Penyebaran masyarakat di empat anak kampung tersebut masih ada sampai saat ini. Bukan hanya Suku Kantar saja, dengan hubungan pernikahan, berbagai suku sudah berbaur di empat anak kampung itu.  


Hal ini dibenarkan oleh empat Tu’a Golo yang ditemui media ini yakni, Tu'a Golo Jengok, Libertus Sanggang, Tu'a Golo Lodos, Herman Pius, Tu'a Golo Longko, Bernadus Alung, dan Tu'a Golo Mondo, Stevanus Syukur.


Empat Tu'a Golo itu menegaskan, agar para pihak tidak menciptakan sejarah baru. 


“Apabila generasi muda hari ini ingin mengetahui sejarah, mohon cari sumber yang jelas berdasarkan silsilah dan garis keturunan, demi menghindari polemik,” kata mereka.


Sengketa Ragok

Setelah wabah penyakit menyerang masyarakat yang tinggal di Kampung Ragok pada tahun 1940-an, seluruh masyarakat Kampung Ragok meninggalkan tempat itu dan menyebar ke beberapa wilayah sekitar, yang saat ini kita kenal dengan nama Kampung Longko, Lodos, Jengok, dan Mondo. 


Semenjak saat itu, tak ada lagi yang mendiami wilayah Ragok hingga saat ini. Tempat itu kemudian dijadikan sebagai lokasi pekuburan umum masyarakat dari keempat anak kampung tersebut.


Seiring perkembangan waktu, masyarakat pun menjadikan tanah Ragok yang kosong itu untuk dijadikan tempat berkebun. Tujuan awal hanya untuk mengambil hasil, bukan untuk menjadi milik pribadi. Akan tetapi, beberapa di antara mereka yang menjadikan kawasan tersebut sebagai kebun, menjadikan lokasi itu sebagai tanah milik pribadi dengan bukti sertifikat. 


Tu’a Golo Mondo, Stevanus Syukur, menduga bahwa sertifikat kepemilikan dari beberapa orang tersebut dibuat pada saat Program Ivat Pemerintah di tahun 90-an.


Tahun 2009, katanya lebih lanjut, masyarakat empat anak kampung itu memutuskan untuk membersihkan kembali tanah Ragok yang ditetapkan oleh leluhur sebagai kawasan pekuburan umum.


Tu’a Golo Lodos, Herman Pius, menjelaskan, sebagai Tu'a Golo, dirinya menjadi koordinator untuk mengkoordinir masyarakat membersihkan tanah pekuburan Ragok tersebut.


“Ragok itu tanah bersejarah. Sebagai Tu’a, saya punya tugas menyelamatkan dan mempertahankan sejarah," ungkap Herman.


Karena inisiatif itulah, para pihak yang telah mengelola kawasan pekuburan umum warga menjadi kebun itu, tidak terima dan melaporkan keempat Tu’a Golo itu ke pihak Kecamatan Borong.


Menurut Herman, sebulan setelah masyarakat empat anak kampung membersihkan kuburan Ragok. Empat Tu’a Golo ini mendapat surat panggilan dari pihak Kecamatan Borong, untuk mengikuti sidang perdamaian di Kantor Camat Borong.


Ternyata, mediasi itu tidak membuahkan hasil. Sebulan setelah itu, beberapa orang itu menggugat masyarakat ke Pengadilan Negeri Ruteng.


“Status kami jadi tergugat. Rasa kecewa pasti ada. Padahal niat kami hanya mempertahankan tanah warisan nenek moyang kami," pungkas Herman.


Senada diungkapkan Tu'a Golo Longko, Bernadus Alung. Menurutnya, saat sidang di Pengadilan Negeri Ruteng, masyarakat dinyatakan kalah. Lalu masyarakat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Kupang, dan dinyatakan menang. Namun, mereka melawan hingga  kasasi ke Mahkamah Agung. 


“Alhasil, gugatannya ditolak dan kami dinyatakan menang,” katanya sembari menunjukkan dokumen perkara kepada awak media.


Diserahkan ke Pemerintah


Pada tahun 2013 silam, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mencari lokasi untuk dijadikan tempat pekuburan umum.


“Pada saat itu, mereka datang ke rumah. Kemudian saya mengarahkan untuk ketemu dengan keempat Tu’a Golo, terkait tawaran itu,” jelas salah satu masyarakat Longko, Stanis Tarung.


Alhasil, keempat Tu’a Golo itu duduk bersama, berdiskusi terkait permintaan Pemda Kabupaten Matim itu.


“Semuanya bersepakat, tanah Ragok itu diserahkan ke Pemda, demi mengakhiri polemik,” tegasnya. 


Stanis menambahkan, Tu'a Golo Jengok pada saat itu adalah Dominikus Jenaga (Alm). Menurut Stanis, saat itu almarhum menyetujui permintaan dari Pemda Kabupaten Matim itu.


Hal serupa dikatakan Libertus sanggang. Keempat Tu'a Golo termasuk dirinya, menjadi saksi saat penyerahan saat itu.


“Tujuan kami dan keempat Tu’a pada saat itu, dengan diserahkannya kepada Pemda, keberadaan tanah Ragok tidak menimbulkan konflik baru di tengah masyarakat,” jelasnya.


Kendati demikian, katanya lebih lanjut, Pemda Kabupaten Matim sempat bertanya terkait sengketa tanah Ragok. 


“Menjawab hal tersebut, keempat Tu’a menyerahkan dokumen keputusan perkara kepada Pemda untuk dipahami isinya, sebelum mengambil keputusan terkait penyerahan tanah tersebut. Dalam dokumen perkara, luas tanah Ragok yang ditetapkan menjadi tanah sengketa adalah enam hektar (6 Ha). Sementara yang diserahkan untuk menjadi aset Pemda adalah dua hektar (2 Ha)," tandas Libertus.

 

Sementara Tu'a Golo Mondo, Stevanus Syukur, menjelaskan, penyerahan itu disepakati oleh empat Tu’a Golo dari empat anak kampung. 


“Harga tidak jadi soal. Intinya tidak ada persoalan lagi di atas tanah Ragok,” jelasnya.


Hal yang sama juga disampaikan Tu'a Golo Longko, Bernadus Alung.


“Bukan soal uang atau harganya berapa. Status kepemilikan yang jelas, itu lebih penting. Kami banyak korban dalam sengketa tanah Ragok. Sampai jual tanah sendiri untuk transport dan kebutuhan lain selama perkara," ungkap Bernadus.


Mendukung penjelasan Bernadus, Libertus dengan tegas membenarkan pernyataan tersebut.


“Tahun 2013 awal mereka (Pemda Matim) datang, dokumen perkara itu kami serahkan dan mereka membawanya ke Lehong untuk dibaca dan dipahami isinya. Setelah itu, di tahun 2015, Pemda mengatakan bahwa dokumen keputusan perkara dari Mahkamah Agung yang menyatakan kami menang itu sangat kuat. Sehingga kemudian, pada tahun 2015, penyerahan tanah itupun terjadi,” ungkapnya.


Saat ditanyai terkait harga tanah, keempat Tu’a Golo itu mengatakan agar awak media bertanya pada Pemda Kabupaten Matim.


“Klaim Pemda yang mengatakan Ragok itu aset Pemda, itu benar. Karena kami sudah serahkan. Apabila ada pernyataan dari siapapun di luar dari empat anak kampung, jangan percaya. Yang mengaku sebagai Pemangku Adat Gendang Kantar, jangan percaya. Kami hanya berharap generasi kami, terlebih khusus anak dan cucu serta keturunan Kantar, untuk tidak membuat kericuhan internal Suku Kantar,” ungkap Libertus dengan tegas.


Ragok dijadikan tempat penguburan umum pasien covid-19


Diberitakan sebelumnya, Pemda Kabupaten Matim melalui Juru Bicara (Jubir) Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 Kabupaten Matim, Bonifasius Sai, mengatakan, Pemda Kabupaten Matim menetapkan tanah Ragok sebagai tempat penguburan jenazah pasien covid-19 Kabupaten Matim.

 

Menyikapi hal itu, keempat Tu’a Golo yang terlibat dalam transaksi penyerahan tanah Ragok ke Pemda Kabupaten Matim, menjelaskan bahwa pemanfaatan tanah Ragok untuk penguburan pasein covid-19, boleh-boleh saja. Karena itu memang tanah Pemda Kabupaten Matim. Tetapi bagi mereka, alangkah lebih baik jika Pemerintah menyelesaikan administrasi (sertifikat) dan pembenaan infrastruktur. 


“Jalan masuk dan keluar harus dibuat aspal. Kemudian dibuat pagar tembok keliling, serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Terlebih khusus terkait bahaya covid-19,” ungkap Tu’a Golo Longko, Bernadus.


Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Bangka Kantar, Kecamatan Borong, Kabupaten Matim, Silverius Mediator Rawan, saat ditemui media ini di kediamannya, mengatakan, pihaknya belum mengetahui perihal keputusan Pemda Kabupaten Matim untuk menetapkan tanah Ragok sebagai tempat penguburan jenazah pasien covid-19.


“Selaku Pemerintah Desa, saya tidak melarang. Saya hanya mengharapkan koordinasi. Hal itu bertujuan untuk mencegah dampak sosialnya bagi masyarakat Desa Bangka Kantar," ungkap Kades yang kerap disapa Mendik itu.


Tanggapan Pemda Kabupaten Matim terkait Ragok


Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kabupaten Matim, Wihelmus Deo, saat ditemui media ini di ruangan kerjanya, Senin (17/5/2021), mengatakan, tanah Ragok merupakan aset Pemda Kabupaten Matim yang diperoleh pada tahun 2015 silam, dari empat Tu’a Golo di Desa Bangka Kantar. 


“Tanah Ragok diperoleh dari empat Tu’a Golo. Luas tanah itu dua hektar, untuk dijadikan tempat pemakaman umum bagi masyarakat Manggarai Timur," ungkap Wihelmus. 


Terkait belum diurusnya sertifikat kepemilikan tanah oleh Pemda Kabupaten Matim, Ia menjelaskan, saat ini Pemerintah masih terganjal masalah anggaran dan kelengkapan dokumen lainnya.


“Untuk sementara, Pemda sedang melakukan perampungan berkas. Dalam waktu dekat pasti akan kelar, karena semua berkas kita sudah serahkan ke Dinas Pertanahan," ungkap Wilhelmus.


Ditemui terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Pertanahan Kabupaten Matim, Tobias Suman, mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan verifikasi berkas.

 

“Ada beberapa dokumen yang perlu dilengkapi. Setelah semuanya beres, maka Dinas akan berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN), agar sertifikatnya segera diterbitkan," tutup Tobias.