Iklan

 




FEC Media
7 Jun 2021, 15.03 WIB
News

Terkait Pengusiran Siswa dari Ruangan Ujian, Begini Kata Kepsek SDK Jawang

 

Aleksius Nambung. (Foto:Net)

Manggarai Timur, Floreseditorial.com –Aleksius Nambung, Kepala Sekolah Dasar Katolik (SDK) Jawang akhirnya merespon pemberitaan terkait pengusiran salah seorang siswa dari ruang ujian karena tidak melunasi uang komite.


Kepada Floreseditorial.com, Aleksius membantah seluruh pengakuan orang tua siswa itu yang disampaikan kepada sejumlah awak media. Ia menegaskan bahwa, apa yang diakui orang tua siswa itu adalah bohong.


"Lema de (mereka bohong). Semua siswa tadi itu ikut ujian. Saya sudah tanya semua guru–guru, dia (Siswa_red) ikut ujian," jawab Aleksius, Senin (7/6/2021) sore.


Menurut Aleksius, pengakuan orang tua siswa itu kepada wartawan hanyalah ungkapan rasa beban karena pihak sekolah meminta agar uang komite yang merupakan kewajiban harus segera dibayar atau dilunasi.


"Mereka (Orang tua siswa_red) merasa beban karena sekolah minta agar uang komite dibayar. Tetapi tadi, semua siswa masih ikut ujian. Tidak ada satu yang diusir," tegas Aleksius.


Diberitakan media ini sebelumnya, Senin (07/6/2020), Yohana Aurel Ririn, siswa kelas II Sekolah Dasar Katolik (SDK) Jawang dikeluarkan atau diusir dari ruang ujian lantaran belum melunasi uang komite sekolah.


Putri pasangan Darius Arim dan Daria Nganut, warga desa Golo Kantar, kecamatan Borong, Kabupten Manggarai Timur (Matim) itu dilarang ikut ujian lantaran masih menunggak uang uang komite sebesar Rp. 300.000.


“Anak saya pulang sambil menangis pak, katanya guru melarang anak saya ikut ujian karena belum membayar uang sekolah,”  kata Daria, ibu Yohana.


Menurutnya, dirinya belum membayar uang sekolah anaknya itu dikarenakan saat ini, suaminya kesulitan mendapatkan pekerjaan di tengah pandemi Covid-19 yang melanda.


“Bukan tak membayar pak, saat ini kami sedang kesulitan, tak adakah kelunakan bagi kami?, karena anak saya tadi pulang sambil menangis,” kata Daria.


Ia menyesalkan sikap sekolah yang justru melarang anaknya ikut ujian karena uang sekolah.


“Uang sekolah itu tugas kami orang tua, tapi jangan korbankan anak-anak kami, kasian dia, semangat belajarnya bisa kendor jika diberlakukan seperti ini,” harap Daria.


Kadis PPO Geram


Kepada Dinas Pendidikan, Pemuda  dan Olahraga (PPO) Kabupaten Matim, Basilius Teto pun dibuat geram dengan tindakan pihak sekolah.


“Tidak benar itu, dana komite itu tidak dipaksakan, kenapa sampai siswa dikorbankan seperti itu,” kata kadis P&K Matim.


Kadis Teto menjelaskan, dirinya akan segera memanggil kepala Sekolah SDK Jawang terkait hal tersebut.


“Saya akan panggil kepala sekolahnya, tidak boleh seperti itu, anak jangan jadi korban karena uang Komite. Dana Komite itu tidak boleh sampai membuat siswa menjadi korban,” tukas Kadis PPO Matim.