SWAPE UP UNTUK MEMBACA ARTIKEL
Dinas PMD Matim Pantau Proyek Mangkrak di Desa Rana Mbeling

Iklan

 


FEC Media
2 Jul 2021, 16.20 WIB
News

Dinas PMD Matim Pantau Proyek Mangkrak di Desa Rana Mbeling

Pagu anggaran proyek air Desa Rana Mbeling, Kecamatan Kota Komba Utara (Foto : ist)



Manggarai Timur, Floreseditorial.com - Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Manggarai Timur, NTT, memantau langsung proyek air minum yang mangkrak di  Desa Rana Mbeling, Kecamatan Kota Komba Utara, Rabu (29/6/2021). 


Proyek air minum dengan anggaran Rp471.172.000 tersebut, hingga saat ini belum selesai dikerjakan.


Kepala Seksi (Kasi) PMD, Yohanes Triyatma, yang memantau langsung lokasi proyek mangkrak tersebut meminta penjelasan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Kades Rana Mbeling, Primus Adil, alasan proyek yang dimulai tahun 2019 itu belum selesai alias mangkrak.


Menurut pantauan media, aliran air pipa tersebut hanya sampai di tengah hutan. Bahkan sejumlah pipa yang belum dipakai berserakan di sepanjang jalan dan pemukiman warga.


Kasi PMD melakukan pertemuan di Kantor Camat Kota Komba Utara bersama Camat, Plt Kades dan sejumlah undangan lainnya, setelah selesai meninjau lokasi proyek.


“Maaf, saya tidak bisa lanjutkan pekerjaan itu. Bagaimana kita mau lanjut, posisi debit airnya sangat sedikit. Karena debit airnya hanya sampai di situ makanya kita stop kan pekerjaan sampai di situ,” terang Primus.


Selain itu kata Primus, Tipikor Polres Manggarai pernah meninjau lokasi proyek bersama Dinas PMD yang saat itu dijabat oleh Yos Durahi.


“Mereka juga turun langsung ke lokasi. Memang begitu sudah kondisi airnya tidak bisa sampai di pemukiman,” tegasnya.


Pertemuan tersebut juga menanyakan pagu anggaran proyek tersebut, namun Primus tidak menjelaskan secara rinci anggaran itu. 


“Kalau soal uang, jelas yang lebih tahu tentang itu mungkin TPK. Kan TPK juga waktu itu ikut ambil peran,” terangnya.


Kasi PMD, Yohanes Triyatma, menanggapi jawaban PLT dengan tegas.


“Begini pak PLT, sedikit saya koreksi ya. Masa pak PLT tidak tau jumlah pagu anggaran pekerjaan proyek air minum itu. Kan pak PLT yang eksekusi anggaran. Selain TPK kan Bapa juga semestinya harus tahu. Kan di masanya Bapak. Terus bagaimana bapak berani kerja kalo anggarannya bapak tidak tahu. Itu koreksi ya , jadi tidak masuk akal kalo bapa tidak tahu itu anggarannya,”tegas Kasi PMD.


Menurut Yohanes, proyek air minum tersebut sudah salah dalam proses perencanaan awal. Sebab debit air kecil dan sumber airnya berada di dataran rendah.


“Air berada dalam dataran rendah sedangkan pemukiman warga berada di dataran tinggi. Proyek tersebut bukan mata air, melainkan air serapan dari persawahan. Kecil sekali airnya dan tidak layak. Dan air di dataran rendah, sedangkan ketinggian pemukiman warga dari pusat air sekitar 15 meter untuk setara dengan pemukiman warga. Jadi jelas tekanan airnya tidak bisa. Terlalu ketinggian,” jelasnya.