Iklan

 


Rian Laka
29 Jul 2021, 13.34 WIB
Ekbis

Rumah Kopi Flores Jadi Tongkrongan Kreatif Kaula Muda Mudi Pancasila

 

Rumah Kopi Flores di Kabupaten Ende (Foto : ist)

Ende, Floreseditorial.com - Rumah Kopi Flores, begitulah pilihan nama yang berhasil disematkan Neni Manggo (42), seorang perempuan pegiat kopi sejati di tanah flores. Rumah Kopi Flores didirikan di Kota Ende, beralamat jalan Garuda, Keluharan Potulando, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, yang sarat petualang cinta kopi.


Sungguh, kemampuan perempuan (42) bernama Neni Manggo yang telah jatuh cinta terhadap dunia kopi berbuah menjadi luar biasanya, setelah ditengah pandemi, Neni berhasil menyulap halaman rumah menjadi tempat usaha kopi yang dinamakan Rumah Kopi Flores.


Bahkan, saking cinta terhadap dunia kopi, Ia rela melepaskan diri keluar dari cengkraman dan keterkungkungan kenyaman, banting stir, memilih terjun sebagai pegiat kopi.


Bagi dia, Pulau flores adalah sumber kopi yang melahirkan sejuta keunikan cita rasa aroma, seperti buah kopi yang subur nan harum mewangi disetiap musim menyingsing.


"Setelah saya keluar dari zona nyaman, saya menemukan kenyaman yang lebih nyaman dari zona sebelumnya, terlibat sebagai pegiat kopi berkebun kopi di tanah flores," ujar Neni.


Alhasil, setelah dia berani meminangi diri sebagai petani kopi, lantas dirinya berhasil menimba banyak arti dan makna tersirat, selama dia bertaruh hidup di ladang kopi.


Ternyata, kenyaman hidup yang paling esensial adalah terlibat bersama orang lain, sama - sama menaman kenyaman dan memetik hasil bersama. Itulah kenyaman. Bilang Neni


Jatuh Bangun Sebagai Pegiat Kopi


2018 lalu, setelah dirinya resign dari dunia pariwisata, Neni mendaulatkan diri bertarung murni sebagai petani kopi di kota dingin, Desa Wolowio, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Terhitung sejak itu menjadi catatan awal berkiprah sebagai pegiat kopi flores. 


Selama rentan waktu tiga tahun cukup lama, mulai dari 2018 awal hingga 2020 berjalan. Ia pun sukses menghasilkan biji - biji kopi yang berkualitas dari kebun yang dia rintis sendiri bersama mama - mama Wolowio, Bajawa.


Selama disana, Neni (42) tidak hanya memanggul julukan sebagai pegiat kopi oleh mama - mama tetapi selama bertandang di kebun kopi, Ia pun dikenal juga sebagai guru bahasa inggris di mata anak - anak usia dini kampung Wolowio Bajawa.


Alasannya, karena dari pengalaman selama berkarir di dunia pariwisata di Denpasar bali, menyebabkan, Ia bersedia menuangkan kemampuan bahasa inggris untuk anak - anak di kota dingin, kampung Wolowio Bajawa.


Kembali ke kopi. Setelah sukses berkebun, tidak sampai disitu, impian untuk membangun usaha seperti kedai kopi kaula muda - mudi kreatif terus menghantuinya hampir setiap hari. 


Tak tenggelam dalam mimpi, akhirnya Neni memutuskan kembali ke Kota kelahiran tempat ari - arinya ditanamkan. Kemudian, dirinya berhasil membangun kedai kopi bernama Rumah Kopi Flores di halaman depan rumahnya.


Watuata Coffe Adalah Brand Rumah Kopi Flores


Namun tidak hanya itu, dalam renungan panjang, perempuan (42) tahun itu memeluk branding yang sarat hostori yang diringkusnya dari cerita rakyat Wolowio, Bajawa, tempat kebunnya menunaskan kopi, bernama Watuata.


Brand Watuata Coffe bermuasal dari satu penggunungan yang berada diatas hamparan perkebunan kopi. Kisahnya menarik, konon diceritakan bahwa batu yang berbentuk manusia yang sedang menggendong anak bernama watuata.


Dari histori rakyat bajawa tentang kisah watuata diadopsi Neni Manggo menjadi branding kopi melekat di kebun kopi Desa wolowio, kecamatan bajawa, Kabupaten Ngada maupun melekat di Rumah Kopi Flores di Kota Ende, rahim Pancasila.