Iklan

 


FEC Media
19 Agu 2021, 16.10 WIB
News

“Tolong Bantu Kami, Anak Saya Butuh Kursi Roda”

Karena tak bisa berjalan normal, Rolan terpaksa dibantu teman-temannya agar bisa ke sekolah. (Foto: Ist)


Manggarai Timur, Floreseditorial.com - Claudius Rolan Emolse, siswa kelas satu sekolah dasar, asal Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan,Kabupaten Manggarai Timur,Nusa Tenggara Timur(NTT), hidup dalam keterbatasan fisik.


Rolan, demikian ia disapa teman seusianya, tidak bisa berjalan normal meski sudah berusia delapan tahun. Kakinya lemah, tidak bisa menahan beban tubuhnya untuk berjalan. 


Untuk menjalankan aktivitasnya sehari-hari, terpaksa ia menggunakan kedua tangannya untuk berjalan.


"Tumpuan kakinya sangat lemah dan tidak bisa bertahan untuk berjalan", tutur Damasus Rapas, ayah Rolan.


Saat dilahirkan pada tahun 2013 silam,  Ayah Rolan bersama ibunya Maria Dadas, tidak mengetahui kelainan fisik yang terjadi pada awal pertumbuhan anaknya.


"Pada awalnya tidak ada tanda yang menunjukan anak ini tidak normal. Namun memasuki usia tiga tahun ia belum bisa berjalan dengan lancar, tumpuan kakinya tidak terlalu kuat sama seperti pada awal dilatih untuk berjalan", tutur damasus

 

Untuk beraktifitas sehari-hari, ia terpaksa menggunakan kedua tangannya untuk berjalan. (Foto:Ist)



Setelah mengetahui adanya kelainan fisik pada anaknya, Damasus bersama isteri dan beberapa kerabat di kampungnya berusaha keras untuk menyembuhkan anaknya. Salah satunya dengan menggunakan teknik pengobatan tradisional melalui dukun.


Beberapa dukun pernah mereka datangkan untuk menyembuhkan Rolan, namun setiap usaha yang mereka lakukan selalu menuai kegagalan hingga pada akhirnya mereka menyerah.


"Sampai saat ini kami hanya bisa pasrah dengan keadaan fisik anak kami. Tolong bantu kami. Anak saya butuh kursi roda,” kata Maria Dadas, Ibunda Rolan kepada wartawan.


Hidup Pas-Pasan


Keadaan ekonomi keluarga Rolan sangat memperihatinkan. Ayah dan ibunya bekerja sebagai petani. Hasil pertanian yang mereka miliki sangat sedikit sehingga belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


"Hasil pertanian yang kami miliki sangat sedikit bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama setahun, apalagi kami tidak punya sawah sendiri",kata Damasus


Untuk menambah penghasilan, Damasus berusaha mencari pekerjaan sampingan menjadi tukang bangunan.

Pekerjaan sampingan itu ia lakukan ketika memasuki musim kemerau saat hasil pertanian sudah selesai dipanen.


"Kalau ada warga yang hendak bangun rumah baru,saya melamar untuk menjadi kepala tukang. Tapi tidak semua orang yang bangun rumah baru mempercayakan saya untuk kerja. Terkadang dalam setahun saya tidak dapat pekerjaan sama sekali", ujar Damasus dengan raut wajah sedih.


Meskipun kondisi ekonomi keluarga Damasus sangat memperihatinkan, mereka belum pernah mendapat bantuan seperti PKH dan Sembako atau bantuan sosial lainnya.


"Kami hanya terima dana BLT yang diberikan pemerintah melalaui desa,” kata Damasus dengan nada sedih.


Damasus berharap agar ada pihak yang mau membantu uluran kasih bagi mereka, khususnya pada anaknya yang mengalami keterbatasan fisik.