Model (Photo By CKKS Studio)

“Hanya orang tua yang egois yang menentukan arah hidup dari anaknya…!”

Begitulah sepotong kalimat awal sebelum kalimat-kalimat berikut menetas dari mulut kekasihku, Aleta.

Kata orangtuaku, itu merupakan bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya. Akh…! Kasih sayang? Kasih sayang orang tua itu tidak pernah mencedrai pilihan hidup anaknya. Bukankah orang tua hanya dapat membimbing pilihan hidup anaknya? Bukan untuk menentukan kan. Di manakah aku merasa bebas ketika masa depanku saja ditentukan oleh ayah? bisahkah aku bertahan menjaga hubungan perkawinan dengan pria pilihan ayah yang sama sekali tak kucintai?. Ayah…. Oh ayah…!

“Sejak pertama kali aku membantah ayah yang adalah raja di rumah kami, rumah bukan lagi tempat yang nyaman bagiku seperti aku masih teriak cengeng ketika kakiku terantuk sudut teras atau kerikil kecil di halaman rumah kami. Rumah bukan lagi tempat yang hangat ketika hujan dan angin di musim dureng tiba. Rumah bukan lagi tempat teduh ketika panas terik hendak membakar tubuhku. Aku benar-benar merasa asing dengan rumahku. Dengan ibu dan kedua saudaraku, apalagi dengan ayah.

Ayahku yang keras kepala dan ibuku yang menuruti apa saja yang diamanatkan oleh ayah, serta kedua sudarahku yang selalu diam saat ayah bicara adalah penyebab semuannya. Yaa…! Mereka.

Mereka adalah penyebab semuanya.

Kedua kakaku tidak lagi ramah serama sebelum aku membantah keputusan ayah. Ibu yang sebelumnya sering menghiburku, memberiku kekuatan dan menasihatiku sehabis ayah memarahiku pun kini diam. Mungkin karena aku terlalu keras kepala melawan perintah ayah untuk menjodohkan aku dengan Agus, pria pilihan ayah.

Tapi sebenarnya aku tidak keras kepala. Aku hanya ingin menentukan pilihan hidupku untuk menjadi aku, Aleta yang sesungguhnya. Bukan Aleta yang dipahat menjadi patung lalu menuruti saja tanpa protes ketika orang memindahkan atau memberi warna apa saja untuk hidupku. Aku ingin menjadi orang yang mandiri dan bebas. Yang berkomitmen dengan pilihan sendiri. Toh… aku telah bisa mencuci baju sendiri bahkan lebih dari itu. Aku bisa menggantikan baju-bajuku yang telah sobek. Aku seakan berada dalam penjara. Pernyataan yang sempat membuatku berpikir bahwa betapa kejam anggota keluargaku.

“Tetapi mungkin lebih tepatnya hanya ayah.

Ayah adalah penyebab semuannya. Ayah terlalu berkuasa atas kami. Sampai-sampai ibu yang adalah istrinya, juga diperlakukannya seperti kami anak-anaknya. Yang lebih mengherankannya lagi adalah tak pernah sekalipun kumelihat ibu membantah ayah secara terang-terangan.

Paling-paling ia hanya menghela napas panjang, terkadang sambil merunduk terkadang juga sambil menengada ke atap rumah, kalau-kalu ayah marah padanya. Lalu selebihnya dia kebanyakan membatin dan setelah itu diam-diam melaksanakan amanat ayah.

Aku sempat berpikir bahwa, mungkin lantai dan atap punya kekuatan tersendiri untuk menguatkan ibu. Atau mungkin ia punya rahasia tersendiri sehingga dia menuruti saja apa kata ayah? Tetapi satu hal yang pasti bahwa ibu terlalu takut dengan ayah! Seolah-olah ayah adalah raja atau hakim di keluarga kami.

Pernah suatu ketika, saat di rumah hanya ada aku dengan ibu. Aku bertanya kepadanya.

“Ibu itu hanyalah kerbau cocok hidung yang diikat oleh tali keegoisan ayah. Ibu memiliki tubuh tetapi isi pikiran ibu adalah pikiran ayah. Bukankah kita punya pikiran atau pendapat yang berbeda terhadap suatu hal, Bu? Termasuk pilihan untuk berkarier atau memilih lelaki yang kita cintai untuk menikah, misalnya.

Tetapi Kenapa ibu tidak pernah membantah ayah? Kenapa ibu begitu rendah diri sehingga memberi pengabdian yang luar biasa kepada ayah? Ibu itu istri ayah. Ibu kami. Kenapa ibu membiarkan dirimu dikuasai ayah? Ibu.…!” Aku terdiam sedangkan ibu tetap membisu. Tutur kekasihku, Aleta.

“Seketika ibu menagis dan dengan kalimat yang sangat hati-hati ia bercerita, “nenek moyang kita punya tradisi patriarkat yang sangat kental, Ta. Baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayahmu. Laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada perempuan. Ia harus meninggalkan orang tuanya ketika ia bersuami, dan harus tunduk dan mengabdi kepada suaminya. Tanah, rumah dan harta kekayaan lain itu diwariskan kepada anak laki-laki. Kau pun belum cukup tau Ta, tentang janji nikah bahwa, “istri harus tunduk pada suami”, Itulah sebabnya ibu mengabdi kepada ayahmu meski dengan tenaga dan sisa cinta yang terkadang kuat, terkadang pudar”, kata ibu.

Kata-kata yang keluar dari mulut ibu itu membungkam mulutku, sementara hatiku dicabik duri tanjam tradisi patriarkat seturut cerita ibu yang sampai sekarang masih dipupuk oleh keluargaku.

“Dulu, ketika aku masih gadis sepertimu, aku juga punya pilihan hidup lain seperti yang engkau alami saat ini. Namun, kakek dan nenekmu merancang pilihan lain sama sekali. Aku dijodohkan dengan pria lain yang sekarang adalah ayah kandungmu. Awalnya aku berontak sepertimu juga, Ta. Namun mau tidak mau aku harus menuruti saja meski bertentangan dengan hati nuraniku sendiri. Sebab, kakekmu mengancamku untuk membuangku atau memutuskan hubungan denganku jika aku tidak menuruti pilihannya”, lanjut ibu.

Kabut dan hujan menyatu di bola mata kekasihku, sebelum perlahan tetesan demi tetesannya meleleh pada belahan pipinya yang memucat. Wajahnya pasif, hatinya pedih, tangan dan lututnya gemetar, seantero tubuhnya lunglai dan dingin menyelimutinya. Perih. Hening yang cukup panjang menjedahi perbincangan kami. Perasaan haru membeku setiap detik yang hendak berdetak. Aku yang sejak awal mendengar curahan hatinya terus mematung di depannya sebelum aku merangkulnya dengan kehangatan yang paling hangat yang tercipta dari bara api cintaku padanya. Kukecup keningnya berkali-kali untuk mengembalikan darah dari urat-urat kepedihan menuju urat yang seharusnya. Di mana dan bagaimanapun aku tidak membiarkan dia terjebak pada masa lalunya yang amat pelik dan pahit. Getir dan pedih pada hatinya, pada jiwanya pada tubuhnya terasa seluruhnya padaku.

“Getir dan pedihnya hidupmu adalah mikiku juga”, Kataku dalam hati.

Tiba-tiba kata-kata yang lembut, pelan, mungkin dibaluti kecemasan yang sangat dasyat menyusup masuk menembus gendang telingaku. “Apa arti perempuan bagimu, siapakah aku bagimu?” Tanya kekasihku.

Aku diam dalam pelukkannya sambil berusaha memeluknya lebih kencang lagi. Antara dia yang tertimbun rasa ragu dan aku yang sedang berusaha menggusur keraguannya. Aku mengerti bahwa pertanyaan itu lahir dari hatinya yang terluka. Dari gundukan keraguan akan tradisi yang menjadi sekat pemisah antara kaum lelaki dengan kaumnya.

Tanpa rekayasa kata dan pemalsuan atas kalimat. Dari hati yang tulus dan mulut yang jujur, aku bisikkan kata per kata padanya. “Sayang, bagiku, orang yang paling penting di dunia ini adalah seorang permpuan atau ibu. Ia tidak pernah mendapat penghargaan karena telah membangun sebuah candi yang megah. Itu tidak perluh baginya. Namun, dalam dirinya ia telah membangun sebuah rumah megah yang tak tertandingkan oleh rumah megah di manapun di dunia ini. Sebuah rumah bagi benih kehidupan selanjutnya. Ia agung melebihi melaikat, sebab melaikat tidak mengambil bagian dalam suatu karya ajaib Tuhan untuk menciptakan orang-orang kudus baru bagi surga di tengah dunia ini. itu hanya ada pada seorang ibu yang adalah perempuan”, kataku.

“Engkau, bagiku adalah badai cinta yang bergelora dan ombak kasih yang berderu, yang menggoyakan dan menghempaskan kapal tradisi patriarkat yang telah membudaya dalam masyarakat kita. Mari kekasihku… Aku akan menjadi orang terdepan, yang membiarkan engkau dan kaummu menikam sampai mati tradisi patriarkat itu.
Biarkan kita menjadi pembangkang yang paling mulia atas tradisi yang membeda-bedakan status kita. Percayalah Ta, kasih dan cinta yang menyatukan kita adalah fondasi yang paling kuat untuk melawan segalah perbedaan antara kita.”

Penulis : Fenan Jabur, Mahasiswa STFK Ledalero

Komentar Anda?