Bahasa Dan Sastra

Kamis, 31 Mei 2018 - 16:34 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Foto: Hardy Sungkang

Foto: Hardy Sungkang

[Cerpen] Cinta Pertama di Atas Kapal

              Oleh : Hardy Sungkang

“Lidya, sepertinya ombak di laut lepas ini mulai hilang. Aku sepertinya pusing. Ingin ragaku mati di pundakmu”, kata Ritwan di sela-sela keheningan itu.

Lidya menjadi takut. Deru angin semakin kencang. Suara ombak semakin deras menampar dinding kapal.

“Apakah yang bisa kuperbuat untukmu Ritwan?” Aku lelah dan bingung. Angin malam semakin kencang. Para penumpang hampir terlelap. Kita saja yang masih menghidupkan mata di atas ranjang dalam kapal ini.

Perjalanan menuju tanah terjanji tempat mereka meraih cita-cita masih jauh. Sudah satu hari satu malam waktu yang terlewatkan. Sisanya satu malam. Hari itu adalah hari yang cukup menyiksa bagi Ritwan. Kolaborasi antara sikap pura-pura dengan rasa yang sesungguhnyapun belum berhasil. Lidya gadis belia itu tampak bingung dengan tingkah aneh Ritwan di atas kapal. Keduanya sama-sama menuju tempat tujuan yang sama dengan orientasi yang sama, yakni meraih cita-cita setinggi langit.

Ritwan memiliki rasa yang sangat kuat untuk memupuk hatinya Lidya. Namun, Lidya tidak mengerti tentang hal itu. Meski demikian, Ridwan tidak kehilangan kata-kata dan cara.
“Lidya, bukankah perjumpaan ini adalah cara Tuhan untuk menunjukan aku bersandar pada pundakmu? Ataukan ini adalah solusi akhirat sebelum menemukan solusi terbaik dari seluruh rangakain peristiwa hidup ini?”
Lidya tidak mengerti apa yang telah disampaikan Ridwan. Lydia tetap bingung dan semakin bingung.

Semenjak Lidya memasuki ruang kapal itu, Ritwan selalu memperhatikannya. Tatapan yang begitu tajam dan penuh rasa, membut Lidya tampak malu-malu saat membalikan tatapanya terhadap Ritwan. Hal itu adalah awal sebuah pertemuan. Tak salah jika cinta bermula dari tatapan. Saat tatapan menanam rasa, maka cinta pun tumbuh bak mentari pagi yang bersinar indah menerangi ruang dan waktu.

Seberkas cahaya dari jendela kapal membuat Ritwan serentak kaget dan langsung memberikan jarak dengan Lidya. Lidya tampak biasa-biasa saja. Para penumpang lain yang ada dalam kapal itu tampak serius dan menikmati perjalanan yang melelahkan itu. Seorang teman dekat Lidya mendekati Ritwan untuk berbisik tentang Lidya yang lugu dan asri itu. Desiran angin di atas kapal membuat belaian rambut sang gadis pegunungan itu tercerai berai.

Air matanya terus mengalir. Kerinduan terhadap orang tua dan keluarganya sangat dirasakan saat ia menangis tersendu sepi. Apalah daya dan arti semua kesedihan itu, demi nasib dan cita-cita yang tinggi semuanya pun akan dilalui begtu saja. Pedih. Sakit. Semua itu adalah perjuangan.

Rindu pada jejak pertama saat meninggalkan dan melepaskan debu di tanah kelahiran semakin terasa. Lidya tampak sedih. Raut wajahnya yang anggun tidak terlihat kembali. Lekukan senyum pada bibirnya takan terulang kembali. Lantas, Lidya rindu pada kampung halamannya.

Ritwan pura-pura tidak menghiraukan nasib gadis cantik itu. Ia berpura-pura asyik menikmati perjalanan. Di tengah lautan biru, Ritwan mulai mendekap Lidya dengan mengelus-elus rambut ombak gadis itu. Ia membaringkan kepala Lidya di atas pundaknya. Berbagai cara pun Ritwan lakukan demi mempersunting daya tariknya kepada Lidya.

Cerita senja dimulai kembali. Keduanya saling berbagi rasa rindu tentang keluarga dan kampung halamanya. Sambil meneteskan ir mata, Lidya tampak semangat menceritakan kehidupannya semasa di kampung. Ritwan pun merasa bahwa kesempatan itu merupakan momen yang tepat untuk mengisi hati Lidya yang sepi dan pedih itu. Ritwan tampak tegar dan respek terhadap situasi dan rasa yang dimiliki Lidya. Ia mendengarkan semua kisah Lidya sambil membelai-belai rambutnya. Lidya tampak nyaman dan nyenyak dalam pundak Ritwan. Ia merasa dirinya berada dalam pangkuan sang ibu. Namun, semua peristiwa tersebut, Lidya tidak tahu apa maksud dibalik semua itu. Ritwan tidak mau terburu-buru oleh rasa dan waktu.

Ritwan rupanya belum menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua isi hatinya. Ia pun menaruh seluruh rasa respek dan perhatiannya terhadap lidya begiu total. Totalitas yang sangat luar biasa. Pelayanannya pun sangat baik.
Senja kembali ke peraduannya. Gelimang bening air mata gadis itu pun pelan-pelan hilang. Tetapi rasa rindunya tetap melekat. Tinggal berapa jam lagi mereka sampai pada tempat tujuan mereka. Ritwan sesering mungkin melihat detakan jarum jam. Lidya pun tetap bertanya tentang jarak. Waktu takan pernah ia sentil. Jarak dari kampung halamannya selalu menjadi pertanyaan khas yang membosankan bagi Ritwan. Entahlah. Jarak dan waktu tetap jauh.

“Lidya, beberapa jam lagi kita akan sampai di tempat tujuan kita. Kegelapan alam di luar sana terasa lengang. Ada hal yang penting dan perlu aku katakan kepada kamu. Bukan tentang jarak dan waktu. Tetapi ini tentang rasa”, ungkap Ritwan dengan nada pelan pada telinga Lidya.

Lidya kaget dan serentak bangun dari pundaknya. Matanya yang bergelimang air mata menjadi tajam menatap Ritwan. Bibirnya yang tampak beku menjadi segar, sambil melemparkan senyuman manisnya pada Ritwan.
“Rit, rasa apa maksudmu?” tanya Lidya.
“Lid, rasa tidak dibatasi oleh waktu dan tidak pernah memperhitungkan jarak, demikianpun suasana. Rasa itu sebuah totalitas diri yang hendak melengkapi dirinya dengan pribadi lain, yakni kekasih jiwa. Karena itu, situasi dan kesempatan bukanlah sebuah kisah sejarah, tetapi sebuah anugerah yang ditakdirkan oleh Dia sang pemberi waktu dan situasi. Rasa itu adalah bentuk totalitas cinta saya dengan kamu. Saya mau kamu menjadi bagian yang terindah dalah catatan sejarah hidup saya”, pungkas Ritwan dengan panjang lebar.

“Tetapi Rit, aku takut. Takut ditelan oleh rasa kepercayaan dari orang tua dan keluarga. Takut dibunuh oleh kebencian dari keluarga. Kita ini masih memulai meletakan jejak. Mengapa kamu begitu cepat mengupas tuntas rasamu Rit?” jawab Lidya penuh tanya.

“Lid. Saya mengungkapkan ini pada awal permulaan jejak kita sebagai bukti bahwa aku tidak hanya menjagamu sebagai perempuan biasa. Tetapi, aku sudah berjanji dengan rasa dan hati untuk menjadikanmu sebagai orang pertama yang kutanamkan rasa. Biarkan dunia tahu bahwa aku telah menanam rasa dalam lahan hatimu,” kata Ritwan dengan argumentasi yang pasti dan mendasar.

Lidya tidak bisa berkata-kata lagi. Suasana hatinya menjadi terbunga-bunga. Riakan sedih dan sepinya menjadi riang. Ia pun langsung memeluk Ritwan dengan erat.
“Rit. Sejujurnya aku menunggu rasa itu”, desah Lidya dengan manja.

Keduanya pun saling memeluk dengan manja. Detik-detik perjalanan jauh mereka hampir selesai. Merekapun berjanji untuk memulai langkah yang sama secara bersama-sama. Mereka juga menyetujui untuk memulai hidup bersama. Mencari kost bersama dan tinggal bersama-sama.

Lidya tampak beban dengan tawaran Ritwan, tetapi entahlah, ia pun mau membuahi rasa yang ditanam Ridwan dalam dirinya. Ia mengingkari niat dan harapan kedua orang tuanya. Tetapi, ia pun menutup rahasia itu agar tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.

Waktu begitu cepat. Rasa semakin bertumbuh subur. Keduanya tampak mesra. Susah senangnya hidup mereka jalani secara bersama-sama. Mereka membiarkan waktu dan rasa berjalan tanpa beban. Mereka membiarkan waktu dan suasan yang menceritakan perkawinan rasa mereka. Entahlah, apakah hasinya? Pasti.

 

Penulis : Hardy Sungkang bekerja di STIKES St. Paulus Ruteng. Pencinta kata dalam sajak. Minat sastra. Tinggal di Ruteng.

2

Artikel ini telah dibaca 182901 kali

Baca Lainnya
x