Pemandangan dari padang Lelefui ke arah Gunung Mutis

Rasanya kurang lengkap ketika menjejakkan kaki di Pulau Timor tanpa menyinggahi Gunung Mutis. Itu yang saya lakukan setahun lalu saat berkunjung ke P Timor. Atas nama penasaran tingkat akut, saya dan sahabat Yuni, merencanakan perjalanan ke puncak Gunung Mutis.

Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis berada dibawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam NTT. Karena merupakan wilayah Cagar Alam yang khusus diperuntukkan untuk konservasi bukan wisata, kami harus mengurus SIMAKSI atau Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi di kantor Balai BKSDA NTT di Kupang. Pengurusan Simaksi mudah banget kok. Sampaikan surat permohonan yang memuat identitas diri dan maksud kunjungan dan Simaksi dapat diperoleh dalam 1-2 hari.

Perjalanan menuju Gunung Mutis dimulai dari Kabupaten Soe. Walau berjarak tidak seberapa jauh dari kota Soe, namun bersiap saja menghadapi medan jalan yang rusak disana-sini. Sepanjang 17 km, harus dilalui dengan susah payah. Ironi kota terdekat dengan Ibukota propinsi namun akses jalan masyarakat sangat menyedihkan.

Anyway, capeknya perjalanan 2 jam lebih terbayar ketika memasuki desa Fatumnasi di kaki gunung Mutis. Desa yang tenang, damai dan pastinya lebih dingin dibandingkan semua wilayah lain di Pulau Timor yang sangat panas. Umumnya wisatawan dapat menginap di penginapan Lopo Mutis yang dikelola oleh salah satu warga Fatumnasi. Saya dan sahabat saya ditawari untuk menginap di pos jaga kehutanan disana, karena kebetulan kami ditemani oleh om Polhut yang pernah bekerja di TN Komodo. Sekalian reuni, sekalian meramaikan pos jaga.

Perjalanan dimulai keesokan harinya dengan sepeda motor menuju padang Lelefui. Jalannya sangat menantang (baca: jauh lebih parah) dibandingkan 17 km yang kami lalui sehari sebelumnya. 30 menit adalah waktu yang lama sekali untuk sampai di tujuan. Namun, antusiasme kami tidak pudar demi melewati pemandangan yang luarbiasa. Kiri kanan jalan ditumbuhi oleh hamparan pepohonan ampupu (Eucalytus) yang berumur puluhan tahun serta vegetasi unik lainnya.

Setelahnya ada hamparan hutan dengan dominasi pepohonan pendek, tetapi semuanya dilapisi lumut. Sesekali kami harus turun dari motor untuk menghindari jalanan yang rusaknya sangat parah. Guide kami, dua cowok muda, kami akui kemampuannya lebih dari pembalap motor trail manapun. Tarif yang mereka pasang yaitu 100 ribu untuk membawa kami ke padang dan naik ke puncak menurut saya terlampau kecil dibandingkan dengan usaha menaklukkan jalanan itu selama 1 jam bolak-balik dengan sepeda motor yang sudah tua.

Setelah melalui jalan yang aduhai tadi, sampailah kami di padang pertama, Padang Lelefui. Pemandangannya sangat mendamaikan hati. Ingin rasanya tidur-tiduran, guling-gulingan dan berlari-lari seperti di film-film India. Namun target hari ini bahkan belum sampai setengahnya. Kami melewati padang dan sampai di hutan bonsai. Hutan ini sangat menawan, ditumbuhi oleh pepohonan pendek, dengan batang berlapis lumut dan pucuk daun merah muda yang sangat eye catching. Saya tidak tahu jenis pohon ini namun dengan melihat pertumbuhan batang yang menyebar mirip bonsai, pohon ini sudah berumur cukup tua. Terlalu banyak pertanyaan seperti apa jenis pohon ini? Apa yang membuatnya tidak bertambah tinggi? Pemandu kami tidak bisa menjelaskannya juga.

Selepas melewati hutan bonsai, kami masih harus trekking untuk melewati hutan hingga sampai di padang kedua. Padang kedua menyajikan pemandangan ke arah barat pada pegunungan dan hutan yang lebih rendah dengan beberapa kampung kecil. Anginnya luarbiasa kencang sehingga kami harus mencari persembunyian agar tidak terbawa angin dan jatuh ke jurang.

Tinggal satu lagi yang harus dilewati dalam perjalanan ini. Puncak Mutis. Perjalanan saya tempuh dalam waktu hampir dua jam. Kami menyusuri hutan tropis dengan pepohonan besar dan tinggi. Ada tiga kelompok vegetasi yang dilewati, yang pertama adalah kelompok pepohonan besar layaknya hutan tropis lebat lainnya. Kelompok kedua adalah pepohonan pendek dengan batang dipenuhi lumut, kelompok ketiga adalah hamparan pohon eucalyptus di puncak Mutis. Karena perjalanan menuju puncak konsisten menanjak, pendakinya juga sudah berumur jadi perjalanan saya lumayan lambat. Hehe..

Apa yang terlihat di dan dari puncak terlalu keren. Hal yang paling saya suka adalah hamparan hutannya, ketenangannya, keindahannya, keasliannya. Tidak ada orang lain disana selain saya dan pemandu saya. Situasi yang sulit terjadi di puncak gunung terkenal di Indonesia. Hehe.. Hal yang paling saya sesali adalah waktu yang terbatas dan tidak menginap. Perjalanan  ke puncak sepertinya lebih komplit jika berkemah.

Namun tak apalah, kurang lebih 8 jam naik dan turun kembali dari Puncak Mutis adalah moment yang takkan mudah terlupa, takkan hilang dari ingatan dan hati, momen untuk menikmati alam yang masih perawan, menghabiskan berjam-jam waktu terbaik bersama sahabat satu kaki, mengenal pemandu saya yang masih muda dan polos dan umur saya yang makin tua.

By: Kakalekap

Tinggalkan Balasan