Bahasa Dan Sastra

Jumat, 9 Agustus 2019 - 17:20 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Foto Ilustrasi: Viva

Foto Ilustrasi: Viva

Kado Ulang Tahun

Tidak terasa perjalanan mengitari matahari kembali ke titik awal. Satu kali putaran membutuhkan waktu sebanyak 365 hari. 30 Juni hari lahir dan hanya satu yang ku tunggu kado darimu. Ya kado, kau tahukan aku suka kado tapi tidak dengan kejutan. Kado yang kusuka memang kau kirim, besertanya kejutan yang kubenci menyusul. Kado itu datang lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Hari itu aku menerimanya begitu saja sebab itu darimu meskipun tanpa kata yang sempat terucap dan ada hati yang tiba-tiba hancur kerena kejutan yang hadir bersamanya. Semuanya berceceran seperti hujan, membasahi setiap inci tubuhku dan menyisakan duka yang dalam. Kalau diizinkan untuk mengucapkan doa permohonan, aku akan meminta kepada Tuhan agar Dia menghilangkan satu hari dari cakupan waktu yang aku terima dari-Nya. Hari itu, hari di mana aku menerima kado darimu, sebuah surat.

Salam hangat untukmu yang jauh di sana.
Kak, aku mencintaimu, tapi sepertinya kita tak bisa terus bersama. Saya lelah menjalani hubungan ini. Hubungan kita berhenti di sini saja. Maaf.

Tertanda,

Luxi


Empat tahun delapan bulan sudah kita lewati bersama sejak pertama kali kita bertemu. Masih lekat dalam ingatanku Juli 2014, kita mengukuhkan rasa yang ada di dalam hati untuk menjali kasih. Aku begitu menyukaimu. Kau adalah yang pertama, yang mampu menggetarkan hati dan jiwaku. Kau juga adalah yang pertama, yang mampu membuat aku terpana sejak pertama kali bertemu. Kaulah yang membuat tubuh dan kakiku menjadi lemah hingga tak mampu menopang dunia, saat pernyataan cintaku kau terima. Itu kau yang awalnya malu-malu dan kemudian menjadi begitu akrab, yang mengajarkan aku tentang pengorbanan, kerja keras, pantang menyerah, menghargai dan mencintai begitu dalam. Hingga akhirnya kau memutuskan mengirimkan kado sebagai pelajaran yang terakhir. Kado yang menghancurkan jiwa ragaku hingga berkeping-keping tetapi juga menyadarkan aku, bahwa yang bersama selama bertahun-tahun pun tidak selalu akan menemui takdir di depan meja altar yang suci .

Namamu Luxi. Nama yang begitu aneh untuk gadis secantik dirimu. Nama yang juga begitu misterius seperti sikapmu yang tiba-tiba berubah hari itu. Hari ketika aku menerima kado darimu. Sepenggal cerita yang aku dapat darimu, nama itu diberikan bapakmu, diambil dari empat huruf akhir nama bapakmu yang tidak kau ceritakan dengan jelas seperti apa lengkapnya. Nama Luxi yang bapakmu sematkan itu merupakan warisan bagi dirimu, yang harus kau sematkan juga kepada keturunanmu suatu saat nanti. Lucu juga ketika pertama kali kudengar ceritamu tentang nama itu, baru setelah setahun kita bersama, kutahu engkau memiliki nama lain, nama yang begitu manis menurutku, Ana. Aku akui perjalanan empat tahun lebih antara kita berdua bukanlah perjalanan yang singkat dan mudah. Tawa, canda, marah, sesal, kesal dan benci sering menghantui kita. Aku ingat engkau selalu berkata, bahwa “semuanya itu adalah cara agar kita bisa saling mengerti lebih dalam, menjadi lebih paham satu dengan yang lainnya.” Harapku saat mendengar itu, semuanya akan berakhir indah di meja altar, mengucap janji suci kemudian hidup mati bersamamu. Menjadi satu atas nama cinta dan menyata dalam nada kerendahan hati untuk saling menerima perbedaan di antar kita berdua. Katamu juga saat itu, “cinta kita mesti terus diuji biar nanti bisa memperoleh dasar yang baik dan kuat kalau-kalau kita menikah nantinya. Biar tidak mudah patah semangat ketika rintangan mulai menghadang, kemudian pergi meninggalkan yang lain sebab hidup tidak selalu tentang menjadi kuat dan bahagia. Hidup akan selalu berteman dengan sedih, supaya kita tahu rasanya bahagia, marah agar mengenal ramah dan sendiri agar kita menghargai kebersamaan.”

Agar kau tahu saja aku mencintai begitu dalam. Maaf jika tak pernah kukatakan dengan mulut ini, karena bagiku mencintai itu bukan tentang menyampaikan kata-kata indah, yang bisa membuatmu terbang tinggi, melayang hingga menembus langit ke tujuh, kemudian menjadi ratu atas para bidadari. Aku mencintaimu dalam diam. Mencintaimu dengan sikapku dan menyayangimu seperti diriku sendiri. Sekali lagi maaf, karena aku tak pernah mengumbar dan menceritakan tentang dirimu kepada orang lain. Bukan karena aku malu untuk mengakui keberadaanmu dalam hidupku tetapi karena demikianlah diriku. Semuanya kulakukan dengan diam. Aku ingin mencintaimu dengan caraku, mencintaimu dengan kebebasanku, hingga pada akhirnya menyerahkan kebebasan itu hanya kepadamu seorang.

Kado ulang tahun yang kau kirim padaku sebelum waktunya itu adalah pesan penghancur harapku padamu. Pesan yang mengambil semua yang aku dapat selama bersamamu. Tanpa ragu kau memutuskan untuk berpisah denganku, dengan alasan yang sejujurnya tidak dapat kucernai dengan baik. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi ketika kau putuskan itu semua. Aku juga tidak bisa menyalahkanmu. Kau adalah wanita yang bebas. Kau bisa memilih siapa yang kau anggap pantas untuk bersamanya. Tetapi yang pasti untukku, kepergianmu membuat semuanya hancur. Aku memang berbicar, tersenyum dan tertawa di depan orang-orang, tapi nyatanya semua hanyalah sandiwara. Hanya untuk menutupi dukaku atas kepergianmu, juga agar orang-orang tidak menjadi prihatin dan menunjukkan duka yang sama untukmu dan untukku.

Kau tahu Luxi, hari ini aku ke laut. Di sana aku tumpahkan semuanya sembil berharap pada semoga yang selalu kuucapkan sejak engkau pergi agar laut membilas semua lukaku. Menghempaskan semua beban dari hati dan pikirku. Hanya itu caraku untuk lari dari kenyataan sambil berusaha menerima semua yang terjadi dan mulai mencoba untuk mengatur lagi hati ini. Aku berjalan mundur sambil berusaha sekuat mungkin untuk menemukan lagi potongan diriku yang sempat tercecer karena kadomu itu, serta mulai menyusunnya kembali berharap utuh seperti sedia kala. Saat aku selesai menyiapkan rangkanya, malah di saat itu juga aku luluh lantak. Lebih buruk dari yang pertama. Pesan yang kau sampaikan itu ternyata bom waktu yang diatur sedemikian rapi hingga tanpa curiga semuanya menghilang ditelan waktu. Asal kau tahu saja Luxi, awalnya itu bekerja dengan cepat, semuanya dibawa pergi oleh laut ke dasar samudra. Aku merasa lega dan bebas. Tetapi ternyata itu hanya sejenak, luka yang kau tanamkan dalam diriku hari itu ternyata kembali. Laut menitipkannya kepada angin yang kemudian menyusup dan bersarang lagi di dalam diriku. Laut yang kucumbui sejak pagi hingga sore tadi ternyata tak mampu untuk membawa luka yang kau tanamkan dalam diriku. Laut tak mampu mengasinkan dan membekukan pedih ini. Kau menjauh dan menghilang. Aku kehilangan diriku, juga mereka. Mereka yang selalu di dekat kita. Mereka yang selau bercanda tentang hubungan kita berdua. Mereka yang juga merestui hubungan kita berdua. Mereka yang selalu berharap agar kita segera bersua di atas pelaminan. Semuanya menghilang bersama kado yang aku terima darimu. Mereka juga ikut mundur dan yang tersisa di sini hanya diriku berteman sepi, tanpa kawan untuk bercerita. Tanpa kawan untuk membagi resah dan gelisah. Hanya diriku yang masih hancur dan tidak tahu kapan semuanya bisa utuh kembali.

Jangan tanya lagi tentang hari ulang tahunku. 30 Juniku mengambang.

Eduardus R. Dolo (AD), biasa disapa Andi, dari Tenda Ruteng. Saat ini konsentrasi menulis cerpen dan puisi.

3

Artikel ini telah dibaca 338 kali

Baca Lainnya
x