Ilustrasi

*Oleh: Maria Asri Nurmayati

Entalah, kisah ini mungkin tak cukup waktu tuk kunarasikan panjang lebar. Mungkin saja tidak sampai pada titik klimaksnya. Jangan salahkan aku. Salahkan kisah yang kita emban tanpa jelas alurnya. Aku sendiri bahkan tidak tahu dari mana aku memulai mengisahkannya. Ini terlalu rumit. Aku bingung. Aku tak mungkin memulainya dengan momen pertemuan itu. Itu sama sekali tidak berkesan menurutku. Sangat tidak berkesan. Engkau menertawakanku saat itu, saat aku meneguk teh tanpa gula kesukaanku. Kau tidak tahu itu sehat kan? Engkau tertawa seolah-olah kita sudah saling kenal berabad-abad lamanya. Lalu, dengan bangganya engkau pamerkan kopi pahitmu yang kalau tidak salah sudah seperempat engkau teguk.

Lalu, engkau dengan pede mengatakan kopi itu begitu enak. Tampaknya engkau bertingkah tanpa rasa sungkan. Gaya sok kenal sok dekatmu kau menawarkanku untuk mencobanya. Pahit bukan? Jika itu adalah awal saat engkau berusaha untuk memulai menemukan diriku dalam kisah asmaramu, maka harapanya akhir adalah kebahagiaan yang tersirat dalam nalarku.

Jujur. Rasanya, saat itu aku ingin tertawa melihat tingkahmu yang begitu gegabah. Aku heran. Awalmu sepertinya meyakinkan. Inginya aku melampiaskan rasa mirisku dengan ekspresi tawaku. Aku ingin tertawa yang lepas dari tawamu. Sebetulnya engkau tidak pernah berpikir, kopimu bagiku adalah kopi modus. Kopi yang ditumpahkan dengan penuh hati-hati. Aku tahu kopimu akan berakhir dengan kepahitan yang mendalam. Luka itu pasti. Kopi modusmu adalah racun bagi tubuhku. Engkau harus paham. Tidak ada seorang pun yang ingin menjatuhkan dirinya ke dalam jurang, apalagi jurang rasa. Rasa itu hanya mungkin aku saja yang tahu. Sudah. Cukup aku saja. Aku tak mau rasaku mati konyol hanya karena kopimu.

Baiklah, aku akan memulai berkisah, berkisah tentang kisah yang pernah kita rajut meski tidak tuntas. Tidak sampai pada klimaks apalagi ending. Jangan salahkan kisahnya, tetapi salahkan kita yang menjadi pelaku dalam kisah ini.
Aku menganggapmu seperti malam yang datang membawa seribu bintang memancarkan kebahagiaan untukku dan juga untuk kisah kita. Engkau bagaikan mimpi yang datang lalu pergi tanpa jejak. Engkau membiarkanku berjalan terlantar di antara bintang- bintang malam. Entahlah, engkau yang kuduga kini datang menyembuhkan luka yang pernah ada. Mungkin saja. Engkau kuanggap sebagai sosok yang mampu membangkitkan kembali semangatku.

Engkau bagaikan kopi panas yang beraroma rasa. Melenyapkan beku rasa di lubuk nadiku. Hadirmu adalah rupaku. Jiwaku adalah nadimu. Karena semamangatmu menjadikankan aku sebagai wanita ekspresif dan ceria senusantara. Bukan lebai. Ini rasa yang berkata. Rasa tak pernah mati ditelan ampas kopi yang akan kita teguk bersama. Pancaran hadirmu bagaikan magma yang tercurah di sekujur tubuhku. Hal itu pun membuatku bangkit dan tidak mau jatuh kembali. Kalaupun aku jatuh, aku yakin paras dan perjuanganmu adalah masa depan kita. Engkau kuduga mampu membangkitkan kembali semangat dan niatku untuk hidup. Aku pikir hidupku akan lebih hidup karenamu. Entahlah.

Sangat disayangkan, semuanya berbanding terbalik dari apa yang kupikirkan. Kau sama saja menyakitkan. seperti kopi pahitmu itu. Engkau malah membuat luka di hatiku semakin menganga tak berbentuk. Hancur. Aku sama sekali tak percaya dengan gegabah awalmu yang sudah seperempat kuduga itu adalah lamunan. Engkau datang dan membuatku terluka secepat ini. Ingat. Aku belum siap. Coba engkau bayangkan bagaimana ekspresiku saat engkau menyodorkan cangkir kopi pahitmu? Di situ aku mulai tanya hati dan rasa. Tetapi, gaya dan caramu membuat aku tak berpikir panjang tentang waktu yang lama dan ketahanan rasa yang ada. Aku rapuh. Ragaku layu. Aku masih ingin menikmati kenyamanan yang kurasakan saat bersamamu meski tak setiap waktu.

“Mengapa waktu menjadi pengkhianat bagiku?”, tanyaku dalam hati.

“Ya sudahlah. Mungkin saja waktu belum merestu. Bahkan andaikan saja Tuhan yang kupuja itu bisa kujumpai langsung, pasti saya memaksanya untuk kembalikan aku pada sepi dan sendiri”, gumamku dalam hati.

Aku lelah. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana lagi. Waktu pernah kita diami tetapi momen tidak pernah kita ulangi. Meski bisa diulangi, tetapi rasanya berbeda.

Andai bisa berbalik arah, ingin rasanya aku kembali pada situasi di mana aku selalu merayakan kesendirian dalam kesepian. Aku ingin kembali pada masa dimana aku selalu bisa menciptakan kebahagian sendiri dengan caraku sendiri. Entah mengapa, karenamu aku seperti kehilangan sebagaian dari dalam diriku. Kehadiranmu ternyata bukan untuk menambah kepakan sayapku, malah kehadiranmu membuat sayapku patah tuk memulainya kembali. Sayap jiwaku. Pun nadiku.
Entah mengapa, aku merasa sepertinya bukan aku yang sekarang. Engkau terlalu pandai mengkreasikan luka berwujud air mata. Aku kehilangan banyak hal karenamu, serasa jiwaku melayang meninggalkan raga dan entah kapan kembalinya. Engkau tentu tidak bisa merasakan jadi aku, kan?? Sakit.

Saat ini, aku sedang bersanding dengan kenyataan pahit dan menyakitkan yang mau tidak mau harus kuhadapi secara gentle. Saat ini, aku sungguh berada dalam situasi yang aku sendiri tak tahu, tapi yang pasti ini terasa sangat mencekam. Mencekam. Kau tahu?? Mencekam!!!! Aku harus bisa berdamai dengan diriku sendiri agar aku bisa menghadapi dan menerima luka yang telah kau ciptakan atas nama cinta. Ini di luar dugaanku. Aku tak pernah merasa sesakit ini sebelumnya.

Sepanjang yang kuduga, aku akan menemukan suatu kenyamanan yang tak akan pernah kutemukan pada yang lain. Singkat kata, hanya kamu. Aku akan menghabiskan waktu tua bersamamu kelak hari nanti. Aku selalu dan akan selalu mencintaimu dalam suka dan dukaku, dalam tawa dan tangisku. Bahkan jika kau mau, aku mau berjuang bersamamu melawan perihnya arus kehidupan mulai dari titik nol. Dan aku yakin, itu akan terasa sangat menyenangkan. Kau mengerti?

Aku ingin kau cintai aku sepanjang hidupmu sampai jantungmu berhenti berdetak. Aku selalu ingin semuanya baik-baik saja meski ada kesalahpahaman yang tak dapat kita hindari. Aku berharap banyak hal termasuk kebahagian yang akan kita tuai, buah dari hasil kesalingan kita dalam cinta. Itu harapanku, itu inginku. Dan kau tahu, semuannya hanyalah ekspetasi belaka.
Apa mau dikata, semuanya mendadak hancur. Iya, hancur!!! Jadi, sekali lagi, aku tak pernah merasa sesakit ini. Aku tak pernah merasa sehancurnya ini sebelumnya. Aku juga tak pernah rapuh seperti ini sebelumnya. Sakit, kecewa, marah, kesal melebur jadi satu dan membentuk kepingan luka yang tak berbentuk hingga menyesakan dadaku bahkan hampir tak bernafas lagi. Ruang yang telah kusediakan untuk menyimpan luka tak cukup menampung kekecewaan yang kau ciptakan. Hancur berantakan. Engkau hadir membawa luka, dan pergi meninggalkan duka. Semudah itu kah kau?? Amarah dan tangisku tak cukup berarti untuk melampiaskannya.

Aku sungguh kecewa dengan kepergianmu, kecewa karena lupa memberitahukanmu bagaimana rasanya mencintai tanpa dihargai.

Tapi, sudahlah, mungkin terlalu berlebihan jika aku menyalahkanmu secara sepihak. Bagaimanapun juga ini salahku. Aku yang terlalu amat sangat mencintaimu tanpa proposional. Aku yang terlalu percaya diri ambisi mendapatkan kebahagiaan darimu. Aku terlalu merasa engkau adalah segalanya. Iya, aku yang salah, engkau pantas untuk pergi. Engkau pantas hilang. Menghilang diterpa waktu dan cerita. Mungkin aku bukan wanita yang tepat untuk engkau ajak berjuang. Aku tak pantas untuk engkau hargai. Dan memang hanya aku yang bisa menghargai diriku sendiri. Aku harus iklas dengan kepergianmu. Setiap kita pernah mencintai orang yang salah, tapi percayalah, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik karena belajar dari kesalahan. Memaafkan diri sendiri mungkin jalan terbaik untuk kita saat ini.

Untuk kau, selamat berjuang kembali mengais kisah yang lain, jangan lelah mencari pengganti yang terbaik. Aku yakin kau bisa. Aku suka caramu berjuang. Semoga orang tuamu selalu sehat. Oh iya, kau tahu?, semenjak kepergianmu, ucapan selamat bermalam Minggu tak lagi berkesan. Sungguh!!

*Maria Asri Nurmayati Gadis pemuja Gelap. Pencinta Sastra. Alumni STKIP St. Paulus Ruteng.

Tinggalkan Balasan