Bahasa Dan Sastra

Selasa, 19 Maret 2019 - 10:13 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Foto Ilustrasi: Viva

Foto Ilustrasi: Viva

Kumpulan Puisi Irno Januario

Jalan Pulang

Di hadapan laut malam ini
Kutemukan jalan pulang
menuju kenangan
Dan kecipak ikan ikan kecil itu
Adalah aku
yang takut diseret arus
pulang menuju palung, hatimu.

Helai lembut angin pantai
Menerbangkan aroma tubuhmu
Rindu yang serupa paru gagak
Mematuk matuk kenangan
yang membusuk di kepala

Sembari menyudahi rindu
Aku melihat, laut dan angin menjadi sahabat
Gemar menyelaraskan tabiat
Antara kepergian dan kepulangan Kenangan adalah pengulangan
Dari satu ke lain tujuan

Gadis Desa

Di matamu, kutemukan
kedamaian yang hampir hilang
angin rekah dan tanah basa
kesejukan kampung halaman

kucumbu ranum bibirmu
sembari mencari cari
kemanakah perginya
nyanyian nyanyian burung
akar akar pohon purba
semua tinggal cerita
membusuk di bawa bangunan megah
tubuhmu

oh, tubuhmu serupa ranggas tanduk rusa
dipajang di dinding rumah
sedang para tetua menangisi sejarah
berburu adalah membunuh

kau tinggal hanya pesona
yang terlampau dini
membuka gerbang kampung
lalu menutupnya kembali
jejak jejak yang tak lagi dikenal atau sengaja dilupakan

Punggung Seorang Pemulung

karung sampah di punggungmu itu
seolah mengajak hatiku
untuk pergi menjenguk masa lalu

ketika hujan turun dan aku mengenang
di suatu senja, aku pernah jatuh cinta
pada kuyup basamu

siapakah aku kini
anak seluang mata yang enggan pulang
yang lupa menjadi diri sendiri
pohon asing yang tumbuh miring
pada ladang kecil di tanah moyang

tong tong sampah menampung rinai hujan
di hatiku, genangan itu berubah jadi sungai
yang mengalirkan mimpi mimpi
menuju samudra
dunia yang tidak seluas isi kepala

Pantai Perahu

Segelas kopi bali
Menatapku penuh tanya:
Apa lagi yang kau cari
Setelah menyeruput kenikmatan ini?

Sedang di hadapan mataku
Gemuruh ombak mengabarkan kerinduan
Jejak kaki raja raja,
Sejarah masa lalu

Di sini, duluh, daun daun pandan menyejukan ikan ikan
perahu raja raja
Mengabarkan kemewahan
Serupa bangunan itu
Meneduhkan kepalaku

Di atas pasir putih
Secangkir kopi bali
Tandas meninggalkan pesan
Pantai perahu, adalah masa lalu dan rinduyang paling sendu.

Laron dan Pemulung Tua

Jalanan kota telah sepi
Tinggal derap langkah kaki pemulung tua
Mencari jati diri, sambil
Menghitung jejaknya sendiri

Sebijak itukah ia bekerja?

Sedang kerlip cahaya lampu jalan
Adalah gerbang menujuh kematian
Laron-laron yang rusak sayap
terkapar-kapar di tepi jalan

Sesingkat itukah mereka berpesta?

Lalu aku mendengar suara
Dari arah-arah yang entah
Mungkin dari piring makan pemulung tua
Atau dari sarang-sarang laron
Lubang-lubang hitam yang gersang

Suara-suara yang mengajak pulang
Berjalan menujuh diri
Bermimpi seperti laron
Dan bertarung seperti pemulung

Bulan, Awan, dan Angin

Siapakah yang pernah mengusik bulan?
Selain kabut-kabut hitam, yang tabah dihempas angin.

siapakah yang pernah mengusik awan?
Selain hembusan angin, yang tiada pernah menjumpai letih.

siapakah yang pernah mengusik angin? selain berat beban kabut basa, tubuh pohon dan bangunan perkasa.

Bulan, awan dan angin adalah mata, hati dan kepala kau.
dalam usik-usik yang paling sering, seirama.
Kekalahan bagi yang satu adalah kemenangan bagi yang lain,
keseimbangan!

Perempuan Malam

Putih bersih dan merah cerah
Pahamu di antara cahaya
Menyolok mata selaksa pemuda

Lupakah ibu memberi selendang?
Menambal kain celana yang hilang
setengah

Tubuhmu serupa jagung di ladang Udarah panas meninggalkan gerah
Tanah-tanah meranggas
Letih menanggung rindu
Air mata Tuhan

Demi langit yang kurang bersahabat
Kau mencari hujanmu sendiri
Dari mata-mata yang mengintai
Merah cerah pahamu

Udarah panas kota ini
Lebih panas kau di kepalaku
Hujan di rumahmu
Aku gerah karena rindu

Risau

Yang dirisaukan hati kepada angin adalah kepahitan-kepahitan
yang mungkin, muncul di permukaan.
Semisal doa dan keringat saja,
tiba-tiba berubah rupa.
Menjelma menjadi air mani hasil masturbasi
Berkeringat-keringat mencumbuhi bayang, lendir berahmat hilang terbuang.

Yang dikirimkan angin kepada hati adalah cahaya-cahaya yang reka.
Yang sejak dahulu kalah, dikirim Tuhan kepada jiwa.

Lalu
Pada taplak sebuah meja
Bayang-bayang kemungkinan
Tergeletak seperti embun
Diam dan dingin
Membeku dalam tubuh puisi

Penjual Nasi Jinggo

Pagi-pagi sekali
Kau bersiul di hadapan tungku
Lagu-lagu yang rapuh
Dinyanyikan dengan merdu
Serupa kidung surgawi
Doa dan air mata yang suci

Lekaslah pergi
Mengejar matahari pagi
Di emperan toko dan jalan-jalan kota

Walau kau dianggap tiada
Oleh mata-mata pendusta
Yang menerima lupa
Masa indah bersama ibunda
Di depan tungku rumah mereka.

Bali,18 Maret 2019 Penyunting: Rifand Apur

Artikel ini telah dibaca 127 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya