Bahasa Dan Sastra

Kamis, 21 Maret 2019 - 13:44 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Model (Theovillus Photography)

Model (Theovillus Photography)

Kutanam Rasa Pada Bibir Kusammu

Cerpen Hardy Sungkang*

Pada setiap kali hempasan ombak, aku selalu kaget dan merasa ramba rindu. Entalah. Pada bentangan pasir panjang di bibir pantai itu, aku dan gadis asli berdarah Cibal masih menyimpan kisah. Kisah tentang waktu ceria bermain ombak, berkejar-kejaran, membunuh teriknya matahari dengan menguburkan hidup-hidup di pasir. Terkesan lucu dan rindu. Memang, di atas terikan panas alam yang terpancar deras dari magma Gunung Inerie dan Tanjung Kuda membuat kulit dan mata binar gadis manjaku menjadi sayup, bukan kaku.

Di bibir pantai pasir putih itu, kutuliskan di ujung pasir saat hempasan ombak terakhir tentang masa yang pernah kami rilis. Ada cerita yang tersimpan begitu mendalam. Semuanya kami memulai dari sana. Rasa dan permulaan. Tentang mempertahankan hubungan dan tentang perencanaan foto prewedding. Pokoknya, pada bentangan pasir panjang pantai putih itu, gadis manja bernama Oktaviana itu mulai mengisahkan tentang sandal swalownya yang putus, tentang beng-beng yang bertuliskan “rasa adalah sepajang masa”.

Desiran angin dan kilauan pasir putih pantai panjang membuat kami menyatu dalam satu nadi yang terpatri menjadi satu jiwa yang tiada taranya. Angin pantai Mbolata mulai membelah ombak begitu deras. Panasnya sungguh dashyat. Kami pun mengalah. Mencari teduhan. Di bawah pohon, di bibir pantai kusam itu, gadisku, Oktaviana mulai merebahkan kepalanya di pundakku. Tangannya memegang erat telekungku. Matanya tersayup kaku. Ia lelah. Raganya lemah. Sudah. Pasir dan hempasan angin adalah saksi bisu yang selalu menyimpan sejuta rindu dan rasa.
“Jesu, bukankah kamu tahu kalau raga dan rasa ini terlalu mendalam tuk tanam dalam kedalaman hatimu. Pada pundakmu akan kulepaskan rasa sepanjang hayat ini. Pantai pasir putih ini sebetulnya menunjukan kepada kita betapa kedalaman rasa ini tidak bisa diukur,” pintah Oktaviana dengan suaranya yang pelan.

“Entahlah Oktaviana. Aku paham. Rasa itu seperti hempasan ombak yang menampar pasifnya pasir putih ini. Perlu kamu tahu Oktaviana, serpihan pasir ini menggambarkan serpihan rasa ini yang selalu menempel pada dinding hatimu,” jawabku.

Sepertinya gemuruh ombak semakin kencang. Tebaran pasir hampir tak karuan. Bukan mengamuk. Tetapi, alam ini sebetulnya bergembira saat melihat aku dan Oktaviana merangkai kata menggambarkan tentang rasa di pelataran pasir putih ini.

Serentak pecah. Suara mengamuk dari ujung Selatan pantai itu. Entah mengapa. Tamparan ombak pada tebing padang Tanjung Kuda terasa begitu pekik. Oktaviana kaget, aku pun. Tidak lama kemudian suara bocah-bocah pantai terdengar dari belakang kami. Mereka sedang mencari lukisan-lukisan manik pada batu-batu di bibir pantai itu. Tanpa baju. Kulit hitam pekat. Rambut keriting. Mereka bergembira dan bersenang tanpa beban. Mereka membawa banyak plastik. Plastik jajan. Mereka juga masing-masing membawa sepotong kayu. Kami tidak tahu untuk apa mereka membawa banyak plastik dan kayu tersebut. Entahlah. Mereka adalah generasi pantai yang mempunyai nyali dan cara untuk menikmati dan merusak keindahan bibir pantai ini. Kami hanya mengamati saja.

Aku dan Oktaviana semakin menikmati keindahan bibir kusam itu. Sedikit merasa sedih, melihat bibir pantai yang sebetulnya indah, tetapi sudah dicederai bahkan diperkosa oleh ketamakan manusia yang kehilangan cara dan sadar untuk merawat sebuah keindahan. Oktaviana serentah diam dan kaku. Aku pun tidak mau mengganggu kenikmatan Oktaviana saat menatap bocah bermain, melihat ombak bergelora, melihat hijaunya padang Tanjung Kuda, serta menatap diriku yang sedikit sibuk mengumpulkan sampah-sampah di bibir pantai itu.

“Jesu, aku menemukan luka pada bibir pasir putih ini. Luka ini tidak langsung ada begitu saja. Aku tahu penyebabnya”, serentak Oktaviana mengatakan hal itu.
“Lantas? siapakah aktornya? siapakah sutradaranya?”.
“Lihat. Mereka-mereka itu adalah aktornya. Datang tanpa baju. Lalu, mengambil batu keindahan pantai ini. melepaskan sebagian kantong sampah mereka. Lihat. Mereka itu aktornya”.
“Lalu, Siapa sutradaranya?”, serentak kubertanya pada Oktaviana. “Sutradaranya adalah orang tua mereka. Percaya atau tidak”.
Mengapa?
“Anak-anak itu datang mencari batu hiasan itu pasti disuruh oleh orang tuanya. Mengais nasi lalu menghabisi alam. Saya yakin, anak-anak itu dipekerjakan. Mungkin saja orang tua mereka di rumah, lalu menyuruh anaknya untuk mencari uang. Itu kemungkinan. Tetapi itu kejam”, babar Oktaviana karena perihatin.

Terjadi diskusi hangat di antara kami berdua. Karena kecintaan terhadap alam dan pasir putih di bibir pantai pasir putih itu, maka kami pun menjadikan itu sebagai permulaan rasa dan jatuh rasa. Karena alam yang begitu menawan membuat kami mengalir merangkai kata tentang rasa. Meski rasa ini tertuang di atas bibir pantai yang kusam ini, tetapi yakinlah rasaku akan kutumpahkan di atas bibir manja gadis berdarah Cibal itu. Itu pasti.

Begitu lama kami menikmati olengnya rasa di atas bibir pantai kusam ini. Tidak terasa senja hampir kembali ke peraduannya. Angin senja sungguh dinikmati. Desiran yang begitu manja. Tampak belaian rambut pikal Oktaviana membuatku menjadi betah tak mau pulang.

Aku lebih betah menatap Gadis pujaanku itu dari samping. Ada alasanya. Aku suka menatapnya dari samping, karena aku yakin keindahan alam menjadi lengkap ketika bersanding dengan dirinya. Keindahan bibir pantai itu menjadi lebih indah ketika sekaligus menatap manisnya bibir Oktaviana.

Moleknya padang Tanjung kuda tidak menarik kalau aku melihatnya berada di belakang gadisku. Mengapa? Aku sungguh yakin, karena aku tidak menemukan keindahan alam yang luas karena tertutup dirinya. Lalu, mengapa aku selalu suka memandang alam dan keindahanya itu harus sambil menatap gadisku? Aku tahu, alam dan isinya harus ada penyatuan. Keindahan alam padang Tanjung Kuda menjadi lebih indah dengan molek tubuh gadis manisku.

Entahlah, senja telah hilang. Malam hampir mendekap. Kami pun bergegas pulang. Genggaman tangan Oktaviana selalu menjadi kekuatanku untuk memulai dari sebuah kegelapan malam. Kegelapan itu adalah permulaan hidup saat kami menjalankan ikatan diri di atas janji dan pertobatan.

*Hardy Sungkang adalah pemulung kata. Hardy Sungkang telah menyelesaikan satu buku kumpulan puisinya yang berjudul SAULUS. Tinggal di Ruteng

Artikel ini telah dibaca 118 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya